
Oleh: Shifwah Suhaila
Pertanyaan-pertanyaan sederhana
yang semula kukira akan hilang bersama malam,
justru malah menetap lebih lama,
bersarang riuh,
seakan-akan menggerogoti relung jiwaku.
Pada hari-hari yang belum bernama,
pada orang-orang yang belum pernah kujumpa,
pada jalan yang belum pernah kulewati,
pada kehidupan yang belum pernah kutapaki,
aku melontarkan tanya,
akan seperti apa aku kelak?
Akankah aku sampai pada hidup yang kudamba?
Akankah langkahku kelak menemukan muaranya?
Akankah segala yang kuusahakan menemukan akhirnya?
Aku terlalu takut membayangkan akan berhenti di tengah perjalanan,
lagi.
Barangkali aku terlalu jauh memikirkan nanti,
hingga lupa menata hari yang masih berlangsung.
Bukankah sia-sia
mencemaskan sesuatu yang belum terjadi
dan menyakiti diri dengan serpih-serpih kemungkinan?
Namun, pertanyaan-pertanyaan itu terus menolak pergi,
meneror pikiranku tiap-tiap sunyi.
Bagaimana jika yang kupikirkan benar-benar terjadi?
Bagaimana jika ketakutanku bukan sekadar imaji?
Bagaimana jika suatu hari nanti
aku menyesali semua pilihan hari ini?
Semakin kucoba mencari jawabannya,
semakin jauh pula ketenangan meninggalkanku,
mencari kepastian di antara sesuatu yang belum terjadi,
seolah-olah aku dapat menemukan jawabannya hari ini.
Mungkin masa depan memang selalu menakutkan,
sebab tidak ada seorang pun yang benar-benar tahu.
Dan mungkin aku hanya perlu berjalan,
meski belum tahu ke mana arahnya.
Sebab, pasti, pertanyaan “bagaimana jika” tidak ada habisnya.



