BOPM Wacana

Silent Partner, Teman Baik untuk Pendengkur Akut

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Amelia Ramadhani

Ilustrasi: Maria Patricia Sidabutar
Ilustrasi: Maria Patricia Sidabutar

 

Banyak manusia bermimpi bisa tidur lelap di tengah malam tanpa terganggu dengkuran salah satu anggota keluarga. Bulan Oktober nanti, mimpi ini akan terwujud dengan diciptakannya teman sejawat untuk meredam dengkuran.

Waktu kecil dulu, saya lebih memilih untuk tidur bersama kakak dibandingkan dengan Ibu dan Bapak. Biasanya Bapak malam-malam akan membuat keributan, mendengkur. Suaranya menakutkan. Saya selalu berimajinasi kalau suara dengkuran itu adalah gunung api yang meletus pada malam hari.

Terkadang tak hanya Bapak, Ibu juga bisa ikut-ikutan mendengkur saat tidur. Tapi tak sesering Bapak, tergantung ritme kerjanya di siang hari. Jika terlalu capek, Ibu akan mendengkur saat tidur. Makanya saya lebih memilih untuk tidur dengan Kakak. Ia sama sekali tidak mendengkur walau capek sekolah seharian.

Waktu Bapak mendengkur, saya berusaha mengguncang badannya supaya berhenti mendengkur. Kadang saya menekan hidungnya, sehingga ia susah bernapas. Ia bergerak sedikit dan kemudian dengkurannya akan terhenti. Namun tak sepanjang malam juga. Bapak hanya berhenti sesaat badannya terguncang saja. Saya berharap suatu saat nanti ditemukan alat untuk meredam dengkuran yang sangat bising.

Seiring berjalannya waktu, teknologi juga berkembang. Ilmuwan mulai banyak meneliti hal-hal sederhana dalam kehidupan tapi memiliki dampak yang luar biasa. Akhirnya di usia ke 21 tahun, impian saya terwujud. Tim peneliti yang berasal dari Amerika Serikat berhasil menemukan alat peredam suara dengkuran. Namanya silent partner.

Alat ini pertama kali ditemukan seorang ahli fisika dan komputer yang bermarkas di San Francisco, Amerika Serikat. Tim peneliti yang berjumlah tujuh orang ini membutuhkan waktu selama satu setengah tahun. Tim mulai melakukan penelitian sejak Januari 2015 silam dan berhasil menemukan alat peredam dengkuran pada Mei tahun ini.

Alat ini sangat praktis digunakan sebab ukurannya yang kecil. Kedua sisi ujungnya hanya seukuran jempol tangan manusia dewasa. Selain itu, kedua ujung silent partner didesain khusus sehingga ia tidak menggangu jika Anda tidur dalam posisi telungkup. Penggunaan alat ini cukup mudah yaitu dengan ditempelkan pada hidung saat Anda tidur. Ujungnya sudah dilengkapi alat perekat medis sehingga tidak terlepas walaupun Anda bergerak saat tertidur.

Cara kerja silent partner dalam menumpas dengkuran adalah dengan menabrak semua gelombang bunyi yang diproduksi manusia saat mendengkur. Silent partner akan memancarkan amplitudo suara dengan frekuensi yang sama dengan frekuensi dengkuran manusia tapi berbeda arah. Karena frekuensi gelombang suara yang ditimbulkannya berlawanan arah dengan frekuensi dengkuran, maka suara dengkuran akan terpatahkan oleh suara yang dihasilkan. Makanya setelah memakai silent partner, suara dengkuran tidak akan terdengar lagi.

Untuk menekan frekuensi yang dihasilkan oleh suara dengkuran, silent partner membutuhkan daya. Kedua ujung pipihnya diisi dengan baterai dengan daya sebesar 1,4 volt. Baterai ini bisa tahan hingga 12 jam lamanya. Sehingga alat ini mampu meredam dengkuran sepanjang tidur Anda yang rata-rata tidur selama 8 jam dalam satu hari. Komponen lainnya adalah sensor, ruang resonansi, pengeras suara, pengendali mikro, dan penguat daya.

Saat mendengkur, sensor akan mendeteksi suara. Kemudian suara yang terdeteksi oleh sensor akan diteruskan ke algoritma untuk menciptakan gelombang suara yang berlawanan dengan frekuensi gelombang dengkuran. Suara ini akan diteruskan kembali ke pengeras suara yang nantinya akan menciptakan suara. Gelombang suara akan saling bertubrukan dan akhirnya mematahkan frekuensi gelombang suara dari dengkuran dan akhirnya meniadakan suara.

Tak perlu khawatir jika Anda kehabisan baterai. Alat ini juga dilengkapi dengan charger kabel mini USB dan disambungkan dengan charger telepon seluler.

Untuk mendapatkan fungsi yang maksimal, pemasangan alat ini tidaklah boleh terlalu jauh dari lubang hidung. Alat ini dipasang harus pada jarak 20 cm dari lubang hitung.

Alat ini masih dalam tahap penyempurnaan sehingga belum dapat digunakan bagi penderita sleep apnea atau penyakit susah bernapas saat tidur. Sebab penggunaan alat ini ditempelkan pada hidung. Hal ini bisa saja mengakibatkan lubang hidup penderita akan mengecil karena alat ini.

Bagi Anda pendengkur akut, mungkin alat ini bisa menjadi solusinya. Anda tidak akan dicap lagi sebagai perusuh pada malam hari. Namun Anda harus bersabar sebab alat ini masih dalam masa perbaikan dan akan diproduksi massal pada Oktober 2016 nanti.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).