BOPM Wacana

Krisis Pemimpin di Musim ‘Berjamur’

Dark Mode | Moda Gelap

Sembilan April tahun mendatang pesta demokrasi terbesar di negeri ini akan dihelat, pemilihan presiden. Tapi adakah pemimpin yang kita idamkan?

Sepanjang sejarah sudah dua kali pesta demokrasi terbesar tersebut dilaksanakan dengan pemilih yaitu seluruh rakyat Indonesia. Meski pemilihan umum (pemilu) pertama berlangsung pada 1955 silam, baru 2004 dan 2009 lah seluruh rakyat yang berjumlah ratusan juta ini dengan syarat tertentu dapat menggunakan hak pilihnya. Konstitusi kita mengamanatkan tersebut.

Gaung pesta demokrasi tersebut sebenarnya sudah terasa sejak hari ini, tepatnya lagi sejak awal tahun ini. Berbagai partai politik (parpol) mulai mempersiapkan diri guna mendapat simpati rakyat. Maklum, hujan yang ditunggu sebentar lagi akan datang. Ya, pemilu itu ibarat hujan. Dan parpol itu adalah jamur. Ibarat jamur yang hanya muncul di musim hujan.

Beberapa tokoh dari berbagai daerah, latar belakang, usia yang terang-terangan berhasrat ataupun yang masih malu-malu juga mulai menjamur. Semua berlomba mengangkat popularitas dan citra masing-masing. Bukannya adu ide gagasan, mereka menjadikan adu memampangkan muka di mana-mana sebagai senjata utama.

Terus terang, rakyat Indonesia sebenarnya geram dengan yang demikian. Demokrasi yang adalah buah dari reformasi 98 ini memang telah memberikan kita kebebasan, yang tidak kita peroleh pada era Presiden Soeharto. Tapi demokrasi ini juga mengabaikan sesuatu. Bebas yang identik dengan kompetisi itu telah melupakan hakikat bebas-nya demokrasi tersebut. Bebasnya demokrasi Indonesia sekarang berorientasi pada kepentingan pribadi dan kelompok. Budayawan Sujiwo Tedjo pernah mengandaikan “Kopassus tidak akan memburu preman selama preman tersebut tidak mengganggu Kopassus itu sendiri”.

Ironis, tapi itulah kenyataan. Salah satu unsur dalam demokrasi memang kebebasan. Tapi bebasnya demokrasi itu berorietasi pada keseluruhan rakyat. Dalam demokrasi, kedaulatan tertinggi ada di tangan rakyat.

Mengapa tadi saya sebut rakyat geram? Bagaimana tidak, beberapa kali pemerintah yang ada gagal menunjukkan bahwasanya kedaulatan tertinggi itu ada di tangan rakyat. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan kerap dinilai tidak pro rakyat. Sebagai contoh, kebutuhan-kebutuhan pokok saja tak mampu “diamankan” oleh pemerintah. Proses impor kerap bermasalah, harga turun-naik, dsb. Kemudian diperparah lagi dengan kasus korupsi yang diderita oleh pemangku-pemangku kekuasaan yang berkait tadi.

Maka tak heran juga calon-calon pemimpin yang kerap menghiasi kehidupan sehari-hari rakyat kita dengan segala pencitraannya sudah “tak dipercayai” lagi. Lantas, bagaimana kedepannya? Apakah tidak ada harapan lagi?

Itulah tugas seluruh rakyat Indonesia saat ini. Kita harus jeli melihat calon pemimpin yang akan kita pilih nantinya. Sudah saatnya untuk lebih cermat dan peduli terhadap masa depan bangsa ini. Kita tentu tidak mau menunggu lima atau sepuluh tahun lagi untuk berharap mendapat pemimpin yang lebih baik lagi.

Kita dijejali dengan banyak kandidat saat ini, mulai dari eks-militer, akademisi, ahli hukum, sampai sesepuh-sesepuh yang katanya masih bertenaga. Kewajiban bagi seluruh rakyat untuk menilai dan memilah mana yang pantas dan memang berorientasi pada kepentingan seluruh rakyat jika memimpin nantinya. Memang sulit, sebab yang diharapkan kerap tak sesuai dengan yang terjadi, apalagi di Indonesia ini. Tapi itulah konsekuensi dari pilihan pendahulu-pendahulu kita yang memilih demokrasi sebagai jalan untuk ditempuh. Jangan terlalu mudah percaya dengan apa yang dijejali kepada kita saat ini. Satu saja yang kita lihat dan cari: siapa di antara mereka yang jika berkuasa akan pro dan mendahulukan kepentingan rakyat diatas segala-galanya. Hal itu mutlak harus dilakukan dan berhasil, jika tidak mau negara ini jalan ditepat saja. Ancaman filsuf Plato sudah menunggu jika kita mengabaikan negara ini sendiri. Plato menyebut, “Konsekuensi akhir jika menolak berpartisipasi dalam politik, maka bersiaplah untuk dipimpin oleh orang bodoh.”

 

Penulis adalah pegiat di Pers Mahasiswa SUARA USU. Aktif sebagai Koordinator Riset Pers Mahasiswa SUARA USU dan mahasiswa Ilmu Politik FISIP USU 2012.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).