BOPM Wacana

Ternyata Kita Selalu Mengharapkan Damai

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Sandra Cattelya

Bagi kebanyakan orang, mungkin tidak ada hal yang begitu spesial dengan salam. Salam diucapkan secara lisan maupun tulisan untuk mengawali pembicaraan, atau hanya untuk menyapa orang. Salam bahkan bisa diungkapkan dengan bahasa tubuh, seperti yang sering saya lakukan, hanya dengan tersenyum dan sedikit mengangkat kedua alis, kadang saya juga tersenyum sambil melambaikan tangan. Sangat spontan.

Arti kata salam menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah damai,pernyataan hormat/tabik, dan ucapan. Untuk memastikan, saya buka Merriam Webster Dictionary dan mencari kata greeting, yakni bahasa Inggris dari salam. Artinya a salutation at meeting dan an expression of good wishes. Saya terjemahkan secara bebas sebagai penghormatan saat bertemu danpengharapan yang baik.

Terlepas kita, bangsa Indonesia, telah mengakui bahasa persatuan kita adalah bahasa Indonesia, sering kali salam diucapkan dengan bahasa lain. Bahasa yang mungkin tidak semua lapisan masyarakat mengerti artinya dengan baik. Sepengamatan saya, salam yang paling umum diucapkan di Indonesia adalah assalamualaikum dan hai ataupun selamat pagi/siang/sore/malam.

Mengapa assalamualaikum, yang adalah bahasa Arab, sangat populer? Karena dari 240 juta penduduk Indonesia, 85 persennya adalah pemeluk Islam, yang sangat dekat dengan bahasa tersebut karena kitab sucinya berbahasa Arab. Pemeluk Kristen pun punya salam yang akrab terdengar di komunitasnya, yaitu shalom, dari bahasa Ibrani.

Beberapa teman yang saya ketahui kadang sedikit tidak dewasa dalam menempatkan diri dalam masyarakat. Alih-alih menjawab assalamualaikumdengan waalaikumsalam, mereka malah berkelakar dengan mengucapkanwaalaikumshalom, diikuti tertawa terbahak-bahak, mungkin puas dengan candaan yang menurutnya brilian. Saya bukan pemeluk Islam, sebelum mengetahui arti dari assalamualaikum, saya menanggapinya dengan diam. Saya pikir, mungkin orang itu bukan bicara sama saya.

Assalamualaikum intinya berarti semoga damai besertamu. Sangat indah. Saya tidak akan membahas apakah salam ini harus diucapkan secara lengkap atau tidak, karena saya hanya terbatas membahas bahasa dan artinya. Saya baru mengetahuinya saat masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Sejak itu saya tidak pernah ragu untuk membalas salam tersebut dengan waalaikumsalam, yang intinya mengatakan semoga Tuhan memberkatimu. Sangat indah. Begitu pula dengan shalom yang artinya damai sejahtera. Jawaban dari salam ini adalah shalom. Sangat indah dan menyenangkan mengetahui begitu banyak orang yang mengharapkan damai untuk sesamanya setiap kali mereka mengucap salam, apapun itu bahasanya.

Di gereja saya ada kebiasaan yang tidak saya temukan di gereja manapun saya pernah beribadah. Sebelum pendeta berkotbah, dia membaca ayat dari Alkitab dan mengakhirinya dengan ‘Salam Damai’ alih-alih menggunakanshalom. Kemudian jemaatnya diinstruksikan untuk saling bersalaman sambil mengucap ‘Salam Damai’. Banyak yang canggung, termasuk saya ada awalnya, rasanya lebih nyaman bila menggunakan bahasa yang tidak cukup kita mengerti karena kita mungkin jadi tidak perlu bersungguh-sungguh mengatakannya. Bagaimana kawan-kawan yang biasanya mengucap assalamualaikum diganti bahasanya dengan bahasa Indonesia menjadi semoga damai besertamu? Saya cukup yakin kecanggungan tidak terhindarkan.

Tapi apakah kita yang mengucapkan salam itu benar-benar sudah menyadari artinya dan memang secara tulus mengharapkan kedamaian bagi lawan bicara kita? Afterall, it’s not about religion things, it’s simply about language. Kita hidup di negara dengan banyak perbedaan di dalamnya, damai akan terasa begitu orang-orangnya bisa saling menghormati perbedaan yang ada dan bertoleransi satu sama lain.

Saya selalu diingatkan untuk tidak menulis hal-hal yang menyinggung agama. Tulisan ini tidak bermaksud membanding-bandingkan apalagi menyinggung agama manapun. Tulisan ini juga bukan berasal dari mana-mana melainkan murni opini pribadi saya, jadi tentu ketidaksepakatan atas tulisan ini sangat memungkinkan. Salam damai dan semoga sejahtera.

*Penulis adalah Pemimpin Perusahaan di Pers Mahasiswa SUARA USU dan Mahasiswa Sastra Inggris USU 2008.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).