BOPM Wacana

Skype

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Lazuardi Pratama

Tuhan bersabda melalui utusannya bahwa manusia semakin dekat dengan akhir zaman. Saking dekatnya bak hidung di depan kedua matanya. Tuhan berkata melalui utusannya bahwasanya akhir jaman akan datang lewat peringatan-peringatan tersirat. Salah satunya adalah jarak dan waktu yang kian memendek.

Aku yakin tuhan dari mereka yang memercayai hari penghabisan adalah lelucon. Tuhan mereka senang sekali bersenda gurau dan mereka telan sabdanya bulat-bulat. Pemahamanku hidup belasan tahun—hampir berkepala dua—sangat meyakinkan mengenai hakikat gaib dan ketuhanan. Meyakinkan sekali seperti ketidakyakinanku pada waktu dan jarak yang memendek serta keberadaan si pengingat yang gaib.

Waktu adalah detik yang jika berputar 360 derajat akan menghasilkan menit, dan menit yang berjingkat-jingkat syahdu setelah berputar 360 derajat juga akan melahirkan jam. Jam memiliki bapak bernama hari. Ia juga memiliki kakek bernama bulan dan buyut bernama tahun. Sesederhana itu kepercayaanku perihal waktu dan kuyakini mereka tidak akan khianat.

Namun, pemahaman dengan belasan tahunku—tidak dengan ketidakpercayaanku pada keberadaan gaib—roboh berkeping-keping. Hal yang merobohkannya sedang berada tepat di depan mataku: Skype.

***

Rasanya kesal sekali ketika si penyusup rumah tangga—ibu tiri, karena aku benci padanya—memanggil namaku dengan lantang. Dia pasti tidak tahu dan selalu berpura-pura tidak tahu apa yang selalu kukerjakan di dalam kamarku. Dadaku diisi penuh oleh dongkol.

Tidak kuacuhkan panggilannya yang sudah ketiga kalinya. Aku kembali pada layar laptopku, menyapa kembali gambar sosok wanita anggun yang tadi sempat terganggu karena panggilan si ibu tiri.

Mira namanya. Lengkungan di bibirnya tanda respon atas permintaan maafku karena sempat tidak mengindahkannya tadi sangat menawan. Walaupun samar, lesung pipit di kedua pipinya tampak dan membuat hatiku damai tapi dada berdebar.

“Tidak apa kok,” balasnya masih mempertahankan senyumnya yang menyihir.

Mira sangat elegan dengan rambutnya yang dikepang setengah. Hitam legam bak mutiara hitam bawah laut. Ia keturunan Jepang dari kakeknya. Pipinya menggembung saat kemudian aku menggaruk belakang kepalaku karena canggung. Lewat aplikasi tatap muka ini kutemukan kembali kebahagiaan singkat dalam sejarah perjalanan hidupku.

Aku ingin kembali melanjutkan perbincangan kami tentang hobi barunya belakangan ini, cosplay. Tapi pintu kamar diketuk keras, itu si ibu tiri. Kuyakini dia kesal karena tidak kupedulikan panggilannya tadi, tapi sekali lagi kukatakan, dia hanya ibu tiri dan tidak pantas kesal.

Aku terganggu, tapi masa bodoh. Mira lebih penting daripada ibu tiri menyebalkan itu. Tapi gedoran itu memang sangat keras sehingga Mira pun dapat mendengarnya.

“Dan… Daniel,” kata ibu tiri dari balik pintu. “Kau di dalam? Bisa bantu ibu belikan obat adikmu di apotek simpang?”

Aku pura-pura tidak mendengar, berharap ibu tiri menyerah dan berlalu.

“Kayaknya kamu lagi dipanggil, tuh,” sahut Mira. Aku menyesal pengeras suara lupa kuredam ketika ibu tiri memanggil dengan tanganku sampai-sampai Mira bisa mendengar.

“Enggak kok, kamu mungkin salah dengar,” balasku sebelum kuredam pengeras suara. “Ibu lagi ngomong sama adik.”

Mira mengangguk-angguk tanda sepakat denganku. Sementara itu, sesuai harapanku si ibu tiri menyerah setelah memanggil beberapa kali—dengan pengeras suara kuredam. Ia lalu berlalu. Aku dan Mira kemudian mengobrol sampai larut. Pesona Mira benar-benar bisa melupakan segalanya.

           

Jam dinding kamarku berdenting pelan sekali. Jarum pendek, jarum panjang dan si jarum detik sepakat berada di pelukan angka dua belas, tapi si detik belum apa-apa sudah minggat lagi. Dentingan pelan dan pelukan angka dua belas menjadi saksi akhir perjumpaan lewat aplikasi peyingkat jarak dan waktu antara aku dan Mira. Walaupun khatam, Mira dan lesung pipit senyumnya masih saja terbayang dan menghangatkan jiwa.

Total tiga jam empat belas menit lima puluh tiga detik durasi kami mengobrol. Aku berdiri dan meregangkan diri ke kiri dan ke kanan. Mataku yang serasa membias kulirikkan ke mana-mana. Lirikan mataku berhenti setelah aku menyadari ada lembaran uang dan secarik kertas di bawah pintu kamar. Pasti si ibu tiri menyisipkan benda-benda ini dari celah bawah pintu setelah dia menyerah memanggilku tadi.

Kuhampiri uang dan secarik kertas itu. Dua ratus ribu dalam pecahan lima puluh ribu dan kertas dengan tulisan tangan yang tak bisa kubaca, kuyakini ini resep karena si ibu tiri tadi mengatakan sesuatu tentang obat.

Si ibu tiri dan adikku pasti sudah lama sekali menunggu obatnya. Aku merasa sangat sulit dan tertekan sekali mempunyai ibu tiri yang sudah berkursi roda dan adik yang sakit-sakitan. Sedangkan ayah sedang dalam perjalanan bisnis ke luar kota. Kusesali ibu kandungku telah meninggal, padahal dalam situasi seperti ini dia mampu pergi sendiri membeli obat.

Jadi kukeluarkan motor dari garasi dan kupacu kencang di jalanan gelap. Penyesalanku selanjutnya adalah letak rumahku yang berada di pelosok desa. Dulu ibu sebelum ia meninggal bersikeras agar ayahku membangun rumah di pinggir hutan. Katanya ingin membesarkan anak dalam kedamaian. Tapi kini aku malah tidak merasa damai sedikitpun.

Bagaimana tidak, motorku sudah sangat kencang kupacu, tapi apotek di simpang belum tampak. Lampu depan motorku juga sudah ku-stelterang benderang, khusus untuk saat-saat seperti ini, tapi pekatnya gelap tengah malam membuatnya kalah telak. Jadilah ia samar.

Aku memacu motorku lebih kencang, hampir 100km/jam dalam jalanan becek karena tadi siang hujan deras. Aku tidak peduli bila ada orang yang menyebrang atau binatang di tengah jalan, yang penting aku bisa keluar dari sini secepatnya.

Memasuki tikungan, kulambatkan motorku saat kulihat seorang wanita berada dipinggir jalan. Sedang apa ia tengah malam begini? Penduduk pribumi atau sedang tersesat adalah pikiran awalku. Busananya kotor sekotor kotornya oleh lumpur karena warnanya kecokelatan. Asumsiku dia tersesat dan terpeleset di lumpur karena hujan siang tadi.

Aku mengerem motorku lebih kencang agar bisa melihatnya sebentar. Lalu aku dan motorku semakin mendekat padanya. Tangan kirinya terjulur kedepan, punggung tangannya tampak tegang. Semakin kudekati, yang tampak adalah pergelangannya membengkok tidak normal.

Kucoba melihat wajahnya dari atas motorku yang melaju perlahan didepannya. Aku prihatin juga.

           

Kepalanya tidak ada.

           

Jantungku berdenyut kencang, sangat kencang dan kemudian serasa berhenti. Napasku tercekat. Aku memang tidak percaya gaib, tapi ini dalam situasi berbeda.

Ingin kupacu motorku sekencang mungkin. Tapi motor ini rasanya tak berfungsi. Kutarik gasnya sampai kandas, motor tidak menambah kecepatan, malah melaju pelan tepat di depan wanita tak berkepala itu. Tak berani kutatap dia, pandanganku ke depan, tapi kosong.

Dunia rasanya sunyi dan perasaanku menginginkan dunia ini segera kiamat. Segera.

           

Tik… tik….

Ding!

Dentingan jam dinding di dalam kamarku berbunyi pelan, tapi membangunkanku dari tidur. Jam menunjukkan pukul dua belas dan ternyata aku tertidur di meja, di depan laptopku. Aku ingat tadi aku baru saja mengobrol dengan Mira lewat aplikasi tatap muka. Pasti aku ketiduran ketika Mira mohon ijin sebentar untuk minum.

Aku jadi merasa bersalah pada Mira. Sekaligus malu karena terang-terangan tidur di depannya. Tapi perasaan malu dan bersalahku itu jadi hambar saat kuingat-ingat lagi bahwa aku berjumpa dengan wanita tanpa kepala. Syukur saja itu hanya dalam mimpi. Walaupun begitu dadaku berdebar-debar tak keruan.

Kupikir sebaiknya kulupakan saja mimpi itu dan bersegera menutup laptop yang sedari tadi standby karena kubiarkan hidup. Aku ingin tidur secepatnya saja karena cemas.

Tapi sesuatu tampak ganjil terlihat di layar laptopku. Kilatan anti goresnya menangkap sesuatu di belakangku. Kusipitkan mata agar jelas.

Dari layar laptop…

… wanita itu…

… tanpa kepala.

 

Tangannya terjulur dengan pergelangan yang membengkok ganjil.

Dengan cepat sekaligus tegang, kutengok kebelakang.

           

Kosong. Tidak ada siapa-siapa kecuali tempat tidurku yang kelihatannya empuk.

Aku bernapas lega. Dadaku semakin tak karuan debarannya. Segera kubalikkan pandanganku ke laptop untuk menutupnya ketika….

 

 

Kepala buntung tergolek di atas laptop.

           

Senyum.

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).