BOPM Wacana

USU Sosialisasikan Konsep UKT

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh Ipak Ayu H Nurcaya

PR III Raja Bongsu Hutagalung berbicara dengan salah satu mahasiswa yang ikut melakukan aksi penolakan UKT sesaat sebelum acara Sosialisasi UKT dimulai di Auditorium USU, Rabu (15/5). | Andika Syahputra
PR III Raja Bongsu Hutagalung berbicara dengan salah satu mahasiswa yang ikut melakukan aksi penolakan UKT sesaat sebelum acara Sosialisasi UKT dimulai di Auditorium USU, Rabu (15/5). | Andika Syahputra

USU, wacana.org/arsip  Prof Armansyah Ginting selaku pembantu rektor (PR) II menggelar kembali sosialisasi tentang konsep Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang telah diajukan pada Direktorat Jenderal (Dirjen) Pendidikan Tinggi (Dikti) beberapa waktu lalu. Pengajuan konsep UKT ini dilakukan seluruh perguruan tinggi yang ada di Indonesia pada Dirjen Dikti yang nantinya akan diteruskan pada Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Lebih lanjut Prof Arman menjelaskan perhitungan UKT ini didasarkan pada tiga poin utama. Pertama, standarisasi nasional. Kedua, jenis program studi dan terakhir indeks kemahalan wilayah. Ketiganya ini kemudian dikalikan dengan UKT basis yang ditetapkan Kemendikbud dari rata-rata biaya PT seluruh Indonesia.

“Untuk waktu pelaksanaan UKT ini sendiri, USU masih menunggu perintah yang jelas dari pemerintah,” kata Prof Arman. Konsepnya, pembiayaan UKT mahasiswa USU nanti berdasarkan lima kelompok yang telah ditetapkan. Kategori satu adalah yang mampu, duaberkemampuan, tiga cukup mampu, empat kurang mampu dan lima tidak mampu. Hasil kategori didapat setelah setiap mahasiswa mengisi kuesioner yang berbobot nilai disetiap soalnya.

Eka Hermawan, mahasiswa Departemen Kesejahteraan Sosial 2009 menyambut baik adanya sosialisasi ini. “Ini merupakan upaya yang baik dari rektorat, tapi untuk melaksanakan UKT sebaiknya dipikirkan kembali, konsistensi USU yang sebenarnya menolak kini dipertanyakan,” katanya.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).