BOPM Wacana

Online Disinhibition Effect: Dua Sisi Manusia yang Bertolak Belakang

Dark Mode | Moda Gelap
Ilustrasi. l Firda Elisa
Ilustrasi. l Firda Elisa

Oleh: Firda Elisa

Pernahkah kamu merasa menjadi ‘orang lain’ di dunia maya?

Di tengah arus perkembangan teknologi yang kian pesat, komunikasi tanpa batas menjadi salah satu keuntungan yang hingga kini diadopsi menjadi gaya hidup praktis bagi sebagian besar orang. Kemudahan akses tersebut memberikan kenyamanan untuk para penggunanya melakukan apapun yang mereka inginkan.

Tidak jarang, media sosial dijadikan tempat berbagi keluh kesah serta mengekspresikan suasana hati si pengguna. Hal ini tak ubahnya komunikasi tatap muka karena tetap menciptakan respons timbal balik dari sesama pengguna media sosial. Akan tetapi, efek yang terjadi dapat menimbulkan banyak kasus di mana seseorang yang sangat ekspresif di dunia maya justru menjadi lebih pendiam di dunia nyata.

Fenomena tersebut dikenal dengan sebutan Online Disinhibition Effect. Istilah ini pertama kali dikemukakan oleh John Suller pada tahun 2004. Menurutnya, fenomena ini terjadi saat seseorang di dunia maya (cyberspace) cenderung lebih terbuka, kurang terkendali, dan mengekspresikan diri lebih intens dibandingkan saat berinteraksi secara langsung (tatap muka) di dunia nyata.

Alih-alih menganggapnya sebagai satu fenomena tunggal, Suler, melalui tulisannya yang terbit di Jurnal CyberPsychology and Behavior, membagi Online Disinhibition Effect menjadi dua arah yang bertolak belakang, yaitu Benign (positif/baik) dan Toxic (negatif/beracun). Namun, ia juga mengingatkan bahwa batas antara keduanya sering kali kabur dan kompleks.

Benign Disinhibition ditunjukkan dari perilaku positif seseorang seperti keterbukaan diri atas perasaan yang dialami, kemurahan hati untuk membantu orang lain yang bahkan tidak dikenal, hingga adanya upaya pengembangan diri sendiri.

Sebaliknya, bentuk Toxic Disinhibition dapat terlihat dari adanya komentar kebencian, cyberbullying, hingga akses ke situs-situs terlarang yang berisi kekerasan maupun pornografi.

Apa penyebab Online Disinhibition Effect?

Menurut Suler, ada enam faktor penyebab fenomena ini dapat terjadi.

  1. Dissociative anonymity, yakni anonimitas yang membuat seseorang mampu melakukan hal-hal ekstrem karena dapat menyembunyikan sebagian atau seluruh identitas asli. Hal ini justru membuat seseorang merasa tidak bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan.
  2. Invisibility atau fisik yang tidak terlihat secara langsung, menyebabkan seseorang jauh lebih berani mengungkapkan sesuatu yang memalukan maupun emosional karena mereka merasa tidak akan ada yang mengenalinya.
  3. Asynchronicity atau ketidaksinkronan waktu. Karena seringnya terjadi perbedaan waktu komunikasi secara digital, umpan balik yang diberikan dapat dipersiapkan lebih matang daripada komunikasi secara langsung yang menuntut seseorang untuk memikirkan respons dengan cepat.
  4. Solipsistic introjection. Pernahkah kamu membaca pesan orang lain dengan membayangkan suara dan wajahnya di kepala? Hal ini adalah salah satu faktor penyebab yang terbentuk tidak hanya dari pesan yang ditulis oleh si pengirim, tetapi juga oleh harapan, keinginan, serta ketakutan diri sendiri.
  5. Dissociative imagination, faktor yang menggabungkan jalan keluar dan imajinasi karena menganggap dunia maya sebagai panggung sandiwara yang tidak nyata. Karena anggapan tersebut, seseorang dapat dengan mudah meninggalkan semua konsekuensi dan tanggung jawab yang dia dapatkan.
  6. Minimization of status and authority. Faktor ini menghilangkan semua simbol otoritas dan kekuasaan yang seringkali membatasi komunikasi di dunia nyata. Hal tersebut membuat seseorang lebih berani untuk menyampaikan pendapatnya di media sosial.

Jarak yang terasa aman

Online Disinhibition Effect bukan lagi fenomena yang asing. Terlebih dengan munculnya platform anonim seperti Menfess di berbagai media sosial yang kerap dimanfaatkan untuk mengungkapkan perasaan hingga mengunggah komentar kebencian kepada seseorang.

Jika kamu sebagai mahasiswa lebih nyaman untuk bertanya dan mengemukakan pendapat melalui platform digital seperti grup chat kelas, daripada berbicara langsung di hadapan seluruh teman sekelas maupun dosen, tanpa sadar kamu telah terjerat dalam fenomena ini.

Begitu pula dengan kamu yang senang mengunggah ungkapan perasaan dan keluh kesah melalui akun pribadi di media sosial daripada membicarakannya langsung kepada teman terdekat saat bertemu.

Namun demikian, fenomena ini tidak selalu menjadi sesuatu yang merusak, tergantung dari bagaimana masing-masing individu mengatur dirinya untuk aktif di media sosial. Satu hal yang perlu diingat, jangan biarkan Online Disinhibition Effect membentuk cara kita berbicara dan membuka diri. Jarak memang seringkali terasa aman, tetapi keterbukaan dan keberanian di dunia nyata lebih penting untuk menjaga hubungan dengan orang-orang sekitar.

Komentar Facebook Anda

Firda Elisa

Penulis adalah Mahasiswa Sastra Indonesia FIB USU Stambuk 2023. Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan BOPM Wacana.

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4

AYO DUKUNG BOPM WACANA!

 

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan media yang dikelola secara mandiri oleh mahasiswa USU.
Mari dukung independensi Pers Mahasiswa dengan berdonasi melalui cara pindai/tekan kode QR di atas!

*Mulai dengan minimal Rp10 ribu, Kamu telah berkontribusi pada gerakan kemandirian Pers Mahasiswa.

*Sekilas tentang BOPM Wacana dapat Kamu lihat pada laman "Tentang Kami" di situs ini.

*Seluruh donasi akan dimanfaatkan guna menunjang kerja-kerja jurnalisme publik BOPM Wacana.

#PersMahasiswaBukanHumasKampus