BOPM Wacana

The Hunger Games: Ketika Reality Show jadi Mimpi Buruk

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh Aulia Adam

Judul: The Hunger Games

Sutradara: Gary Ross

Pemain: Jennifer Lawrence, Josh Hutcherson, Woody Harrelson, Elizabeth Banks, Lenny Kravitz,Liam Hemsworth

Naskah: Gary Ross, Suzanne Collins, Billy Ray

Tahun : Mei 2012

Durasi : 142 Menit

Jangan gemari reality show! Karena jika jenis acara ini punya rating bagus di televisi, maka yang terjadi adalah apa yang tampak di sepanjang rol diputar: anak-anak yang saling membunuh!

Hidup Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence) biasa-biasa saja sebelum The Hunger Games ke 74 dimulai. Ia memang punya ibu yang berubah dingin sejak kematian sang ayah, dan adik perempuan yang sering mimpi buruk dan lebih dekat padanya ketimbang pada sang Ibu. Tapi hidupnya berjalan cukup normal. Ia juga punya Gale, pacar yang setia dan baik hati. Semua (masih) normal.

Meski ia adalah penghuni dari Distrik 12?Distrik paling miskin di sebuah negara yang bernama Panem, ia cukup terbiasa. Panem merupakan negara yang berdiri dari reruntuhan Amerika Serikat yang hancur karena perang dunia. Ibukota negara ini disebut Capitol, tempat di mana hampir keseluruhan cerita berlangsung. Capitol dipimpin oleh pemerintahan yang diktator, sehingga pada suatu masa?yang disebut Era Kegelapan?seluruh distrik berontak dan membuat Capitol murka. Kemurkaan itu melahirkan The Hunger Games.

Hunger Games adalah sebuah pertandingan yang mengharuskan tiap Distrik mengirimkan utusan mereka (yang wajib berusia 11-18 tahun)ke Capitol untuk bertarung hingga mati. Setiap distrik wajib mengirimkan seorang gadis dan seorang bocah. Sehingga total seluruh petarung adalah 24 orang.

Cerita bermula saat Primrose Everdeen (Willow Shields), adik Katniss terpilih dalam acara pemungutan. Katniss tak rela karena sang adik baru berusia sepuluh tahun. Jadi ia mengangkat tangan dan bersedia menggantikan posisi sang adik. Sementara Peeta Lark (Josh Hutcherson), terpilih sebagai bocah yang menjadi utusan untuk Distrik 12. Padahal Peeta adalah sahabat Katniss.

Kisah percintaan membumbui film aksi ini. Tapi Ross pintar meraciknya. Meski banyak orang yang menyama-nyamakan film ini dengan Twilight Saga dari segi cerita maupun genre, tapi Ross tak ambil pusing. Ia tetap fokus menghasilkan karya spektakulernya. Bumbu-bumbu cinta diperhalus, tapi ia tak lupa selipkan emosi-emosi agar penonton tetap setia pada layar.

Akhir cerita dibuat dramatis. Katniss dan Peeta sama-sama bertahan dan menjadi pertarung terakhir. Padahal, The Hunger Games seharusnya hanya punya satu pemenang. Keduanya yang terlibat cinta lokasi memilih untuk mengakhiri hidup mereka bersama ketimbang harus saling membunuh. Tapi, The Capitol mencabut aturan mereka sebelum keduanya melakukan usaha bunuh diri.

Dibungkus ketegangan, The Hunger Games benar-benar menarik perhatian. Ross benar-benar pandai menyelipkan pesan yang sama seperti yang diselipkan Collins dalam novelnya. Bahwa, suatu saat Reality Show bisa begitu kejam. Seperti dikutip dari wikipedia, Collins sendiri mendapatkan ide naskah novelnya saat melihat perang Irak di televisi lantas menggabungkannya dengan jenis acara yang paling tinggi ratingnya saat ini: Reality Show.

Kejutan-kejutan juga membuat film ini begitu segar. Seperti dipilihnya Penyanyi Legenda, Lenny Kravitz sebagai pemeran Cinna, penata rias yang mensponsori Katniss dan Peeta. Ross juga menyegarkan mata para penonton dengan sajian efek-efek spesial yang dikemas futuristik.

Saya tak bisa bilang kalau adegan bunuh-bunuhan yang begitu mencekam dalam film ini adalah bagian terburuknya. Karena di saat yang sama, ide yang dipaparkan Collin begitu original dan segar, meski tak bisa ditampik bahwa kekerasan dalam film ini tak disarankan untuk ditonton remaja di bawah 17 tahun.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).