BOPM Wacana

USU Absen Merawat Republik

Dark Mode | Moda Gelap

“yek… ngobyek… ngobyek…ngobyekkk… ada mentri tukang ngobyek…!!!

blok… goblok… goblok…goblok… kita ganyang menteri goblok…!!!

Ganyang menteri goblok!!!”

Rindu pada nyanyian ini, nyanyian sekolompok pemuda beralmamater, mengambil peran ke-chaos-an bangsanya. Tanpa intervensi politik, tanpa imajinasi kepentingan pribadi, tanpa harapan bersolek di depan televisi berlagak pintar dan sok tahu tentang bangsa. Rindu pada situasi kaum intelektual yang jujur pada tanggung jawab keintelektualannya.

Kini kaum itelektual itu bisu, diam seribu bahasa, lugu bak balita tak mengerti apa yang dia lihat, dia dengar, apa lagi dia baca. Jeritan merintih seorang ayah yang mengantre BBM. Teriakan anak lulusan SMA yang tak mampu melanjutkan cita-cita. Seokan seorang pemulung yang tak bisa lagi mengais sampah. Gebrak-gebruk pedagang kaki lima yang tak diperbolehkan lagi berjulan, tak pernah terdengar oleh kita. Pemberitaan atas kebobrokan pemerintah tak lagi terbaca. Diam dengan mulut penuh proyek gila dan kemanjaan uang. Pujian entitas sebagai golongan beruntung menina bobok, mengkremasi tangisan setiap manusia indonesia tentang harapan sebuah republik yang adil.

Di tengah kegilaan zaman, demokrasi yang karut marut, panggung politik yang terlalu latah, ulah pebisnis yang asosial dan tak ramah lingkungan, pejabat pemerintah yang acuh tak acuh, pemimpin yang menikmati kesengsaraan rakyat, segerombolan wakil dengan safari di gedung kura-kura, kita kehilangan moral dan tanggung jawab.

Republik dan Pengetahuan

Tak akan pernah ada republik merdeka dengan nama Negara Kesatuan Republik Indonesia tanpa sebuah perjuangan dan cita-cita. Perjuangan dan cita-cita yang penuh dengan ilmu pengetahuan. Imajinasi dari seorang Hatta atas sebuah negara modern yang menjunjung tinggi nilai-nilai sosial. imajinasi pengatahuan dari seorang Tan Malaka yang melahirkan Naar de Republik sehingga titik terang sebuah republik bersinar. Imajinasi dari seorang Sjahrir yang menempatkan republik ini di mata international. Semuanya adalah imajinasi dari ilmu pengetahuan yang membawa negeri ini pada pintu gerbang kemerdekaan.

Dosen filsafat UI, Rocky Gerung Pernah berorasi manyatakan. “Membangunrepublik di butuhkan suatu imajinasi intelektual yang merawat konsep “publik” pada kondisi sekulernya. Kemudian, suatu perlawanan politik terhadap teokratisasi institusi-institusi publik. Artinya, ide republik hanya dapat terselenggara di dalam suatu usaha intelektual yang berkelanjutan.

Tanpa sebuah usaha intektual yang berkelanjutan, kita hanya akan menunggu sampai kapan republik ini mampu mempersatukan kita. Posisi intelektual itu tak pelak langka di cari di republik ini. Setiap propinsi memiliki singasana menara gading inteltula yang kita sebut universitas. Berhimpun sang empu ilmu, ribuan gerombolam muda berjalan dengan lantang pada tataran ilmu pengtahuan. Lalu kenapa bisu?

Mahasiswa Bisu, Pekak dan Tuli

Kampus dikata miniatur sebuah negara, termasuk pemerintahan mahasiswa di dalamnya. Karut marut pemerintahan ternyata tak hanya ada dalam kebobrokan realitas, ternyata miniatur idealis pun telah menjadi panggung kebobrokan dan pengkhianatan baru atas nama rakyat.

Tidak hanya bertempat di mana saya menuliskan tulisan ini. Proses komunikasi yang saya lakukan dengan teman mahasiswa di universitas lain baik di pulau sumatera dan jawa. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM)tak lebih dari penyalur kepentingan dan aspirasi sekelompok orang bahkan partai politik. Politik “taik kucing” itu telah menjadi teman menari mahasiswa untuk berani bicara bohong kepada publik negara ini.

Kompas(7/7) mengangkat suara mahasiswa dengan tajuk “Mahasiswa Risaukan Suara Bangsa”. ada pernyataan dari beberapa Ketua BEM mengenai permasalahan bangsa ini, dan yang sangat saya sayangkan BEM Kampus USU sama sekali tak tercantum.

Merefleksi tak jauh ke belakang, kita harus mengakui bahwa kita sibuk bercokol atas nama kepentingan kelompok kita, kita sibuk pada budaya gangu mengganggu, hingga para mahasiswa yang mengaku diri seorang aktifis sama sekali tak mengetahui isu nasional saat ini. Bahkan kondisi politik lokal pun ia tidak mengerti apalagi mencoba peduli.

Kita melupakan peran strategis kita sebagai entitas sosial pembawa perubahan. Melupakan historis kita sebagai aktor yang membawa senyuman pada kesejahteraan. Kita lebih peduli pada trend life style yang memberikan identitas dan kebanggaan sebagai anak dunianya. Kita di manjakan oleh ‘taik kucing’ yang disuguhkan aktor-aktor politik atas nama golongan bahkan agama.

Imajinasi dari ilmu pengetahuan sangat dibutuhkan republik ini. Cita-cita kaum intelektual pada pembangunan republik kini kosong. Tak politikus, pejabat, birokrat, Penegak hukum bahkan kita yang diberi gelar kamu intelektual, sibuk pada mulut dan kepentingan kita masing-masing. Imajinasi kita hanyalah imajinasi tentang apa kedepannya kehidupan kita.

Gelombang gerakan kaum intelektual sangat dibutuhkan di tengah krisis bangsa saat ini, aksi apapun itu yang datangnya dari kaum intektual yang bertujuan membangun republik, menghidupkan kembali harapan atas cita-cita republik yang sejahtera dan berkadilan sosial, adalah aksi yang saat ini ditunggu rakyat yang sedang menderita.

*Penulis adalah Mahasiswa FISIP USU 2007

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).