BOPM Wacana

Memahami Academic Burnout dalam Kehidupan Perkuliahan

Dark Mode | Moda Gelap

Ilustrasi. | Tio Hasianna Vincentia Hutahaean

Oleh: Shifwah Suhaila

“Baru buka laptop lima menit, rasanya udah pengen nutup lagi. Kenapa akhir-akhir ini belajar jadi terasa berat, ya?”

Pernahkah kamu belajar seharian, tetapi rasanya tidak ada materi yang melekat di kepalamu? Atau duduk di depan laptop berjam-jam tanpa ada satu pun tugas yang selesai? Kamu ingin produktif, tetapi tubuh dan pikiranmu seolah menolak bekerja sama.  Jika iya, bisa jadi kamu sedang mengalami academic burnout.

Istilah ini mungkin terdengar akrab tetapi jarang benar-benar dipahami. Banyak mahasiswa mengira mereka hanya sedang malas atau kurang motivasi, padahal bisa saja tubuh dan pikiran mereka sudah berada di ambang kelelahan mental yang serius.

Apa itu Academic Burnout?

Mengutip dari Brain Academy, istilah burnout pertama kali dikemukakan oleh psikolog Herbert Freudenberger pada tahun 1974. Sindrom ini ia temukan sebagai hasil dari pengamatannya terhadap beberapa pekerja di sektor pelayanan tatap muka yang banyak mengalami stres akibat konflik dan tekanan di tempat kerja.

Academic burnout atau kelelahan akademik merupakan reaksi emosional, fisik, dan mental yang negatif terhadap studi yang berkepanjangan. Ironisnya, banyak mahasiswa tidak sadar bahwa yang mereka alami bukan kurang disiplin, melainkan kelelahan kronis.

Mengapa ini bisa terjadi?

Beban tugas, tekanan dosen, dan ekspektasi sosial adalah faktor yang sering menjadi pemicu. Belum lagi media sosial yang menampilkan teman-teman “terlihat sukses”, membuat kita merasa tertinggal. Padahal setiap orang punya ritme dan cara bertumbuh masing-masing.

Di kampus, mahasiswa sering dituntut untuk menjadi “versi terbaik” dengan nilai tinggi, aktif berorganisasi, memiliki sertifikat, mengikuti lomba, magang, dan tetap produktif. Fenomena hustle culture sekarang ini membuat mahasiswa terus berlari tanpa tahu kapan harus berhenti. Setiap pencapaian terasa tidak cukup dan selalu ada yang harus dikejar.

Selain itu, sistem akademik yang menilai keberhasilan berdasarkan angka membuat banyak mahasiswa kehilangan makna belajar. Belajar yang seharusnya menumbuhkan rasa ingin tahu justru berubah menjadi beban pencapaian.

Tanda-Tanda Kamu Mengalami Burnout

Meskipun tidak semua kelelahan berarti burnout, tapi kalau kamu mengalami hal-hal ini secara terus-menerus, mungkin sudah saatnya berhenti sejenak:

  1. Sulit berkonsentrasi dan mudah terdistraksi. Tugas terasa seperti labirin tanpa akhir. Kamu membuka laptop untuk belajar, tapi ujung-ujungnya malah menatap layar kosong atau berpindah ke media sosial tanpa sadar.
  1. Menunda tugas meski tahu itu penting. Kamu ingin mengerjakan tugas, tapi rasanya seperti tidak punya tenaga.
  1. Merasa hampa, kehilangan semangat, atau tidak punya arah. Hal-hal yang dulu menyenangkan kini terasa biasa saja.
  1. Menarik diri dari pertemanan atau organisasi. Interaksi sosial mulai terasa melelahkan. Kamu lebih memilih diam atau menghindari keramaian, padahal dulu kamu senang terlibat di banyak kegiatan.
  1. Sering sakit kepala, sulit tidur, atau cepat lelah tanpa sebab jelas. Burnout bukan cuma mental, tubuhmu juga ikut protes. Sakit kepala ringan, gangguan tidur, hingga kelelahan tanpa aktivitas berat bisa jadi tanda tubuhmu butuh jeda.
  1. Meragukan kemampuan diri, bahkan untuk hal kecil. Kamu mulai berpikir, “Aku nggak sebaik dulu,” atau “Mungkin aku memang nggak mampu.” Padahal sebenarnya kamu hanya lelah, bukan gagal.

Cara Mengatasi Academic Burnout

Setelah menyadari tanda-tandanya, penting untuk memberi ruang bagi tubuh dan pikiran agar pulih. Berikut ini beberapa cara yang dapat membantu mengatasi academic burnout:

  1. Izinkan Diri Beristirahat. Berhenti sejenak bukan berarti menyerah. Tubuh dan pikiran juga butuh ruang untuk memulihkan diri. Coba luangkan waktu tanpa layar, tidur yang cukup, atau lakukan hal yang kamu sukai tanpa merasa bersalah.
  1. Kenali Batas Diri. Tidak semua hal harus dikerjakan sekaligus. Menolak atau menunda sesuatu bukan bentuk kemalasan, tapi bisa jadi cara untuk menjaga keseimbangan diri.
  1. Bangun Koneksi Sosial yang Sehat. Cerita dengan teman, keluarga, atau konselor bisa membantu mengurai tekanan yang kamu rasakan. Karena terkadang, validasi sederhana seperti “aku paham kamu lelah” bisa lebih menyembuhkan dari sekadar motivasi kosong.
  1. Refleksi: Apa Tujuanmu Belajar?. Coba tanyakan pada diri sendiri, “Aku kuliah untuk apa?” Apakah untuk mengejar nilai, memenuhi ekspektasi, atau untuk memahami sesuatu yang benar-benar kamu sukai? Menemukan kembali makna belajar bisa menyalakan semangatmu yang padam.
  1. Kurangi Perbandingan Sosial. Ingat, media sosial adalah potongan terbaik dari hidup orang lain. Jangan ukur prosesmu dengan pencapaian orang lain yang kamu lihat sekilas di layar. Fokuslah pada perjalananmu sendiri, sekecil apa pun kemajuannya.

Burnout bukan hanya tentang kehilangan semangat belajar, tetapi kehilangan hubungan dengan makna belajar itu sendiri. Karena itu, penting bagi mahasiswa untuk mengenali tanda-tanda kelelahan dan memberi ruang bagi diri untuk beristirahat. Burnout bukan tanda lemah atau gagal, melainkan sinyal bahwa tubuh dan pikiranmu butuh jeda.

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4

AYO DUKUNG BOPM WACANA!

 

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan media yang dikelola secara mandiri oleh mahasiswa USU.
Mari dukung independensi Pers Mahasiswa dengan berdonasi melalui cara pindai/tekan kode QR di atas!

*Mulai dengan minimal Rp10 ribu, Kamu telah berkontribusi pada gerakan kemandirian Pers Mahasiswa.

*Sekilas tentang BOPM Wacana dapat Kamu lihat pada laman "Tentang Kami" di situs ini.

*Seluruh donasi akan dimanfaatkan guna menunjang kerja-kerja jurnalisme publik BOPM Wacana.

#PersMahasiswaBukanHumasKampus