BOPM Wacana

Buah Simalakama dalam Mockingjay

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Aulia Adam

Judul : The Hunger Games: Mockingjay – Part I
Sutradara : Francis Lawrence
Naskah : Danny Strong dan Peter Craig
Pemain : Jennifer Lawrence, Josh Hutcherson, Julianne Moore, Liam Hemsworth
Tahun Rilis : 2014

Katnis lepas dari kandang berbahaya bernama Hunger Games. Tak ada lagi permainan hidup dan mati. Tak ada lagi trik bertahan hidup demi jadi juara. Yang tertinggal hanya semangat memperjuangkan revolusi.

Katniss Everdeen mengunjungi para pemberontak di sebuah rumah sakit di Distrik 8. | Sumber Istimewa
Katniss Everdeen mengunjungi para pemberontak di sebuah rumah sakit di Distrik 8. | Sumber Istimewa

Seperti film berseri Harry Potter atau Twilight, film terakhir dari trilogi The Hunger Games ini juga dibagi jadi dua film. Alasannya? Karena dua film pasti menghasilkan keuntungan lebih banyak, ketimbang satu film saja.

Sejak awal pula, penonton juga sudah diberitahu kalau film pertama Mockingjay ini akan diakhiri dengan pertemuan Katniss (Jennifer Lawrence) dan Peeta (Josh Hutcherson). Sehingga bagi mereka yang telah membaca bukunya, alur cerita dengan sangat mudah akan bisa ditebak. Tentu pemberitahuan ini akan jadi buah simalakama bagi Francis Lawrence, sang sutradara, bila ia tak pandai menyelipkan kejutan-kejutan pada filmnya ini.

Tapi, benarkah begitu? Benarkah The Hunger Games: Mockingjay – Part I ini akan jadi film biasa-biasa saja? Mari kita telaah!

Film ini dibuka dengan kegelapan dan suara ketakutan Katniss. Ia kembali mengigau. Luka batin yang ditinggalkan permainan Quarter Quell di film sebelumnya The Hunger Games: Catching Fire masih kentara terlihat di tampang Katniss. Di film itu, ia kehilangan Peeta Mellark, sahabat yang sadar tak sadar mulai dicintainya.

Katniss terbangun di fasilitas bawah tanah militer milik Distrik 13, sebuah negara bagian yang selama ini eksistensinya bagaikan dongeng. Tak ada yang percaya kalau distrik ini masih ada hingga mereka sendiri berada di dalamnya, termasuk Katniss. Sebab, kehancuran Distrik 13-lah yang menjadi sejarah bermulanya permainan Hunger Games di negeri bernama Panem itu. Sebuah permainan yang akhirnya menjebak Katniss Everdeen menjadi salah satu petarung yang berhasil memenangkannya.

Kemenangan Katniss, yang berasal dari Distrik 12, distrik termiskin di Panem ternyata memercikan api revolusi di seluruh hati rakyat Panem, rakyat yang merasa terjajah oleh presiden mereka, Coriolanus Snow (Donald Sutherland). Inilah yang dimanfaatkan Alma Coin (Julianne Moore), Presiden Distrik 13 yang sekaligus jadi pemimpin revolusi.

Sosok Katniss dibentuk jadi lambang revolusi melawan kediktatoran Presiden Snow. Mereka menyebutnya sebagai Mockingjay, judul asli buku yang diadaptasi jadi film ini.

Presiden Coin, dibantu Plutarch Havensbee yang diperankan dengan sangat brilian oleh mendiang Philip Seymour Hoffman. Plutarch adalah kepala produksi Quarter Quell yang ternyata bagian dari pemberontakan terhadap Snow. Melaluinya, Katniss dibuatkan video-video propaganda yang bisa menyulutkan semangat para pemberontak yang terpisah-pisah di distrik masing-masing.

Hal ini bukan pekerjaan mudah, karena karakter Katniss yang kaku dan tak ramah. Belum lagi luka batinnya karena masih tak tahu kabar Peeta yang ditawan di Capitol, ibukota Panem, bersama sang Presiden Snow.

Dibantu Haymitch (Woody Harrelson) dan Effie Trinket (Elizabeth Banks), tim kemenangan Katniss saat masih hidup di Capitol, akhirnya Plutarch menciptakan video-video propaganda yang sukses. Banyak pemberontak makin bersatu dan mulai melakukan pergerakan melawan tentara-tentara milik Snow.

Seperti yang telah diberitahukan pada penonton, film ini diakhiri dengan pertemuan Katniss dan Peeta; tak ada yang meleset seperti yang dituliskan Suzanne Collins, sang empunya buku. Tapi sutradara Francis Lawrence sedikit membiarkan stafnya di dek penulisan naskah untuk berimprovisasi. Sama seperti film sebelumnya The Hunger Games: Catching Fire.

Kesempatan ini tak dibiarkan begitu saja oleh Danny Strong dan Peter Craig, dua orang dalang di dek penulisan naskah.

Mereka sedikit merombak detail dan menciptakan alur cerita yang lebih menarik daripada di bukunya. Seperti saat segerombolan massa membombardir bendungan yang jadi sumber listrik Capitol, atau adegan Katniss mengobrol santai dengan Presiden Snow melalui sambungan jarak jauh yang berubah horor di akhir.

Beberapa adegan lainnya juga diimprovisasi Strong dan Craig, menjadikan film yang dipotong ini jadi lebih segar dari semestinya.

Katniss dan Gale bersiap menembak jatuh pesawat pembom di Distrik 8. | Sumber Istimewa
Katniss dan Gale bersiap menembak jatuh pesawat pembom di Distrik 8. | Sumber Istimewa

Mockingjay memang bukan buku terbaik dari trilogi Hunger Games karya Collins. Ceritanya yang terkesan dimolor-molorkan menjadi sebab utama jeleknya buku Mockingjay. Ditambah lagi dengan keputusan memotong buku ini jadi dua film. Tentu saja ini jadi pekerjaan berat untuk menghadirkan film penutup yang apik bagi legenda si Katniss, gadis suci pemantik revolusi.

Tapi, bersyukurlah Lawrence karena bisa bekerja sama dengan Strong dan Craig yang membantunya membuat film ini tetap segar. Sebab percuma saja akting baik Jennifer Lawrence dan seperangkat aktor kawakan lainnya kalau plot film ini begitu molor.

Terima kasih pula patut dipersembahkan kepada Strong dan Craig yang berani menggantikan karakter Falvius, Octavia, dan Venia menjadi Effie Trinket. Ketiga karakter itu harusnya yang membantu Katniss di dalam buku saat ia mempersiapkan diri sebagai Mockingjay di video propaganda. Tapi, peran mereka di film langsung digantikan Effie Trinket yang dimainkan penuh nyawa dan humor oleh Elizabeth Banks.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).