BOPM Wacana

Membedah Ilmu Ekonomi dengan Pisau Dapur Ibu Adam Smith

Dark Mode | Moda Gelap
Foto Ilustrasi: Surya Dua Artha Simanjuntak

 

Oleh: Surya Dua Artha Simanjuntak

Judul Siapa yang Memasak Makan Malam Adam Smith?: Kisah tentang Perempuan dan Ilmu Ekonomi
Penulis Katrine Marcal
Penerjemah Ninus D. Andarnuwari
Penerbit Marjin Kiri
Tahun Terbit Mei 2020 (Cetakan Pertama)
Tebal vii + 226 halaman

 

Kita mungkin tak asing lagi dengan nama Adam Smith. Namun, adakah di sini yang mengenal ibu Adam Smith?

Pada Juni 1723, seorang anak lahir dari rahim janda muda 28 tahun. Anak itu diberi nama Adam Smith, sesuai nama ayahnya yang meninggal enam bulan sebelumnya.

Sejak si Ayah meninggal, si Ibu tak pernah menikah lagi. Sisa hidupnya ia dedikasikan untuk mengurus si anak, Adam Smith. Smith sendiri membujang sampai akhir hayatnya. Pasangan ibu dan anak ini pun menjadi kesatuan yang saling bergantung. Namun, sosok penting sang Ibu dalam hidup Smith ternyata tak memberi pengaruh terdahap pemikirannya.

Pada usianya yang ke-53, Smith menerbitkan The Wealth of Nations, buku yang kini jadi kitab suci ekonom liberal. Dalam buku yang tebalnya bukan main itu, terdapat kutipan terkenal:

“Bukan karena kebaikan hati tukang daging, tukang minuman, atau tukang roti kita bisa mendapatkan makan malam kita, melainkan karena mereka memikirkan kepentingan-diri mereka sendiri-sendiri.”

Melalui ungkapan itu, Smith ingin mengatakan bahwa kepentingan-dirilah yang menggerakkan tindakan manusia. Si tukang daging bekerja agar pelanggannya puas, dengan begitu ia mendapatkan uang. Bukan untuk berbuat baik. Begitu juga dengan si tukang minuman dan si tukang roti. Artinya, manusia pada dasarnya adalah makhluk ekonomi. Smith seakan ingin menentang pernyataan terkenal yang diungkapkan Aristoteles berabad-abad sebelumnya, bahwa manusia merupakan “binatang sosial” sehingga “masyarakat adalah sesuatu yang mendahului individu”.

Siapa sangka, ternyata bagi para pemikir sesudahnya, konsep homo economicus atau manusia ekonomi ala Smith lebih menarik daripada konsep binatang sosial ala Aristoteles. Akhirnya, konsep itu menjadi landasan ilmu ekonomi modern hingga saat ini.

Namun, jika dibedah ulang, konsep manusia ekonomi ternyata tak sesempurna yang banyak ekonom liberal bayangkan. Melalui konsep itu, Smith secara meyakinkan dapat menjawab pertanyaan: “Bagaimana saya mendapat makan malam?”. Namun, apakah ia pernah bertanya: “Siapa yang memasak makan malam saya?”

Tak ada yang bisa membantah, bahwa berkat kepentingan-diri si tukang daging, si tukang minuman, dan si tukang rotilah Smith mendapat makan malamnya. Namun, siapa sih yang memasak dan memastikan daging, roti, serta minuman itu tersedia di atas meja setiap malamnya? Jawabannya tentu si Ibu.

Yang jadi pertanyaan sekarang: apakah kepentingan-diri yang menyebabkan ibu Smith memasak dan menyiapkan makan malam untuk Smith? Tentu tidak. Tindakan si Ibu merupakan contoh nyata altruisme binatang sosial ala Aristoteles. Bukan kepentingan-diri manusia ekonomi ala Smith.

Itulah salah satu contoh ironi dan sesat pikir Adam Smith yang coba diungkap Katrine Marcal dalam bukunya Siapa yang Memamasak Makan Malam Adam Smith? Melalui bukunya ini, Marcal ingin mengajak pembaca meneropong ilmu ekonomi lewat perpektif feminis. Caranya? Dengan serangan telak kepada konsep manusia ekonomi yang dicetuskan Adam Smith.

Secara berurutan, melalui 16 bab yang singkat dan padat, Marcal coba membongkar—setidaknya—empat poin besar terkait ilmu ekonomi.

Pertama—seperti yang sudah saya jelaskan di awal, Marcal ingin menunjukkan bahwa konsep manusia ekonomi gagal mencerminkan sifat dasar kita. Nyatanya, tak setiap tindakan manusia didasarkan kepentingan-diri.

Selanjutnya, Marcal membahas bagaimana secara sistematis manusia ekonomi mendiskreditkan perempuan, yang kemudian menyebabkan gerakan feminisme malah makin memperburuk kualitas hidup perempuan. Bagi Marcal,  manusia ekonomi memang dirancang hanya untuk satu jenis kelamin: laki-laki.

Lalu, Marcal berargumen bahwa ilmu ekonomi yang didasari konsep manusia ekonomi akan selalu menyebabkan perekonomian gagal. Doktrin manusia ekonomi terlalu menekankan kepada individu, yang percaya bahwa setiap individu bertindak secara rasional. Marcal coba membuktikan bahwa doktrin ini salah, sehingga tak cocok untuk pasar ekonomi.

Terakhir, Marcal menganggap konsep manusia ekonomi hanya akan menciptakan nafsu alih-alih solusi. Ia coba menjelaskan bagaimana segala perilaku kepentingan-diri cenderung menciptakan ekspolitasi, ketimpangan, dan kerusakan lingkungan.

Menariknya—keempat poin besar yang dibahas Marcal itu, argumennya seringkali didasari sentimen-sentimen feminis. Bagi saya, ini menjadi amunisi baru untuk bahan kritik ekonomi liberal. Nyatanya, ini memang buku ekonomi feminis pertama saya. Namun, tak sulit menerima setiap argumennya karena pada dasarnya tak jauh beda dengan arumen-argumen ekonom Marxis.

Ditambah lagi, gaya penulisan Marcal yang ringan, enak dibaca, dan penuh dengan satire jenaka. Baca buku ekonomi rasa baca novel. Jika saja tak ada kerjaan, saya bisa membaca habis buku ini dalam sehari. Jadi, tak sulit rasanya bagi saya merekomendasikan buku ini untuk siapa saja yang peduli atas kajian gender dan ekonomi-politik.

Di akhir pembahasan ini, saya ingin kembali ke pertanyaan awal yang belum terjawab: adalah Margaret Douglas, nama ibu Adam Smith. Ialah jawaban atas kepingan akhir puzzle ilmu ekonomi yang hilang.

Seperti kata Marcal: “Jika Anda ingin memahami mengapa kita mengalami kenaikan ketimpangan ekonomi, Anda harus memahami perspektif feminis dari ilmu ekonomi: bagaimana Adam Smith memperoleh makan malamnya dan mengapa ini bermakna penting secara ekonomi.”

Komentar Facebook Anda

Surya Dua Artha Simanjuntak

Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP USU Stambuk 2017.

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4