BOPM Wacana

Secarik Kertas

Dark Mode | Moda Gelap
Illustrasi | Dyah Puspita Anggraini

Ia, sosok yang didambakan setiap gadis yang melihatnya. Hati dan raut wajahnya beku tanpa ekspresi dan empati. Dialah sosok dingin yang membuat hari hariku menjadi panas.

Aku tersentak dengan bunyi lonceng sore dikala itu. Lonceng yang biasa disebut oleh para santriwati jaros (menggunakan bahasa arab). Ku terbangun dengan menggunakan mukena dan sarung di sore itu. Tak lama kemudian datanglah pengurus asrama (mudabbiroh) yang sedang piket untuk mengingatkan bahwasannya sudah waktunya untuk berangkat ke mesjid.

“ hayya ukhty, sari’an.. ahsubukunna hatta stalasa, man muta’akhir ana ueti iqoban shadidan!”

“(Ayo cepat dek, aku hitung sampai tiga, siapa yang terlambat aku kasih hukuman berat!”

Mendengar suara itu, akupun tersentak, langsung bergegas mengambil sajadah dan al quran lalu berangkat ke mesjid

Namaku zahrinna jasmine aku bersekolah di tempat yang biasa disebut pesantren oleh orang pada umumnya. Sekarang aku duduk dibangku kelas 2 SMP. Aku bisa dibilang anak yang sangat optimis dalam pelajaran dan kegiatan yang berada di pondok. Namun, sayangnya aku berada di kelas terbawah dan terancam akan tinggal kelas jika aku tidak belajar dengan sungguh sungguh.

Sesampainya dimesjid, aku melihat ribuan santri dan santriwati duduk di setiap shaf sembari membaca al-qurán dan tak sedikit pula yang tertidur karena masih mengantuk termasuk aku. Namun, tak lama kemudian terdengar suara dari kejauhan. Suara pukulan sajadah dan keluhan santriwati yang terkejut pun mulai menggema. Ciri khas para pengurus mesjid yang sudah menjadi kebiasaan bagi kami. Namun, aku tidak menghiraukannya dan melanjutkan tidurku. Tak lama kemudian ‘’BUK’’ suara pukulan sajadah yang berasal dari pengurus mesjid membangunkanku

“bisa bisanya anti tidur. Sana ambil wudhu!” tutur suara pengurus mesjid. *anti = kamu perempuan

Setelah itu, aku memutuskan untuk bangkit dan mengambil wudhu. Setelah selesai sholat, aku bersama dengan 3 temanku, Laila, Rain, dan Rina pergi ke dapur bersama-sama sembari bercerita singkat dan merencanakan pencurian buah mangga yang sudah berbuah lebat di depan asrama kami.

“Laila.. gimana ? anti udah dapat bilah bambu yang dekat laundry itu ? ana pingin banget makan rujak mangga” tanyaku *ana = saya

“aihh, kemarin ana cari, katanya udah di simpan sama bagian lingkungan..kalau gk percaya tanya aja sama Rina. “

“ meresahkan sekali ya osis bagian lingkungan ini.. klo gitu, malam ini kita manjat saja..” sahut Rain

Setelah itupun, semua setuju dengan ide Rain. Akupun termenung sejenak karena memikirkan nasihat mamak agar tidak kabur dari pondok. Sebenarnya aku tidak tahan di pondok dan sudah merencanakan beberapa pelarian. Namun sayangnya, selalu tertangkap basah oleh satu orang yaitu osis keamanan santri putra kelas 3 SMA yang bernama Rifqi. Semakin kuingat tatapan dingin dan senyum meremehkannya, semakin kesal aku dibuatnya.

Tanpa sadar aku berjalan meninggalkan 3 temanku dan menabrak seseorang di depanku

 

“BUGH” akupun tersandung oleh sendalku dan tanpa sadar ada yang menarik lenganku agar tidak jatuh. aku merasa lega karena tidak jadi tersandung, dan memutuskan untuk mendongakkan kepalaku.

“terima ka.. AAAA.. TIDAK TANGANKU TERNODAI MANUSIA HARAM SATUNI”  ucapku refleks

“ Heh anak piyik se kotor apasi ana di mata anti ?, ingat ana ini bagian keamanan! mau ana laporkan ke keamanan putri supaya anti dihukum?“  ucap lelaki tersebut yang tak lain adalah Rifqi

Aku merasa bersalah dan memutuskan untuk meminta maaf

“iya iyaa, afwan ya akhi, ana gk sengaja”

(iya iyaa maaf ya bang, saya gk sengaja)

Rifqi pun hanya melirik tajam, dan pergi tanpa menjawab satu patah katapun.

“Anak syialan, tau gini dah ku jambak aja tu rambut sampe rontok. Ngeselin bangetsi jadi makhluk hidup. Akhhhhhh….”

Teman temanku yang sedari tadi memperhatikan dari belakangpun tertawa mendengar ocehanku.

“hahahaha jangan jangan jodoh za ?”  ucap Rina

“ iya soalnya teh, kamu ketangkepnya sama akhi Rifqi terus. “ sambung Laila *akhi = abang

“yee, kapan ana ketangkap sama dia sih, selain percobaan kabur waktu itu ?” tanyaku

“ pertama anti ketangkep basah, nyeduh pop mie jam 3 pagi. yang kedua, anti ketahuan sembunyi di dekat tangga mesjid karena gamau pramuka. Ketiga anti ketahuan pergi ke wilayah putra tanpa izin dari keamanan putri, yang keem… ” disaat Rain mau melanjutkan omongannya akupun memotongnya.

“eetsssss iya iya.. ana tau ana sering ketangkap sama dia dah.. udah gausa disebutin lagi.. tambah kesel ana dengarnya. Setidaknya, hari ini kan hari terakhir akhi Rifqi di pondok. Karena dia udah lulus. Jadi setelah itu, hidup ana bakal tenang..”

Setelah percakapan singkat itupun, kami makan malam di dapur santriwati dan dilanjutkan dengan belajar malam. Setelah itu aku dan teman teman yang lain memutuskan untuk tidur karena waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.

Pukul 1 malam

“Zahra.. bangun, ayo katanya mau ngambil mangga” ucap ketiga sahabatku yang membangunkanku untuk menjalankan misi mengambil mangga. Karena pondok kami melarang santri dan santriwatinya mengambil buah yang ditanam di pondok. Tak jarang para santri mengambilnya diam diam Karena jika ketahuan, akan dihukum oleh osis bagian lingkungan.

“iyaa.. antum deluan aja ke lokasi. Ana mau ke hammam dulu.. kebelet soalnya”

(iyaa.. kalian deluan aja ke lokasi. Aku mau ke kamar mandi dulu.. kebelet soalnya)

Akupun bangkit, dan langsung menuju ke kamar mandi.

Setelah keluar dari kamar mandi, diperjalanan aku mendengar suara petikan gitar yang begitu indah.. lantunan kunci gitar yang dipadukan dengan suara seseorang yang sedang bernyanyi membuatku merasa tenang sesaat. Rasa kantuk itupun hilang seketika. Penasaran dengan pemainnya, akupun memutuskan untuk mengintip dari kejauhan.

Ternyata ia adalah Rifqi. Aku tertegun sejenak, dan berdecak kagum pada Rifqi. Entah mengapa aku merasa saat itu Rifqi bukan seperti orang yang kukenal. Ia terlihat lebih berkharisma dan gagah malam ini, Jantungku seketika berdegup kencang. Namun terlihat jelas raut wajahnya yang sedikit bimbang dan sedih akan suatu hal. Melihat hal itu, akupun memberanikan diri untuk menuliskan sebuah pesan singkat yang selalu kuyakini. Lalu tanpa fikir panjang dan takut dihukum karena di peraturan santri putra tidak boleh bertemu dengan santriwati, akupun langsung menghampiri Rifqi yang tengah duduk di bangku taman tersebut.

“anti cukup berani ya kesini, padahal anti tau ana bagian keamanan.” Ucap Rifqi setengah kaget melihatku.

Melihat reaksinya, aku hanya diam dan menyodorkan secarik kertas tersebut tanpa berkata apa apa. Rifqi terlihat semakin bingung, namun ia tetap menerimanya walaupun ragu – ragu. Setelah itu aku langsung pergi. Agak jauh dari pandangan Rifqi, aku memutuskan untuk mengintip sebentar. Aku melihat Rifqi membuka kertas tersebut, lalu tersenyum. Baru kali ini aku melihat Rifqi tersenyum begitu manis, Aku merasa sedikit terpikat padanya dan rasa dendamku, seketika terkikis sedikit demi sedikit ketika mengingat senyumannya.

Tiba – tiba aku merasa ada yang menepuk punggungku. Aku refleks membalikkan badan sembari menutup mata karena takut yang menyapaku bukanlah manusia.

“Za, anti ngapain disini ? Rain sama Rina udah nunggu anti di depan pohon mangga daritadi loh..” celetuk Laila dengan nada sedikit kesal karena sudah menunggu terlalu lama.

“afwan Lai.. ana tadi mau ambil jilbab di jemuran, karena besok kan pramuka..”

( maaf lai.. aku mau ambil jilbab di jemuran, karena besok kan pramuka..)

ucapku bohong agar temannku tidak tahu aku bertemu akhi Rifqi.

“yaudah ayo ke pohon mangga..” ajak laila

Kami berjalan mengendap – endap menuju pohon mangga dan disana kami langsung memulai aksi kami.

“jadi, yang manjat siapa ? “ tanya Rina

“Laila, anti aja yang manjat.. kan anti lincah” sahut Rain

“ihh, jangan ana, ana gk berani kalau manjat pohon setinggi ini” celetuk Laila

“yaudah, ana aja.. antum jaga dibawah ya.. jangan tinggalin ana..” tawarku

“okeey Za… kami siap menampung dan gk akan ninggalin anti kok” ucap mereka serentak

Akupun memanjat pohon dan memetik beberapa buah mangga. Sudah dirasa cukup, ketika hendak turun terdengar suara hentak kaki yang sedikit berat. Ternyata Rifqi berjalan mengarah ke arah kami. Dengan cepat Laila,Rina, dan Rain berlari meninggalkanku

“weeehh kalian mau kemana ? ana masi nyangkut ini disini.. aaa Lailaaaaaa” ucapku panik.

“udahhh anti diem dulu disono. entar, kalau akhi Rifqi udah lewat, kami balik kook.. tahan yaa Zaa gelantungannya, jangan sampe jatoh..” tutur Laila dengan ringannya sambil berlari ke arah asrama.

“ anti kira ana monyet, punya temen minus akhlak begini ni.. sialan emang ” umpatku dalam hati.

Rifqi berjalan mendekati pohon mangga dan berhenti tepat di bawah Zahrinna yang sedang menahan nafas ataupun gerakan agar Rifqi tidak melihat ke atas.

“ya allah ya tuhanku, maha esa dan maha pengampun, tolong hamba agar tidak berurusan dengan kutil amoeba ini lagi ya allah. Hamba lelah… ” doá ku dalam hati

Dari kejauhan, aku bisa melihat teman temanku sudah mengupas mangga yang kami petik tadi. Dan Rifqi masih tetap berdiri di bawah pohon mangga sambil tersenyum. Karena, tanpa Zahrinna sadari, Rifqi sudah tau kalau Zahrinna ada di atas kepalanya. Rifqi sengaja berlama lama karena ingin tahu, seberapa lama Zahrinna tahan bergelantungan di pohon mangga.

“sumpah astaga ni bocah kaga pergi pergi.. ngapainsih di sini ? nyari laron ape yak ?” gerutuku dalam hati

Sekitar 5 menit berlalu, lalu Rifqi iseng menggoda Zahrinna secara tidak langsung

“pohon mangga yang ini kalau gasalah yang dibilang Arya angker. Katanya banyak kuntilanak duduk disini. Apalagi kalau buahnya lebat.” Ucap Rifqi seakan akan ia menggerutu sendiri, padahal ia ingin Zahrinna mendengarnya.

“AAKKK.. Rifqi kurang ajar.. bisa bisanya bilang gitu waktu aku lagi gelantungan.. minta di pites ni bocah amoba” ucapku panik.

Tak lama kemudian, Rifqi pun memutuskan untuk pergi dan membiarkan Zahrinna tidak tertangkap hari ini. Zahrinna bersyukur dan langsung turun menyusul teman temannya yang sudah terlebih dahulu memakan mangga hasil curian mereka.

Seminggu setelah kejadian malam itu, Rifqi tidak terlihat lagi di area pesantren. Hal ini membuat zahrinna merasa tenang sesaat.

Tibalah saat masuk kelas. Aku sedang membaca buku novel, saat itu aku tengah larut dengan cerita yang kubaca sampai tidak sadar bahwa seorang ustad sudah berada di sampingku. Aku  yang tengah asik membaca novel  itu, ditegur oleh teman sebangku.

“Za.. coba liat ke samping deh..” ucap Aisha setengah berbisik

Aku yang keheranan pun langsung menoleh ke samping dan bertatapan langsung dengan ustad tersebut yang tidak lain adalah Rifqi. Saking dekatnya, baik zahranni ataupun Rifqi bisa saling merasakan hembusan nafas mereka.

Aku mematung sesaat, dan hatiku berkata Terlalu dekat… tanpa sadar akupun salah tingkah

‘’ AAKKK.. PLOOKK” aku pun berteriak dan memukul Rifqi dengan novel. Seisi kelas terkejut dengan tingkahku. Rifqi merasa kesakitan sesaat namun, ia tetap stay cool di depan murid muridnya. Dan ia langsung berjalan menuju meja guru.

“okay anak anak.. perkenalkan nama saya Muhammad Rifqi Hasan, saya adalah wali kelas kalian yang baru. Berhubung di hari pertama saya mengajar saya tidak mendapat pengalaman baik, untuk Zahrinna mungkin bisa temui saya di kantor usai kelas ini berakhir. ”

Aku yang awalnya sudah merasa tenang dan bahagia karena Rifqi sudah lulus, ternyata harus menerima kenyataan pahit bahwa Rifqi mengajar di pondok pesantren ini. Dengan lemas dan tak bertenaga akupun menjawab “naám ustad” (baik ustad)

 

Akupun melangkahkan kaki keluar kelas menuju kantor ustad Rifqi dengan rasa kesal dan malas. Namun, entah kenapa ada perasaan berdebar yang kurasakan.

“aaa.. pengen beli es teh sama risol padahal. Ngapasi gak masih jadi santri, gak juga ustad, masih aja tetap merusak kehidupan damaiku..” sepanjang jalan, aku hanya menggerutu soal Rifqi yang telah menjadi ustad sekaligus wali kelasku.

Di kantor Rifqi

Assalamuálaikum ustad..” ucapku

Waalaikumsalam.. masuk za” sahut Rifqi

Setelah masuk, Rifqi mempersilahkan ku untuk duduk. Dan ternyata di atas meja penuh gorengan risol dan es teh manis.

“waaahh makanan.. bagi dong akhi, ana  lapar..” tuturku tanpa rasa malu

Rifqi tersenyum tipis dan mempersilahkanku untuk makan. Lalu bangkit dan berbalik sambil berkata

“Habiskan aja za, ana sengaja beli untuk anti.” Dengan suara yang sangat kecil seperti orang yang sedang malu malu.

“yeeyy.. makan.” Ucapku kegirangan.

Selama Zahrinna makan, Zahrinna melihat ustad Rifqi yang sering salah tingkah, dan bahkan sedikit ceroboh, karena Rifqi sempat tersandung kakinya sendiri beberapa kali di depan Zahrinna. Terkadang Rifqi pun terlihat curi curi pandang kepada Zahrinna. Terkesan seperti seorang pemuda yang tengah berusaha mendekati wanita yang ia sukai. Setelah Zahrinna selesai makan, Rifqi pun memberanikan diri dan memanggil zahrinna

“zaa..”

“iya ustad ?” tanyaku

“nih.. surat balasan malam itu” ucap Rifqi membuatku kaget

Aku mengambil nya dan membuka surat itu. Aku mematung dan merasa salah tingkah setelah membacanya.

“Aku tunggu kamu sampai kamu siap..” isi surat itu membuat hatiku berbunga bunga selama beberapa bulan.

Setelah kejadian tersebut, Rifqi tidak mengganggu Zahrinna seperti dulu. Namun, Rifqi menjadi lebih perhatian dan lebih menjaga Zahrinna secara diam diam. Bahkan Rifqi juga menegur para santri putra yang berusaha menggoda Zahrinna. Di sisi lain, Zahrinna merasa lebih dekat dengan ustad Rifqi tapi, dengan jalan dan cara yang berbeda. Ia merasakan hal itu secara tidak langsung.

CERITA SUDUT PANDANG RIFQI

Selama zahrinna memberikan kertas di malam itu, Rifqi selalu menyimpan dan membawanya kemanapun ia pergi. Sampai suatu hari ia berniat untuk membawa kertas itu ke toko cincin. Ia ingin kertas itu menjadi saksi bisu ketulusan hatinya. Karena sejak awal ia melihat Zahrinna, ia telah jatuh hati. Namun, ia tak tau cara mendekati gadis hyperaktif tersebut. Karena itu, Rifqi hanya memantau dan menjaga Zahrinna agar ia tidak kabur dari pondok ataupun dekat dengan santri putra yang lainnya.

Setelah ia membeli cincin untuk melamar zahrinna, Rifqi pun meminta izin kepada orangtuanya untuk meminang seorang gadis yang sudah taksir sejak dahulu.

KEMBALI KE AWAL

Tok… tok.. tok..

Suara pintu diketuk. Saat itu, zahrinna sedang di kamar mengerjakan tugas kuliahnya sembari mendengarkan lagu. Jadi, ia tidak mendengar bahwasannya Rifqi datang. Itu suatu keuntungan bagi Rifqi karena ia berniat untuk berbicara dengan orangtua Zahrinna terlebih dahulu.

Setelah itu, akupun keluar dari kamar karena ingin ke dapur mengambil minum. Lalu tak sengaja aku melihat Rifqi sedang duduk di ruang tamu.

“zahrin, kamu coba duduk disini dulu nak” panggil kedua orangtuaku

“ada apa ya pak, bu ? ” tanyaku dengan perasaan bingung

“zahrin, kamu ingat surat yang kuberi ke kamu 4 tahun silam ?” tanya Rifqi

“hem..mm iya ustad.. saya ingat” ucapku malu malu

“sekarang saya datang, untuk meminangmu karena saya rasa, kamu sudah cukup siap untuk hal ini. Apa kamu mau zahrin ? tanya Rifqi setengah gugup

Aku malu malu dan menunduk, akupun membalas pertanyaan Rifqi dengan anggukan pelan.

Semua orang merasa gembira tak terkecuali Zahrinna..ia tidak menyangka akan dipinang oleh orang yang paling ia benci selama Ia menjadi santriwati dahulu.

Komentar Facebook Anda

Dyah Puspita Anggraini

Penulis adalah Mahasiswa Kesekretariatan FEB USU Stambuk 2021. Saat ini Dyah menjabat sebagai Desainer Grafis dan Ilustrator BOPM Wacana.