BOPM Wacana

Tentang Rasa yang Menelusup dalam Biasa

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh Hadissa Primanda

Judul: Truth or Dare, Kenangan Musim Hangat
Pengarang: Winna Efendi dan Yoana Dianika
Penerbit : Gagas Media
Tahun terbit: 2012
Jumlah Halaman: 304 halaman

Saat mencintai seseorang, apa pun kesalahannya, kamu tidak akan bisa begitu saja berhenti mencintainya.
Dalam hubungan persahabatan dua wanita dengan seorang pria, tidak akan pernah ada yang baik-baik saja. Agaknya, inilah yang menjadi alasan Winna Efendi dan Yoana Dianika, mempersembahkan cerita pahit manis sebuah persahabatan yang kemudian terusik karena cinta, dalam edisi Gagas Duet kali ini.
Senada dengan novel Gagas Duet yang lain, buku ini juga dibagi dalam dua bagian besar, dengan memaparkan cerita dari sudut pandang Alice dan Catherine, mereka yang bersahabat, dengan judul serupa. Keduanya adalah gadis dengan kepribadian yang beda namun bisa lengket saat bersama.
Gaya penulisan Winna yang dramatis sangat cocok dengan karakter Alice yang tertutup, tidak mudah bergaul dan pendiam. Ia pengidap diseleksia, hingga sulit berkomunikasi dengan sekitar. Tak jarang juga jadi bahan olokan teman-temannya. Alice sangat menyukai sejarah. Baginya, setiap orang akan selamanya menjadi bagian dari sejarah, sekecil apapun lingkupnya. Kesendiriannya ia bunuh dengan merekam kejadian-kejadian terbaik di sekitarnya dengan camcorder.
Beruntung, ia betemu dengan Catherine, gadis manis namun tomboy yang selalu membelanya. Yoana Dianika dengan pemaparan yang lugas, berhasil menghidupkan karakter Catherine ini dalam bagian kedua. Catherine adalah gadis popular di Belfast Area Highschool, selalu mendapat nilai bagus, aktif dalam diskusi dan aktivitas luar sekolah.
Sesungguhnya, mereka telah bertemu saat masih kanak-kanak, namun takdir baru memberi kesempatan mereka bersama saat telah remaja. Sebuah pertemuan tak sengaja yang akhirnya merubah keduanya menjadi sahabat. Hidup di sebuah kota kecil bernama Belfast, mereka punya kebiasaan menghabiskan sore hari di pantai putih Belfast. Catherine akan sibuk bercerita tentang apa saja sementara Alice mendengarkan dengan tenang sembari mengabadikan momen itu dengan camcorder.
Namun, mereka juga punya kebiasaan yang hanya mereka berdua ketahui, yakni bermain truth or dare. Alice selalu memilih truth, karena ia merasa tak ada yang perlu disembunyikan dari Catherine. Lagipula, ia tak menyukai permainan fisik. Kontras dengan Catherine yang kerap memilih dare.
Kehidupan normal persahabatan mereka kemudian mulai berubah saat sekolah mereka kedatangan murid pertukaran pelajar dari Indonesia, Julian. Ketiganya tergabung dalam kelompok sejarah, dan pada akhirnya membuat Julian bergabung dalam lingkaran persahabatan itu, dan ikut dalam semua kebiasaan mereka.
Sejak awal, Alice menyukai Julian namun memilih untuk diam. Sementara Julian memilih Catherine untuk menjadi kekasihnya. Catherine yang selama ini tak pernah menerima pria manapun, akhirnya luluh.
Secara keseluruhan, novel ini memang berkisar pada kisah harian Alice, Catherine dan Julian. Yang menarik, sepanjang keseharian itu, ada konflik batin nan dilematis yang dipendam oleh masing-masing lakon. Misalnya saat Alice harus meredam cemburu saat melihat Catherine dan Julian bersama, atau saat Catherine menceritakan hal-hal manis yang dilakukan Julian padanya, sesuatu yang sesungguhnya ia inginkan pula. Namun ia tetap bersikap biasa dan ikut senang, seakan tak terjadi apa-apa.
Adapula masa Catherine yang dirasuki bisikan-bisikan mengejek dari Heather, musuhnya di sekolah mengenai kedekatan Alice dan Julian yang juga tak biasa. Hingga ikut menimbulkan tanda tanya baginya, meskipun ia redam dan percaya sepenuhnya pada Alice.
Tema yang diambil memang sederhana, mengingat cerita seperti ini juga acap dijadikan novel. Namun, pembagian ke dalam dua sudut pandang membuat penilaian tokoh lebih imbang. Alurnya maju dan pada bagian awal terkesan datar, namun cukup terbantu dengan kejadian-kejadian yang menimbulkan pertanyaan dan konflik yang mengejutkan di bagian tengah hingga sulit menentukan arah cerita. Berbeda dengan cerita cinta segitiga yang lain, akhir yang ditawarkan berbeda dan menggugah emosi.
Sayangnya, resolusi dari konflik tersebut diceritakan di bagian pertengahan, pembatas cerita Alice dan Catherine. Sehingga pembaca akan enggan untuk mengetahui pemikiran Catherine, karena telah tahu ujung ceritanya. Ditambah lagi rentetan perisitiwa telah dijelaskan pada bagian Alice dari awal hingga akhir, sehingga pada bagian Catehrine sering terjadi pengulangan, hingga sedikit membosankan.
Ini adalah karya kelima Winna Efendi, dan keduakalinya bagi Yoana Dianika. Ide ceritanya lebih sederhana daripada cerita yang pernah ditawarkan kedua penulis sebelumnya. Meskipun begitu, kepiawaian keduanya memainkan kata, ditambah latar yang diambil di luar negeri adalah penyelamat novel ini. Gaya penulisan yang mengalir dan tidak rumit membuat pembaca dapat membaca novel ini dalam keadaan santai.
Novel ini didedikasikan pada pencinta roman remaja yang dramatis dan menyentuh.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).