BOPM Wacana

Tamiang No Gabai Bachan

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Elda Elfiyanti

Ilustrasi: Alfat Putra Ibrahim
Ilustrasi: Alfat Putra Ibrahim

EldaPerkenalkan, namaku Delayanti. Hari ini aku menemukan buku Saga No Gabai Bachan. Aku tak paham itu, sampai aku membaca artinya; ‘Nenek Hebat dari Saga’. Mendengar kata nenek, aku langsung tertarik dengan buku ini.

Sekali lagi kubilang aku tertarik karena ada kata nenek. Aku ingin tahu sehebat apa nenek yang ada dalam buku ini, mana yang lebih hebat, nenekku atau nenek dari Saga ini?

Tanpa butuh hitungan hari, buku ini tuntas kubaca. Cukup membosankan. Apalagi kalau si pembaca tak merasakan suatu hal berkesan dengan neneknya. Tapi bagiku, buku ini seperti perahu yang membawaku pada kenangan masa kecil.

Aku terbayang sosok wanita berumur lima puluh lima tahun. Beberapa helai rambutnya mulai memutih, tubuhnya agak gemuk dan pendek. Meski demikian, menurutku dia cantik dengan kulit kuning langsat dan hidung yang mancung. Matanya bulat ditemani bulu mata yang lentik dan alis tipis melengkung di atasnya. Sedikit kerutan mulai tampak di dahi dan ujung matanya, tapi tidak dengan pipinya yang masih tebal dan padat berisi, tidak tampak kendur dimakan usia.

Ada beberapa bagian dalam buku ini yang membuatku tertawa terbahak-bahak. Sumpah, ini nenek gokil beud, pikirku. Tapi lama-lama aku paham apa yang membuat nenek ini hebat. Selain rasa sayang pada cucunya, pola pikirnya menurutku juga cukup praktis.

“Nenek, aku tak suka bahasa Inggris,” ujar si cucu. Nenek menjawab, “Jawab saja saya orang Jepang.” Si nenek selalu ingin membuat cucunya tak merasa terbebani.

Berbeda dengan nenekku, karena ia memahami baca tulis dan perhitungan meski tak mencapai sekolah tinggi, Nenek rela menungguku mengerjakan tugas matematika. Sambil menjahitkan baju boneka Barbie yang aku minta. Sebagai pedagang, aku tahu bagaimana lelahnya Nenek. Tapi dia juga tak pernah menolak pintaku.

Hal lainnya yang cukup menggelitik namun haru adalah ketika si nenek menjadikan sungai sebagai supermarket siap antar. Atau ia membelikan cucunya sepatunya dengan harga 10.000 Yen, padahal harganya tak sampai segitu.

Mungkin ini hal yang hampir mirip dengan dengan nenekku. Nenekku sangat senang ketika aku harus tampil menari dalam acara perpisahan kakak kelasku. Sayangnya dia tak bisa datang karena harus bekerja. Nenek bilang, jangan lupa pergi ke studio foto. “Nenek mau lihat potonya,” kata nenekku.

Selain itu, nenekku adalah orang yang penuh kejutan, tak pernah habis rasanya kebahagiaan yang aku miliki ketika bersama Nenek. Setiap kali ia memiliki uang lebih dari berdagang, walaupun ekonomi sedang sulit, ia selalu memberikan aku benda baru. Seperti baju, bando, sandal, dan sering kali jepit rambut. Yang terkadang membuat sepupuku iri dan meminta pada Nenek, lalu aku pun iri karena Nenek membelikannya.

Rasa bahagia yang tak pernah hilang, hingga akhirnya Allah memisahkan aku dan Nenek untuk selamanya. Aku merasa itu adalah hal terburuk dalam hidupku dan tak pernah lagi aku merasakan sakit selain hari kepergian Nenek. Hingga aku pun berpikir untuk ikut pergi bersama Nenek dalam tanah, tapi aku sadar ada orang lain yang inginkan aku hidup yakni Embah (panggilan kakek dalam bahasa Jawa).

Jadilah aku yang harus menjaga Embah setiap harinya, karena Embah bagian dari kebahagiannya dan dialah yang menjagaku dan mencariku setiap harinya saat petang tiba.

Embah, yang terpaut usia lima belas tahun lebih tua dari nenekku, adalah orang yang sangat terpukul dengan kepergian Nenek. Ia tak setetes pun menjatuhkan air mata dari kedua mata sipit yang dibalut alis tebal. Kesedihannya tampak dari raut wajahnya dan dia menjadi pendiam. Laki-laki berkulit putih ini hanya diam melihat istrinya yang terbujur kaku.

Kalau anak dalam buku itu bertemu dengan neneknya karena ia sudah tamat sekolah dan ingin kembali ke Hirosima, justru aku bertemu Bunda saat kepergian Nenek. Yang kuingat Bunda tiba sudah tengah malam, saat aku sudah terlelap dalam tidur dan tenang dari riuh menangisi Nenek. Mataku sulit dibuka karena terus menagis, aku melihat wajah Bunda samar-samar. Aku menagis lagi. Lalu aku tertidur lagi. Selama seminggu aku menangis ketika orang menyinggung tentang nenekku.

Kalau anak dalam cerita itu ayahnya sudah meninggal, tidak dengan ayahku. Ayah sehat sampai hari ini, pertemuanku dengan Ayah terjadi setelah Embah meninggal. Entah apa yang dipikirkan orang tuaku sebenarnya? Entahlah.

Kalau dalam buku itu ibunya harus bekerja di Hirosima, begitu pun dengan orang tuaku. Mereka juga pergi meninggalkanku karena harus bekerja. Beberapa tempat di Sumatera sampai Kalimantan mereka singgahi tanpa membawaku.

Aku tak sedih dan tak peduli karena aku adalah anak Nenek. Begitu orang-orang menyebutku. Sama halnya dengan si anak itu, aku pun hanya dapat mengunjungi ibuku saat liburan sekolah. Saat aku telat dikembalikan orang tuaku, maka Nenek yang menjemputku langsung untuk ikut bersamanya ke Tamiang agar aku tak bolos sekolah. Setiap mengingat ini, aku merasa berdosa karena sekarang aku sering bolos kuliah. Maaf, Nenek.

Kalau si anak dalam buku itu sangat ingat bagaimana cerita ia berpisah dengan ibunya. Sungguh sampai detik ini aku tak pernah ingat bagaimana orang tuaku meninggalkanku. Bahkan, aku baru saja sadar bahwa selama ini aku tak ingat bagaimana orang tuaku meninggalkanku.

Entah karena aku yang masih kecil atau itu adalah kenangan pahit yang tak sanggup untuk kuingat. Terpendam di memoriku. Aku jadi ingat drama Korea ‘Kill Me, Heal Me’. Seorang anak yang menderita gangguan psikologis berkepribadian ganda, karena tak sanggup menerima dan mengenang rasa sakit di masa kecilnya.

Syukur aku tak seperti itu. Aku masih aku. Tanpa sosok lain. Tapi aku sangat ingat bagaimana kesedihan ketika Nenek ingin meninggalkan aku pergi bekerja di Malaysia. Itu lebih dulu terjadi dari orang tuaku meninggalkanku. Mendengar aku yang tak ingin masuk rumah. Nenek langsung pulang dan tak pergi-pergi lagi tanpaku.

Lihatlah bagaimana kebahagiaanku bersama Nenek. Ini adalah hal paling istimewa dan bahagia. Aku sering menangis mengenangnya.

Nenek, meski budimu belum terbalas, namun doaku tak pernah putus untukmu. Dan Embah, kalian jodoh sejati, jaga Nenek di sana agar kita bertiga dapat berkumpul lagi kelak. Dari Dela, cucu tersayangmu.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).