BOPM Wacana

Sekat Tak Kasatmata: Ketika Berpendapat di Depan Umum Dihantui Rasa Takut  

Dark Mode | Moda Gelap
Ilustrasi. | Tio Hasianna Vincentia Hutahaean
Ilustrasi. | Tio Hasianna Vincentia Hutahaean

Oleh: Deasy Glorya br Situmorang

“Ruang terasa penuh dengan suara, namun keberanian hanya hadir pada segelintir orang. Ada sekat membuat kita bertanya: siapakah yang benar-benar dapat mendengarnya?”

Di kehidupan sehari-hari kita sering melihat ruang diskusi yang terbuka dimana saja, baik itu di grup keluarga, lingkungan kampus, tongkrongan sesama teman hingga di media sosial. Idealnya, tempat-tempat tersebut menjadi ruang untuk bertukar pandangan dengan bebas. Namun kenyataannya, tidak semua orang merasa nyaman menyampaikan opini mereka.

Ada kecenderungan yang semakin terlihat: banyak orang memilih diam ketika pendapatnya berbeda dari mayoritas. Mereka takut dianggap aneh, salah sendiri, atau berseberangan dengan pola pikir lingkungan sekitar. Kecanggungan ini bukan karena tidak punya pendapat, tetapi karena rasa takut. Takut menjadi satu-satunya suara yang berbeda di tengah percakapan yang tampak kompak.

Apakah diam justru membuat berbeda?

Diam sebenarnya tidak salah. Hanya saja, ketika suatu pembahasan semua orang sudah mengangguk setuju pada satu sudut pandang, sebenarnya ada individu yang hendak menyampaikan pandangan lain namun akhirnya mengurungkan niat. Bahkan, ada yang sudah menyiapkan argumen, tetapi menarik kembali kata-katanya begitu melihat ekspresi orang di sekitarnya.

Rasa ragu itu muncul dari tekanan sosial yang halus. Ketika seseorang merasa posisinya sebagai minoritas, ia lebih memilih menahan diri. Pikiran seperti “Nanti aku dibilang berlebihan,” atau “Pasti aku dianggap beda sendiri,” muncul begitu saja. Akhirnya, percakapan dipenuhi suara yang sama, sementara gagasan lain yang sebenarnya menarik justru tenggelam tanpa pernah terdengar.

Fenomena ini membuat banyak percakapan tampak hidup, padahal isinya berputar pada opini yang itu-itu saja. Hanya segelintir orang yang merasa aman untuk bersuara. Sisanya memilih mengikuti arus, sekadar mengangguk atau diam demi menghindari konflik kecil.

Menariknya, setelah momen itu berlalu, baru muncul komentar-komentar yang “disimpan” tadi. Obrolan berbeda malah muncul di belakang layar, ntah itu di chat pribadi, di luar forum, atau saat hanya berbicara dengan orang yang benar-benar dipercaya. Ironis, pendapat yang paling jujur justru tidak keluar pada saat paling dibutuhkan. Beberapa yang memiliki sudut pandang berbeda sering merasa tidak punya tempat di percakapan terbuka. Ada timbul rasa khawatir yang terpendam yang sulit untuk diungkapkan.

Efek yang Tidak Terlihat

Memilih diam memang terasa aman, tetapi kebiasaan ini membawa dampak jangka panjang. Ruang diskusi kehilangan keragaman perspektif yang seharusnya memperkaya pemahaman. Padahal, pertukaran gagasan menjadi lebih bernilai ketika suara mayoritas dan minoritas dapat hadir berdampingan.

Terlalu sering memilih untuk diam membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk melatih keberanian menyampaikan pendapat. Jika kebiasaan menghindari suara sendiri terus berulang, kepercayaan diri akan berangsur-angsur terkikis. Kemungkinan terburuknya adalah seseorang mulai yakin bahwa pendapatnya tidak penting, meskipun sebenarnya tepat atau berharga.

Selain itu, budaya “mengikuti arus” menyulitkan kita membangun kemampuan berpikir kritis. Cenderung lebih mudah mengikuti kelompok besar daripada menyatakan ketidaksepakatan.

Membuka Ruang untuk Suara yang Berbeda

Ada banyak cara untuk menciptakan lingkungan yang lebih ramah bagi pendapat yang tidak selalu sejalan. Lingkungan sosial dapat mulai dibangun dengan menghargai perbedaan kecil dalam obrolan sehari-hari, tidak langsung menghakimi, tidak menertawakan pendapat yang tidak umum, dan memberi ruang bagi orang lain untuk mengungkapkan apa yang mereka pikirkan.

Begitu juga dalam percakapan informal: memberi waktu orang lain menyelesaikan kalimatnya, merespons dengan empati, dan tidak langsung mematikan pendapat yang berbeda dapat menciptakan rasa aman bagi siapa pun yang ingin berbicara.

Perbedaan Bukan Ancaman

Pada akhirnya, keberanian mengungkapkan sudut pandang adalah bagian penting dari kehidupan sosial. Perbedaan bukan ancaman, hal itu justru membawa warna baru dalam cara kita memahami sesuatu.

Setiap suara sama-sama memiliki ruang, meskipun tidak sama dengan kebanyakan orang. Sering kali, pandangan yang berbeda membuka pandangan segar yang tidak terpikirkan sebelumnya. Ketika pendapat kita berbeda, hal tersebut merupakan langkah kecil yang mampu mengubah cara kita melihat dunia dan membuat percakapan menjadi lebih jujur dan bermakna.

Komentar Facebook Anda

Deasy Glorya Situmorang

Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP USU Stambuk 2024. Saat ini Deasy menjabat sebagai Staff Reporter BOPM Wacana.

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4

AYO DUKUNG BOPM WACANA!

 

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan media yang dikelola secara mandiri oleh mahasiswa USU.
Mari dukung independensi Pers Mahasiswa dengan berdonasi melalui cara pindai/tekan kode QR di atas!

*Mulai dengan minimal Rp10 ribu, Kamu telah berkontribusi pada gerakan kemandirian Pers Mahasiswa.

*Sekilas tentang BOPM Wacana dapat Kamu lihat pada laman "Tentang Kami" di situs ini.

*Seluruh donasi akan dimanfaatkan guna menunjang kerja-kerja jurnalisme publik BOPM Wacana.

#PersMahasiswaBukanHumasKampus