BOPM Wacana

Yusrianto Nasution: Saya Main Teater Karena Saya Suka

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Sri Wahyuni Fatmawati P

PROFIL 101

Inilah perjalanan singkat Yus—panggilan akrab—dalam karir teaternya. Mulai ajang coba-coba hingga kini tak bisa lepas. Baginya, teater sudah bukan sekadar hobi.

Pertengahan 1980-an, Yus menerima surat peringatan dari pihak Rektorat Politeknik USU, isinya menyatakan bahwa ia di-drop-out. Tak berputus asa, tahun depannya Yus menyelipkan cita-cita melanjutkan pendidikan, ia mencoba peruntungan mengikuti ujian masuk USU dan diterima di Sastra Melayu Fakultas Sastra USU pada 1986.

Siapa sangka, kepindahannya memberikan pengalaman yang hingga kini masih dikenang. Saat itu Yus diajak senior-seniornya untuk tampil dalam perayaan hari besar. Pertama kali terlibat, langsung turut bermain peran. Harapannya, ia bisa lebih berani tampil di depan khalayak ramai. Sebenarnya ini bukan kali pertama ia mengenal teater, saat masih kecil, Yus kerap melihat pemuda-pemudi di kampungnya bermain peran saat perayaan 17 Agustus. Waktu itu dirinya sudah tertarik, tapi belum berniat mencoba hingga bangku kuliah.

Awalnya hanya mencoba sekaligus menjajal kemampuan diri, lama kelamaan dirinya ketagihan. “Kok lama kelamaan enak, gitu,” sahutnya.

Kecintaan pada dunia teater menjadikan Yus dan kawan-kawan mendirikan Teater ‘O’ di USU yang kemudian menjadi unit kegiatan mahasiswa (UKM) pada1991. Tujuannya, agar mereka punya wadah sendiri untuk berteater. Punya media pembelajaran untuk mementaskan sebuah pertunjukan teater secara komplit: naskah, panggung, kostum, pencahayaan, peralatan dan lainnya.

Kenapa ‘O’? Yus paparkan alasannya. O untuk Oktober, tepat berdirinya Teater ‘O’ pada 1 Oktober 1991. O untuk nol, kalau di depan maka akan mengurangi dan kalau di depan maka akan bertambah. O untuk roda, yang terus bergerak jangan berhenti. O untuk lingkaran kekeluargaan. O untuk sikap rendah hati.

Itu langkah awal Yus hingga akhirnya benar-benar serius menekuni dunia teater. Yus tertawa saat bercerita alasannya memutuskan serius di teater. “Sama seperti orang kalau ditanya kenapa suka memancing, susah jawabnya,” tuturnya.

Mungkin karena saya suka dan saya berbakat, itu jawabnya. Apalagi niatan dirinya di awal sekali adalah membangun keberanian diri mengingat dirinya bukan orang yang percaya diri dan tidak berani tampil.

Berbekal semua niatan itulah Yus aktif berteater hingga kini. Yus percaya, teater mengajarkannya banyak pembelajaran hidup dan memberikannya banyak pengalaman. Yus tidak hanya belajar bermain peran. Ia juga belajar membuat kostum, mengurus peralatan yang dibutuhkan, mepublikasikan pementasan, menyusun setting pementasan hingga menulis naskah.

“Buat teater itu susah, loh. Mulai dari naskah, panggung, kostum, lighting, publikasi, semua harus dipikirkan,” sahutnya.

Sebenarnya saat itu Yus dan kawan-kawan mulai menganalisis masalah perteateran di Sumatera Utara yang sudah hampir mati suri, bahkan sejak 1970-an. Ada beberapa masalahnya: krisis penulis naskah, minat penonton kurang, biaya produksi mahal dan lama.

Masalah-masalah itulah yang coba Yus dan kawan-kawan pecahkan dengan menggunakan Teater ‘O’. Salah satu solusi yang dijalankan Yus adalah dengan menjadi penulis naskah. Yus mulai rajin menulis naskah teater yang akan dipentaskan sambil tetap bermain dan sesekali menjadi sutradara pementasan.

Yus sudah berhenti bermain peran sejak 1994, namun tak berhenti menulis naskah dan menjadi sutradara hingga sekarang. Alasannya, karena ia suka. Seiring berjalannya waktu ia terus mencari cara memperbaiki semua permasalahan pelaksanaan teater. Mulai dari menulis naskah yang dibalut dengan komedi agar penonton tak bosan, menghemat biaya produksi seminimal mungkin dengan menggunakan setting-an imajinasi hingga menjadi penulis naskah.

Yus menulis naskah dengan cerita yang dekat dengan keseharian masyarakat dan dibalut dalam komedi. Komedi membuat naskahnya lebih segar sehingga penonton lebih betah bertahan lama-lama. “Pernah waktu pementasan, di tengah-tengah penonton pada pulang, mungkin karena bosan,” ujarnya sambil terkekeh.

Yus menerapkan nilai-nilai kehidupan yang didapatnya dari bermain teater. Mulai bekerja keras hingga rendah hati. “Saat main teater, kita harus rendah hati, enggak boleh sombong, supaya orang-orang juga mau nonton. Harus kreatif juga,” sahutnya.

Yulhasni sudah mengenal Yus sejak kuliah. Bersama-sama mereka bermain teater, membentuk Teater ‘O’ dan tetap mengurusi pementasan teater hingga kini.

“Kalau saya yang urus naskah dan semacamnya, Yulhasni urus hubungan ke luar. Publikasi, humas, media, seperti itu. Sejak dulu hingga kini tak berubah,” tuturnya.

Yulhasni menilai Yus sebagai orang yang mengajarkan kesabaran. Yus kerap menanamkan nilai-nilai dan pemahaman mengenai dunia teater kepada adik-adik yang berkecimpung di dunia teater. “Dia enggak pernah marah,” ujar Yulhasni.

Yulhasni katakan Yus tak berubah hingga sekarang. Masih dengan minat akan teater yang tak berhenti, masih dengan sifat rendah hati dan sabar.

Ada yang paling dikagumi dari Yus oleh Yulhasni, kemampuan menulis naskah. Saat menulis naskah Yus selalu memperhatikan orang per orang, dia membuat naskah yang cocok dengan karakter orang-orang, bukan menjadikan pemain yang cocok dengan naskah. “Jadi dia perhatikan karakter masing-masing orang. Si anu cocoknya dengan ini, si ini dengan ini, begitu,” sahutnya.

Saat ditanya pelajaran terbesar dari seorang Yus, dengan yakin Yulhasni menjawab, “dia selalu menghargai semua orang dalam produksi teater. Semua orang punya peran, katanya,” papar Yulhasni.

Ada yang dicita-citakan oleh Yus. “Berhasil meninggalkan pemahaman penyiapan pementasan teater hingga esensi-esensinya kepada adik-adik yang main teater, terutama di Teater ‘O’,” sahutnya. Secara global, anak-anak muda yang memilih berkiprah di dunia teater harus mengerti dan paham akan dirinya sendiri dulu, kenapa memilih berteater dan semacamnya. Tidak hanya sekadar ikut-ikut.

Lalu adakah cita-cita yang sudah tercapai? Ada. Pementasan besar dan rutin yang kerap dilakukan oleh Teater ‘O’, minimal 2 kali setahun. Dulu, mengingat susahnya biaya produksi, rasanya sulit membayangkan mengadakan pementasan besar dua kali setahun.

“Hingga kini, cita-cita yang sudah tercapai itu masih dijaga sama adik-adik itu.”

Tulisan ini pernah dimuat pada Rubrik Profil Tabloid SUARA USU Edisi 105, Juni 2015.

 

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).