BOPM Wacana

Cerita Phile Pada Senja Tentang Gadis Pilia

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Amanda Hidayat

Ilustrasi: Anggun Dwi Nursitha
Ilustrasi: Anggun Dwi Nursitha

Amanda Hidayat

Senja telah tiba, artinya terang akan beranjak digasak gelita. Melipurkan perlahan apa-apa yang tidak senja dan aku sukai—terang, terik cuaca, juga kau berpakaian putih dengan ubel-ubel, di tengah terang kau pakai pakaian yang menyilaukan, huh, bajingan—menuju gelap gemerlapku yang sepi sendiri, berdua, bertiga atau di tengah ramai orang. Perlahan langit lazuardi berubah layung, anggun. Oh senja, kau begitu menggembirakan.

Syamsu di kaki langit barat sedang anggun-anggunnya. Memercik layung ke langit di sekitarnya. Begitu sani memandang aurora dan pasti akan kuabadikan dengan kodak. Oh senja, bayang yang ditimbulkan syamsu perlahan hilang kau pukul rata. Meski timur sana lebih dulu merasakannya, tapi barat pasti kau bagi juga.

Kau begitu adalat senja. Sebab pagi tidak adalat membagi cahaya, timur ia dahulukan. Maka senja, syamsu kau hilangkan lebih dulu di timur sana, barat lebih lama kau terangi. Tapi senja, lain kali kau buat selaras saja timur dan barat mendapat gulita. Sebab pagi terlalu memberatkanmu. Biar saja pagi dicerca. Itu salah pagi, pagi harus adalat. Dan tolong kau sampaikan pada siang—yang sangat tidak aku sukai itu— jangan lagi membuat terik. Atau kau kadukan saja pada penakhlikmu senja, siang tak usah saja ada, terlalu mengganggu terik yang sering ia buat.

Kau mafhumkan senja, tibamu selalu kutunggu. Duduk di kursi kayu meja besi ini setiap hari. Menuliskan imajinasi-imajinasi yang mencuat sepi. Agar kau mafhum senja, kenapa kutunggukan datangmu, aku hanya sukakan kau. Kau sama dengan gadis yang kucinta. Tapi bukan karena itu aku sukakan kau, bukan karena kau pula aku sukakan dia. Kalian begitu teramat sama. Andai saja nanti aku harus memilih satu di antaranya, aku akan pergi ke lantai tiga belas untuk lompat dan mati di bawahnya. Begitu besar cintaku pada kalian. Andai kalian bolehkan aku berpoligami, maka kalian akan kunikahi, beserta hujan, dan gelap syahdu.

Kau memang selalu datang setelah siang keparat itu membuat aku harus menuggu. Dan mafhum kau akan datang setelahnya. Walau aku mafhum kau akan selalu tiba. Tapi tetap saja aku khawatir menunggu getir sepi syahdu yang akan segera kau cipta. Senja, romantisismemu tak akan berkurang, bukan?

Oh senja, aku harap kau izinkan aku dengan gadis. Aku juga berharap kau sampaikan pada yang menakhlikkanmu untuk menyatukan kami dan memberi izin kau selalu bersama kami. Aku ingin kau beraforisme pada penakhlikmu itu, yang konon juga yang menakhlikkanku.

Kau mafhumkan senja, malam ini aku ingin berjalan berdua denganya, sementara malam yang kau ciptakan mendampingi kami. Aku ingin kau juga sampaikan pada penakhlik itu, kalau malam ini harus disertai hujan. Aku ingin berjalan berdua dengan gadis di tengah gelap di bawah hujan lebat.

***

Hai senja, tadi malam begitu berasa, kau berhasil membujuk penakhlikmu. Sini cepat, biar kuceritakan padamu. Gadis begitu cantik luar biasa tadi malam, langkahnya begitu anggun membuaikan. Begitu hujan tiba, dia yang basah kuyup semakin anggun saja. Dan tanpa diminta angin kau beri begitu sempurna. Rambutnya yang terurai melayang-layang di udara. Maksudku, semuanya begitu sempurna.

Kami seperti biasa, tak berdialog meski sepatah kata. Hanya bermonolog, dan disambut monolog lainnya. Itupun satu dua.

Itu baru sedikit, senja. saat hujan semakin deras, aku begitu merasa damai. Kau mafhum aku adalah seorang pluviophile-seseorang yang menemukan kedamaian dan ketenangan saat sedang turun hujan. Ditambah lagi aku bersamanya. Membiarkan hujan merasakan apa yang tengah kami rasakan. Membiarkan gelap yang tak bertepi mengungkung kami, dan angin mengiringi tarian hujan yang ia ciptakan.

Angin sepertinya sengaja menciptakan bunyi dari gesekan-gesekan apa saja yang dilewatinya. Seolah memutar piringan musik klasik romatisismenya. Sungguh, kami berdansa saat itu.

Hidup tidak menuggu badai reda, bukan… badai membuat kita menari dalam hujan. Hujan membuat kita mafhum rasanya jatuh berkali-kali. Gelap mengajarkan kita untuk mafhum sesuatu dengan meraba kemudian merasa, bukan pandangan instan semata.

Ya, itu sebab aku dan gadis sukakan gelap dan hujan. Dan alasan lainnya, kami nyaman dengan itu.

Pagi tadi, tanpa kusadari, aku dan gadis berada di kamarku—entah kapan kami tiba di sana, aku hanya ingat terakhir kali aku di taman berhujan-hujanan dengan gadis tadi malam—tanpa pakaian dan bercak merah terlihat kontras di pinggir spring bed yang putih. Kami sama tersentak dari tidur berkat dering alarm kerjaku. Ini minggu, aku lupa mematikannya untuk tak mengusik hari santai damai tanpa pengganggu.

Hujan masih mengguyur di luar sana. Menambah damainya. Tak lepas senyum seharian menghias raut muka. Bibirnya yang melengkung simetris, hidung runcing, mata damai, rambut ikalnya yang terurai sebahu menawan, wajah oval. Sangat sesuai proporsi dan distribusi cantik, anggun juga mempesona dalam setiap inci tubuhnya. Semuanya begitu menggodaku di tengah damai syahdu.

Duduk berdua tanpa kata. Genggaman, degup jantung, senyum, serta mata kami sudah cukup bercerita.

Mungkin sebentar lagi malam akan ceritakan padamu, apa yang aku ceritakan sekarang. Malam mungkin sudah mempersiapkan kata-kata dengan diksi malam romantisnya. Sebab diksiku begitu biasa. Ceritanya akan lebih menarik.

Kau bisa lihat sendirikan senja, gadis sekarang ada di depanku, di meja yang sama. Duduk manis dengan sesekali menyeduh kopi di hadapannya. Ini pertama kali semenjak masa sekolah dulu, tapi pertama kali dalam hidup gadis. Tapi biar kau tahu, dan kau sebenarnya sudah pasti tahu, tapi akan tetap kuceritakan padamu, karena aku begitu ingin bercerita. Ini momen luar biasa menawan dalam hidupku. Tentu karena gadis bersamaku.

Inginku sampaikan pada gadis apa yang belum aku sampaikan padanya, dan sepertinya ia juga. Sesuatu yang sebenarnya harus dibicarakan. Tapi tetap tersangkut di kerongkongan. Seperti kau yang ingin bicara pada pagi, walau bisa lewat malam. Atau safana pada lautan, meski angin bisa sampaikan. Begitu juga kami. Meski hati saling berpaut, badan sudah berpagut, rohani lama menyatu, tapi sesuatu yang belum disampaikan tetap saja jadi masalah batin mendalam.

Senja, bisa kau bantu kami untuk hanya merasakanmu? Selamanya? Ah, sudah pasti tidak. Penakhlikmu kali ini bakal marah kalau kau minta itu. Kau juga pasti lelah senja. Cukup segini dulu evaluasiku atas traktiran hujan dan malammu semalam. Kau bisa pertanggungjawabkan, dan sampaikan pula pada penakhlikmu itu. Buatlah LPJ-mu dengan sempurna. Tapi dalam LPJ-mu tak usah kau cantumkan tentang keperawanan yang hilang dan kami yang tidur telanjang.

Cukup kau, malam, dan hujan yang tahu itu. Kau mengertikan maksudku? Ini hal yang tabu. Penakhlikmu juga tak boleh tahu. Sebab kalau dia tahu, akan mudah tersebar di antara manusia-manusia melalui utusan-Nya. Asal kau tahu, kalau manusia lain tahu, hal yang dianggap tabu itu bakal mengganggu kenyamanan kami. Maksudku aku dan gadis. Gunjing di sini, sama dengan cerita-cerita dongeng neraka sebagai hukuman kalau tak menjalankan perintah agama. Ini bukan kritikku pada-Nya. Hanya saja aku tak sukakan Dia. Itu saja.

Semoga LPJ-mu diterima senja.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).