BOPM Wacana

Chloë Moretz dan Film Remaja yang Cengeng

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Aulia Adam

Judul : If I Stay
Sutradara : RJ Cutler
Naskah : Shauna Cross
Pemain : Chloë Grace Moretz, Jamie Blackley, Stacy Keace
Tahun rilis : 2014

Kalau The Fault In Our Stars (TFIOS) (2014) bisa jadi film adaptasi yang manis, sayang If I Stay yang novelnya memborbardir kesedihan dengan linangan air mata gagal diinterpretasikan jadi film bagus. Yang ada hanya si cantik Chloë Moretz dan film remaja yang cengeng.

Adam mengajak ngobrol tubuh Mia yang terbaring kaku di dipan rumah sakit karena koma. | Sumber Istimewa
Adam mengajak ngobrol tubuh Mia yang terbaring kaku di dipan rumah sakit karena koma. | Sumber Istimewa

Chloë Grace Moretz, si aktris cilik berbakat sudah jadi remaja dan mengejutkan orang-orang dengan penampilannya sebagai si gaib Carrietta di film daur ulang: Carrie (2013). Di film itu, Moretz berhasil meyakinkan penontonnya bahwa ia adalah gadis aneh berkekuatan telekinesis yang menyeramkan. Berhasil membuat orang-orang sadar kalau kemampuan aktingnya belum lenyap ditelan pubertas.

Kali ini ia muncul lagi dalam karakter berbeda di sebuah film drama romantis. Berusaha meyakinkan kita lagi bahwa ia akan jadi mega bintang yang akan terus kita lihat di film-film Hollywood berikutnya.

Sang aktris memerankan Mia Hall, seorang pemain selo yang juga gadis kurang populer di sekolahnya. Mia adalah anak dari seorang ayah bekas musisi, dan ibu yang dulunya groupie band rock sang ayah. Kedua orang tuanya begitu rock, sehingga Mia merasa salah terlahir di keluarga itu. Sebab ia adalah penggemar sejati musik klasik. Penggemar sejati Ludwig van Beethoven.

Sebab itu pula, Mia memilih selo sebagai alat musiknya. Ia canggung dalam keramaian, dan nyaman bila memutar album Beethoven di kamarnya sendirian.

Namun ia bertemu dengan Adam (Jamie Blackley), rocker tampan yang diam-diam naksir dirinya. Latar belakang musik Adam yang mirip dengan kedua orang tua Mia, membuat perjalanan cinta kedua remaja ini tak perlu disandung masalah restu orang tua. Keduanya melenggang santai sambil bermesra-mesraan di teras rumah Mia. Bahkan Adam disambut ramah sang ayah saat tahu kalau Adam punya album band-nya. “Youre the one!” kata Denny, ayah Mia yang diperankan Joshua Leonard.

Tapi konflik film ini memang bukan di kisah percintaan Mia dan Adam, setidaknya bukan itu yang awal film ini sajikan.

Di menit kedua belas film diputar, tentu setelah sedikit intro yang mengenalkan Mia dan keluarganya yang keren, adegan pokok film ini disajikan. Mia sekeluarga mengalami kecelakaan mobil di tengah jalanan bersalju.

Ibunya yang diperankan si keren Mireille Enos, tewas di tempat. Ayahnya mengalami pendarahan di kepala. Sementara adiknya sadar, tapi kemudian pingsan. Mia? Ia sendiri siuman jauh dari tubuhnya terbaring kaku. Rohnya keluar dari tubuh. Ia terjebak antara hidup dan mati.

Dan adegan di film kemudian diputar maju-mundur. Kita akan disuguhkan cerita manis hidup Mia Hall dan keluarganya yang keren. Tak lupa, kisah cintanya dengan Adam Wilde yang begitu romantis dan… manis.

Sulit untuk tidak mengaitkan film ini dengan TFIOS, film drama romantis yang baru-baru ini sebentar saja sudah jadi Box Office di Hollywood sana. Diperankan Shaillene Woodley dan Ansel Elgort, film yang juga diadaptasi dari novel laris ini berhasil menarik perhatian penontonnya di tengah sajian film-film bergenre serupa: fiksi fantasi.

Kehadiran If I Stay yang baru muncul setelah TFIOS, bisa saja dinilai sebagai latah baru Hollywood menyajikan film drama romantis remaja. Apalagi, sutradaranya RJ Cutler kurang berhasil menerjemahkan buku adaptasinya, seperti keberhasilan Josh Boone menggarap TFIOS.

Mia dan keluarganya makan bersama. | Sumber Istimewa
Mia dan keluarganya makan bersama. | Sumber Istimewa

Alur maju-mundur di film ini tak rapi dibuat Cutler. Ia juga tak pintar menyisipkan drama di saat yang tepat, misalnya saat Mia tahu kalau kedua orang tuanya meninggal. Atau saat Teddy, adik Mia satu-satunya juga tewas karena pendarahan di otak. Mungkin, latar belakang Cutler yang merupakan sutradara film dokumenter bisa jadi jawaban kekeliruan ini. Walhasil, adegan yang harusnya bisa menghantam penonton dengan drama disajikan datar-datar saja oleh Cutler.

Beda dengan TFIOS yang punya sedikit saja adegan dramatis, tapi semuanya bisa menohok penonton di tempat.

Beruntung, dekat-dekat penghabisan film, ada Stacy Keach yang memerankan kakek Mia. Ada adegan Stacy berdialog dengan tubuh kaku Mia yang koma. Ia meyakinkan Mia bahwa Mia bisa saja meninggalkan dunia ini karena ketika ia bangun, ada banyak hal yang telah meninggalkan Mia: ayahnya, ibunya, dan adiknya. Stacy berdialog sambil menangis. Dan di sanalah penonton dihantam.

Tapi, dari begitu banyaknya kesempatan untuk menghantam penonton dengan adegan haru, hanya satu yang berhasil diterjemahkan Cutler.

Keberuntungan Cutler lainnya adalah Chloe Moretz yang ia pilih memerankan Mia Hall. Dan juga Jamie Blackley yang akhirnya klop sekali memerankan Adam Wilde. Seni peran keduanya lumayan menjadi perhatian di sepanjang film diputar. Keberuntungan lainnya lagi, adalah lagu-lagu yang jadi latar musik di film ini. Cutler sangat tertolong oleh Heitor Pereira, sang penata musik.

Tapi sayang, film yang memang berlandaskan musik sebagai salah satu batang primer ceritanya ini hanya bisa jadi film remaja cengeng; yang ada Chloe Moretz di dalamnya.

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4