BOPM Wacana

Timnas, Pantang Jemawa!

Dark Mode | Moda Gelap

Indra Sjafrie tengah berusaha membangunkan macan Asia dari tidurnya, melalui Timnas Indonesia U-19. Tapi hati-hati, pantang untuk jemawa atas pencapaian ini.

Dua puluh dua tahun! Selama itulah publik atau rakyat Indonesia menunggu pelepas dahaga itu hadir. Dahaga gelar juara yang dinanti-nantikan. Meskipun hanya menjadi nomor satu di level Asia Tenggara dan di level junior pula, sepatutnya kita bersyukur atas perjuangan tanpa lelah yang diberikan Tim Nasional (Timnas) Indonesia U-19 (di bawah umur 19 tahun) di kompetisi Piala AFF (ASEAN Football Federation) U-19 September lalu.

Gelar juara ini tentu tidak sembarangan. Garuda Jaya –julukan Timnas U-19– berhasil menampilkan permainan olah bola yang memukau. Ada beberapa hal yang menjanjikan dilakukan oleh Evan Dimas (kapten Timnas U-19) dkk. Pertama adalah stamina dan determinasi tinggi. Sudah rahasia umum jika salah satu kelemahan pemain sepak bola kita adalah stamina. Rata-rata dari 90 menit, napas para pemain kita hanya sanggup bertahan di kisaran 70 menit-an saja. Namun, kelelahan fisik nyaris tidak terlihat dalam permainan mereka. Alhasil determinasi permainan berhasil dipertahankan selama dua kali empat puluh menit.

Kedua adalah produktivitas gol. Determinasi tinggi para pemain Garuda Jaya dapat dibuktikan dengan gol-gol yang diciptakan. Paling sahih, dari tiga pertandingan terakhir di ajang kualifikasi Piala Asia U-19 2014 lalu, Evan Dimas dkk sanggup menciptakan sembilan gol. Termasuk tiga gol ke gawang Korea Selatan, yang merupakan salah satu kekuatan sepak bola Asia. Eloknya lagi, gol-gol yang lahir pun berasal dari proses yang beragam. Melalui sontekan, sundulan, tendangan jarak jauh, tendangan bebas, aksi individu, kerja sama dan lainnya.

Ketiga adalah fakta bahwa asal para punggawa Garuda Jaya yang tersebar dari beberapa penjuru dan pelosok tanah air. Selama ini, timnas kita agak Papua-sentris. Pemain kunci kerap berasal dari Papua. Ini membuktikan sebenarnya talenta-talenta muda di republik ini lumayan melimpah. Terakhir mungkin adalah sosok Indra Sjafrie. Pelatih asal Sumatera Barat inilah figur penting yang mengharumkan nama kita. Ia adalah salah satu pemandu bakat PSSI (Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia) sebelum naik tahta menjadi pelatih kepala Timnas U-19. Dari penciuman tajamnya sebagai pemandu bakatlah pemain-pemain ini terkumpulkan. Tak heran, ia mengenal betul karakter-karakter para pemain dan meramu taktik yang sesuai. Tentu kita berharap sentuhan magis Indra Sjafrie terus berlanjut.

Kita juga berharap pemain-pemain Garuda Jaya saat ini memanglah benar generasi emas seperti yang ditampillkan beberapa media belakangan ini. Kita tidak mau prestasi yang diberikan hanya sesaat saja. Ajang-ajang lebih besar seperti Piala AFF, Piala Asia, bahkan Piala Dunia harus dijadikan target selanjutnya. Tentu dengan anak-anak muda ini. Inilah tantangannya. Dan tantangan kita juga untuk selalu memberi dukungan untuk timnas kita. Maka tidaklah berlebihan disebut jikalau yang dicapai sekarang ‘belum seberapa’.

Terus mengembangkan kemampuan adalah kewajiban setiap pemain muda ini. Dan tak cepat puas terhadap apa yang dicapai. Ingat usia aktif pesepak bola itu adalah dalam rentang umur 17 hingga 35 tahun bahkan bisa lebih. Dan usia emas atau usia utama pesepak bola adalah umur 27-28 tahun, seperti Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo sekarang. Artinya bagi anak-anak muda yang lahir sekitar tahun 95-an ini, baru pada 2022 nantilah puncak sebagai pemain sepak bola. Jika kualitas menurun di usia yang sangat hijau itu, alamat melempem dan menjadi semenjana yang akan hadir.

Dan apa yang dilakukan oleh Indra Sjafrie selaku pelatih sangatlah tepat. Ia memperingatkan para pemain agar tidak takluk oleh bujuk rayu popularitas. Hal ini penting demi perkembangan sepak bola kita sendiri. Kita, pelatih kita dan pemain kita sebaiknya dapat belajar dari pelatih klub Arsenal, Arsene Wenger. Dalam dunia sepak bola, lulusan sarjana ekonomi itu terkenal sebagai pelatih yang sangat mengutamakan pemain muda. Ia pun piawai dalam menangani seorang pemain muda menjadi pemain bintang di kemudian hari. Bukti otentiknya adalah nama-nama tenar seperti Thierry Henry, Robert Pires, Francesc Fabregas, Robin van Persie, hingga Theo Walcott. Apakah resepnya? Ia sempat berkomentar yang kira-kira begini: seorang pemain muda tidak perlu terlalu memikirkan kemenangan ataupun gelar juara, tapi perkembangannya lah yang harus diperhatikan, dan gelar itu akan datang dengan sendirinya jika perkembangan itu berada pada treknya.

Satu lagi ucapan mantan pemain sepak bola Inggris bernama Jamie Redknapp mungkin bisa kita resapi. “Ketika bisa mengendarai Range Rover pertama pada usia 18 tahun, apa lagi yang membuat mereka tetap berambisi dan lapar?” katanya. Artinya para pemain muda itu pantang untuk berpuas diri dan larut dalam popularitas. Akhirnya satu kata: pantang jemawa!

Penulis adalah pegiat di Pers Mahasiswa SUARA USU. Aktif sebagai Koordinator Riset Pers Mahasiswa SUARA USU dan mahasiswa Ilmu Politik FISIP USU 2012.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).