BOPM Wacana

Rizka Gusti: Karena Menulis Itu Gampang

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Amanda Hidayat

Foto: Wenty Tambunan
Foto: Wenty Tambunan

Pikirnya sederhana. Hobinya biasa saja, menulis. Hobi yang mengantarnya ke berbagai ajang.

Sehari lagi batas pengiriman tulisan seleksi Parlemen Remaja Nasional (PRN), satu hurufpun belum ia ketikkan. Bukan kenapa, hanya saja info baru ia dapatkan. Tanpa pikir panjang lepas pulang sekolah Rizka Gusti Anggraini Sitanggang langsung mengambil gawai tulisnya. Sebuah esai berjudul Kontribusi Dewan Perwakilan Rakyat Dalam Pembangunan ia rampungkan.

Sudah kelewat sore mengirimkan tulisan via pos, namun Ika, begitu ia biasa disapa, tetap mencari kantor pos yang masih buka. Agak jauh dari rumahnya, Ika dan ibunya menemukan kantor pos yang pintunya terbuka, tapi tulisan “Tutup” sudah terpampang. Lobi-lobi, berkas Ika diterima petugas pos.

Tahu tulisannya kemungkinan telat tiba di Jakarta, Ika menghubungi panitia meminta tenggat waktu. Panitia mengiya. Ika ragu, mungkin tak lolos, pikirnya.

Beberapa hari setelahnya, Ika dikabari bahwa dirinya lolos. Ika kaget, bagaimana mungkin tulisan yang ia tulis dengan terburu dan mengirimnya lewat tenggat dinyatakan lolos. Jadilah ia berangkat ke Jakarta. Perjalanan pertama ke Jakarta dilaluinya bersama tiga remaja lain yang mewakili Sumatera Utara.

Ika bukannya pertama kali menulis, lalu langsung terpilih mengikuti ajang seperti PRN. Sebelumnya ia sudah sering menulis, meskipun kebanyakan bergenre fiksi. “Dulu sering nulis fiksi, kalau nulis opini atau esai sering enggak nemusolusi,” ungkapnya.

Tulisan pertamanya benar-benar memotivasinya untuk tulisan-tulisan selanjutnya. Di antaranya mengantar Ika menjadi Leader Forum Group Disccusion dalam acara Microsoft Youth Spark Live, di Kantor Microsoft, Jakarta. Diundang ke Beijing, mengikuti Socialization About Environment Enginering. Jadi pembicara Banda Aceh Development Youth Forum di Banda Aceh, ASEAN Youth Leader Asociation di Filipina dan banyak lainnya.

Dia bilang, menulis adalah acaranya berkarya untuk bangsa, memupuk rasa cintanya sekaligus memperkenalkan khazanah budaya Indonesia. Saat bicara pada Socialization About Environment Enginering misal, ia memaparkan tentang pendidikan anak-anak kurang mampu di Kota Medan, yang harus diwadahi dengan kegiatan-kegiatan untuk mengasah bakat mereka. Dalam hal ini, dia menghimbau pemerintah atau lembaga-lembaga lokal ataupun internasional untuk turut berpartisipasi.

Kini, Ika aktif di berbagai organisasi—salah satunya Komunitas 1000 Guru Medan—yang bertujuan mengembangkan potensi anak-anak kurang mampu di Medan melalui seni dan bahasa asing. Kegiatan ini dilatarbelakangi pengalaman pribadi. Ika semasa SMA adalah anak tunggal yang ditinggal ayahnya lebih dulu ke Negeri Baka bersama ibunya. Dari situ Ika merasa perlu untuk membantu anak-anak kurang mampu. “Aku juga pernah merasakan yang mereka rasakan,”ujar Ika dengan mimik muka biasa, tapi menggambar tekadnya.

Ika sejak tinggal berdua saja dengan sang ibu, selalu berusaha mandiri. Membiayai pendidikan dan kebutuhan sehari-hari sendiri. Ia mempromosikan diri ke saudara, tetangga, dan teman-temannya untukmengajar kursus pada anak atau adik-adik mereka. Ika pun mulai mengajar kursus selepas pulang sekolah. Di sela-sela kegiatannya inilah Ika menulis.

Ibunda Ika, Yusria Ningsih sama sekali tak tahu apa yang Ika lakukan dengan gawai tulisnya. Awalnya ia heran apa yang Ika tengah lakukan. Sampai saat Ika lolos mengikuti PRN, ia baru mengerti Ika lakukan apa. “tetetetetet,” katanya menirukan suara ketukan mesin ketik, tangannya mempraktekan. “Entah apa yang dikerjakannya kalau sudah dalam kamar sama laptop,” lanjutnya.

Kini yang Ibunya tahu, Ika adalah anak yang bisa menyelesaikan masalah sendiri tanpa harus menyusahkan orang lain. “Mungkin karena sering menyampaikan pendapatnya pada satu masalah dan memberi solusinya saat menulis, terbawa-bawa ke kehidupan nyata,” ujar Ningsih tertawa.

Tentang cita-cita

Ika sepertinya sudah merencanakan akan jadi apa dirinya di masa mendatang. Bahkan rencana A, rencana B dan rencana-rencana lainnya sudah selesai dibuatnya, tinggal eksekusi saja. Ika bercita-cita melanjutkan studinya di bidang jurnalistik ke Jerman. Sekaligus penunjang cita-cita besarnya menjadi dosen. Ika juga ingin berkarir sebagai seorang jurnalis di Harian Kompas. Ika menganggap Kompas sebagai salah satu di antara sedikit media Indonesia yang berpegang teguh pada idealisme jurnalis.

Di balik itu semua, ia ingin terus menulis dan menjadi penulis besar nantinya. Seperti Andrea Hirata yang ia puja. Dan terus berkarya pada bangsa dengan tulisan-tulisannya. Begitu ia ingin hidup berguna, menulis menginspirasi, seperti tagline sekaligus nama blog pribadinya.

Ibunya sendiri pernah ditawarkan memasukkan Ika ke akademi kepolisian, Ibu Ika tentu meyampaikan padanya. Ika menolak, meski tanpa kata berontak. Ibunya coba membujuk. Tapi melihat keteguhan Ika, ketika melihatnya menulis, Ningsih percaya menulis akan mengantarakan Ika pada cita-citanya. Tak berlebihan jika disebut punya segudang prestasi. Tak hanya tulis-menulis, sedari sekolah dasar, Ika mengkoleksi banyak prestasi dalam ajang Abacus Aritmatic Sempoa tingkat regional sampai mancanegara.

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4