BOPM Wacana

Sejarah di Indonesia Tak Sesuai Fakta

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh Gio Ovanny Pratama

Phil Ichwan Azhari tengah memberikan materi pada peserta PJTLN Gebyar Jurnalistik Unimed di Aula Mess PBSI Sumut, Selasa (7/5). | Gio Ovanny Pratama
Phil Ichwan Azhari tengah memberikan materi pada peserta PJTLN Gebyar Jurnalistik Unimed di Aula Mess PBSI Sumut, Selasa (7/5). | Gio Ovanny Pratama

BOPM WACANA – Banyak sejarah di Indonesia tak sesuai dengan fakta yang sesungguhnya. Bahkan ketidaksesuaian sejarah tersebut malah dilegitimasi oleh negara. Ketidaksesuaian sejarah itu terlihat pada berbagai peringatan-peringatan nasional seperti Hari KebangkitanNasional, Kartini yang diangkat sebagai pahlawan, bahkan sejarahProklamasi Kemerdekaan Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Phil Ichwan Azhari, sejarahwan sekaligus Dosen Universitas Negeri Medan (Unimed) pada Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional (PJTLN) di Aula Mess Persatuan Bulu tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Sumatera Utara (Sumut), Selasa (7/5).

Ichwan mengatakan Hari Kebangkitan Nasional yang bertitik tolak pada lahirnya organisasi pemuda Budi Utomo 20 Mei 1908 tidaklah tepat, sebab pergerakan Budi Utomo bukanlah organisasi kebangsaan dan persatuan. Sebab Budi Utomo menolak penerimaan anggota yang bukan orang jawa dan Madura. ”Dari situ jelaslah Budi Utomo adalah organisasi anti nasional,” ungkapnya.

Menurut Ichwan, hari kebangkitan nasional seharusnya dilihat dari pers, nasionalisme Indonesia lahir dari surat kabar atau pers. Terbukti ditahun 1870-an sampai 1900-an telah banyak terbit surat kabar yang menyuarakan kemerdekaan, jauh sebelum terbentuknya oraganisasi Budi Utomo. “Contohnya Pewarta Deli dan Anak Batak, dengan adanya media-media tersebut akan meningkatkan intelektualitas masyarakat,” tambahnya

Kartini yang diangkat sebagai pahlawan menurut Ichwan juga tak cocok, sebab tak ada bukti sejarah yang menyatakan Kartini melakukan perjuangan bersenjata melawan penjajah. Surat-surat yang ia tulis pun tak ada mengandung kata-kata yang bersifat menentang kolonial Belanda. Kartini lebih cocok dianggap sebagai tokoh humanis, yang ditentang oleh Kartini pun sebenarnya adalah feodalisme Jawa.

Solusi yang cocok menurut Ichwan sendiri adalah meningkatkan peran pers dan media dalam upaya pembenaran sejarah. Karena media lebih efektif daripada negara ataupun pemerintah. Namun masalah yang masih terjadi sekarang adalah masih banyak media sekarang yang tak tahu bagaimana sejarah pers itu sendiri, “Sejarah pers saja ditulis tak benar apalagi sejarah negara,” paparnya.

Yovi Lusiana salah seorang peserta dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Teknokra Universitas Lampung (Unila) setuju dengan solusi ini. menurutnya peran media harus besar dalam pembenaran fakta sejarah ini. “Bangsa Indonesia sudah diperbodoh dengan sejarah yang tak benar,” katanya.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).