BOPM Wacana

Tiga Teknologi Ini Digunakan untuk Memburu Teroris

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Nurhanifah

Sumber Istimewa

Ada tiga teknologi baru yang disiapkan Indonesia, Amerika, dan Cina untuk menangkal teroris. Masing-masingnya punya bentuk dan caranya sendiri.

Aksi terorisme menjadi ancaman berbagai negara di dunia. Ratusan nyawa menjadi korban aksi tersebut. ISIS mengklaim bertanggung jawab atas sebagian besar aksi tersebut meski hanya menunjukkan klaim di sosial media maupun kantor berita.

Seperti yang dilakukan oleh kelompok pendukung ISIS, Yaqeen Media, yang menyiarkan aksi serangan di Jembatan Westminster Inggris melalui Telegram sebelum serangan tersebut. Serangan yang berlangsung pada 22 Maret ini akhirnya menewaskan 4 orang.

“Hari ini kami melawanmu di negeri kami, dan besok di negerimu, dengan izin Allah. Tak lama lagi, serangan dengan kendaraan akan terjadi di jalan-jalan kalian, dengan izin Allah,” begitu mereka menyiarkannya.

Kemudian, kantor berita kelompok Amaq juga menginformasikan serangan dan penyanderaan masyarakat di Melbourne Australia pada 5 Juni di Melbourne, Australia. Dilakukan oleh seorang tentara ISIS sebagai tanggapan atas seruan untuk menargetkan subyek negara-negara koalisi, seperti dilansir The Guardian.

Tahun ini, terdapat delapan aksi terror yang dilakukan oleh ISIS. Aksi tersebut yaitu Serangan di Klub Malam Istanbul pada 1 Januari dengan 35 tewas, insiden truk maut di Swedia pada 7 April dengan 4 orang tewas, dan serangan di Stasiun Kereta Bawah Tanah Rusia pada 3 April dengan 10 orang tewas.

Selain itu, Konser Ariana Grande di Manchester juga diserang pada 23 Mei dengan 22 orang tewas, ledakan di Kampung Melayu Indonesia pada 24 Mei dengan 5 orang tewas, dua insiden berdarah pada London Bridge dan Borough Market di Inggris pada 4 Juni dengan 7 orang tewas.

Sebagai pencegahan masuknya aksi pengeboman oleh teroris, Indonesia melalui PT Angkasa Pura II menggunakan Closed Circuid Television (CCTV) pada Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Saat ini Terminal 3 telah terpasang 200 CCTV di berbagai titik strategis.

CCTV ini memiliki kemampuan mendeteksi barang penumpang yang ditinggal dalam kurun waktu maksimal tiga menit. Sensor akan otomatis menyala serta diteruskan ke pihak pengamanan untuk dilakukan pengambilan serta pengecekan pada barang tersebut.

Selain itu, CCTV ini dapat mengenal seseorang yang fotonya telah diunduh ke dalam komputer.  Sensor akan diteruskan ke pihak pengaman ketika melihat orang seperti di foto komputer untuk ditindaklanjuti.

Kehebatan CCTV ini dijelaskan Direktur Operasi dan Teknik Angkasa Pura II Djoko Murjatmodjo  pada Selasa (25/4), seperti dikutip dari Kompas.com.

Jika Indonesia memasang CCTV sebagai upaya memarangi teroris, Amerika Serikat (AS) memilih memodifikasi Rudal Stringer untuk meningkatkan kinerjanya sebagai senjata andalan. Stringer modifikasi ini dikembangkan oleh tim Angkatan Darat AS dan Raytheon sebuah perusahaan teknologi asal New Jersey yang mengkhususkan diri pada pasar pertahanan sipil dan cybersecurity di seluruh dunia.

Rudal Stinger merupakan sistem pertahanan udara ringan dan mandiri yang dapat dengan cepat digunakan oleh pasukan darat dan platform militer. Senjata ini pernah berhasil menjatuhkan helikopter serang Hind dari Rusia pada 1980-an. Senjata ini sudah terbukti tangguh dalam empat konflik besar dan sekarang dikerahkan di lebih dari delapan belas negara dan untuk empat layanan militer AS.

Rudal Stringer memiliki sistem komputerisasi yang dapat menganalisa target meski berukuran kecil. Sebelumnya, data berupa ukuran dan bentuk target akan dimasukkan dalam processor Stringer.

Pada saat target yang telah dimasukkan berada dalam radius 3 km, sensor inframerah yang terbuat dari indium antimony akan mendorong rudal menuju sasaran. Bobot Stringer sebsar 15kg, sehingga dapat dioperasikan oleh satu orang.

Stringer biasanya dilengkapi dengan hulu ledak berdampak langsung, yang sesuai untuk target yang lebih besar seperti rudal jelajah dan pesawat terbang,” kata Kim Ernzen, Wakil Presiden lini produk Land Warfare System Raytheon, sebagaimana dikutip dari Daily Mail.

Nampaknya Cina juga tak mau kalah, Caihong dipersiapkan untuk melakukan pengintaian dengan jarak yang tinggi dibandingkan pesawat pengintai pihak militer AS.

Caihong adalah drone berbentuk pesawat tenaga surya dengan panjang 14 m dan lebar sayap 45 m. Drone yang dikembangkan oleh China Academy of Aerospace Aerodynamics berhasil memecahkan rekor ketinggian hingga dua puluh ribu m atau dua kali ketinggian pesawat komersil. Selain itu ia mampu terbang dari pagi dan kembali pada malam hari.

Shi Wen, Kepala Pengembangan Pesawat Nirawak China Academy of Aerospace Aerodynamics, mengatakan rekor ini telah membuktikan ketahan Caihong di udara. Sebelumnya rekor drone dipegang oleh Beihang University di Beijing, Nanjing University of Aeronautics and Astronautics di Jiangsu dan Northwestern Polytechnical University di Shaanxi, ketiga universitas ini bekerjasama menghasilkan drone dengan jarak penerbangan 10.000 meter.

Caihong diperkirakan dapat memerangi teroris, sebab pada ketinggian 20 meter tidak ada awan yang menghalagi pengamatannya. Jadi semakin tinggi ia terbang maka semakin banyak hal yang dapat diamati. Jika sistem tenaga surya pada drone dalam keadaan baik maka bahan bakarnya dapat terisi meski sedang dioprasikan.

Selain itu, Caihong terbilang andal dibanding drone militer bertenaga sel bahan bakar yang hanya mampu terbang di ketinggian maksimum 8.000 m. Bahkan, beberapa pesawat pengintai militer seperti Northrop Grumman RQ-4 Global Hawk di AS hanya mampu mencapai ketinggian 18 ribu m.

Berbagai persiapan ini dilakukan oleh negara. Mulai dari kebijakan hingga teknologi dengan harapan negaranya tak akan menjadi korban terorisme berikutnya.

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4