BOPM Wacana

Seumpama Tiada Hari Esok

Dark Mode | Moda Gelap
Ilustrasi | Rachel Caroline Lumban Toruan
Ilustrasi | Rachel Caroline Lumban Toruan

Oleh : Rachel Caroline Lumban Toruan

“Ini tentang bagaimana nanti aku ingin tidur pada suatu Jumat malam yang biasa dan tak lagi membuka mata.”

Namaku Michael, lahir dan besar di keluarga yang berkecukupan. Jika direnungkan dalam-dalam, 20 tahun ku lalui dengan berbagai macam peristiwa yang menurutku sudah Tuhan siapkan. Sebab, seperti lagu yang sering kusenandungkan dulu—“burung pipit yang kecil, diberi keindahan. Terlebih diriku, dikasihi Tuhan.”

Sewaktu kecil, penggalan lagu ini terasa sepele seraya dinyanyikan dengan tepuk tangan riang gembira. Kini, hal ini membawaku kepada pemahaman: Meskipun kesehatan dan kesempatan hidupku hanya separuh dari orang normal, tetapi Tuhan membuat cerita hidupku tidak diatur setengah-setengah.

Jika beberapa orang berpandang bahwa penyakit adalah sebuah kekurangan, maka aku melihatnya sebagai ‘alarm’, bahwa ada yang harus dibenahi dalam diriku. Melalui ini, perenunganku jatuh kepada benar adanya bahwa hidupku selalu diperhatikan-Nya. Ada waktu-waktu alarm itu bunyi dan membuatku berbaring selama beberapa saat, ada pula waktu dimana aku dibuat-Nya mampu untuk menekan tombol stop pada alarm itu sehingga aku bisa bangkit kembali kepada keseharianku sebagai freelancer.



Bohong sekali apabila ku katakan hidupku sesuai dengan rencana. Bohong apabila aku menyatakan bahwa aku tidak pernah terkejut dengan waktu yang secepat kilat berlalu. Kemarin, rasanya baru saja aku berbahagia atas tahun baru, atas segala perayaan yang aku jalani, hingga tanpa disadari kini sudah menuju akhir bulan sebelas.

Ada malam-malam dimana saat seluruh tabir langit terasa kelam, dan pikiranku melayang-layang. Saat yang sama aku merasa iblis dalam kepalaku mulai menuliskan berbagai skenario yang membuatku kehilangan kewarasan. Samar-samar ku dengar isak tangis di ruang tengah, sungguh, apakah iblis di kepalaku berpindah ke sana?

Lamat-lamat seraya ketakutan, ku lihat sekeliling ruangan. Mataku terhenti saat melihat wanita tua tengah sujud melipat tangannya sambil meringis. Ternyata ibuku. Ibuku yang janda itu, banting tulang sendirian membesarkanku dan saudara-saudaraku. Satu-satunya wanita yang ku tahu ingin sekali ia memberi kami barang-barang terkini, dari pakaian trendi hingga kendaraan pribadi. Namun, ia tak mampu.

Entah berapa banyak malam yang tak ku ketahui; seperti saat-saat sekarang ini, saat dimana ia menangis diam-diam, saat sujud-sujud yang kali pertama baru ku tahu pada detik ini—samar-samar namaku disebut. Dibalutnya segala ego dan marah atas sikap anak-anaknya dalam sebuah doa seorang ibu, janda, yang tidak ingin apa-apa selain anak-anaknya bahagia dan kebutuhan rumah tercukupi.

Ibu masih senantiasa menyisipkan namaku dalam doanya, diam-diam tanpa seorang pun yang mendengar. Sosok yang betah tertungkup sujud dan menunduk lama-lama saat aku menjadi topik yang sedang ia pinta hingga berurai air mata. Sebab sama sepertiku yang pernah mendengar detak jantungnya dari dalam, ibu mengenal dan menyayangiku serta seluruh saudaraku. Dari masa berhasil hingga gagal, dari telanjang hingga berpunya, dari bingar hingga senyap. Terus dan tetap begitu siang dan malam.

Ibuku, janda yang tengah sujud berisak tangis itu, selalu sendirian tak punya pasangan saat menghadiri acara-acara sekolah kami. Namanya selalu dalam urutan pertama pada daftar orang-orang yang melihat unggahan media sosialku. Sudah ketinggalan zaman pun, masih memaksa dibuatkan akun Instagram. Selalu ingin yang paling baik untuk kami, meski ku tahu kulit keriputnya mulai lelah dan tak lagi sepenuhnya mampu.

Kembali ku tutup pintu perlahan agar tak berderit. Perlahan ku ulas kembali apa yang barusan ku lihat: makin aku dewasa, ibu juga semakin tua. Saat ini ada lebih banyak kerutan di sekitar mata dan tangannya, kerut-merut yang berkecamuk dalam pikirannya yang tak kalah lebih banyak, jauh dibanding saat aku masih bisa ditimang-timang atau saat aku masih menjadi manusia sehat.



“Sampai kapan aku begini?”, gumamku getar. Menemukan dan jujur pada diri sendiri tak selalu menyenangkan. Ada kala menyakitkan, dan membingungkan. Aku menebak-nebak akan berada di mana aku saat ini kalau saja beberapa tahun lalu aku mengambil keputusan yang berbeda untuk menjalani hidup teratur dan tidak pulang sewaktu larut.

Pikiranku hanyut oleh berbagai dugaan dan merasa apa yang telah ku jalani dulu sangat sia-sia. Namun, kalau dipikir-pikir, jika tidak seperti itu aku mungkin tak pernah merasakan jatuh cinta pada seseorang yang ku temui setahun terakhir.

Tidak mudah bagiku untuk jatuh cinta, maka dia adalah salah satu orang yang terlampau istimewa bagiku. Pun aku tidak mudah percaya, maka bila hari itu aku membagikan rahasiaku padanya itu berarti dia adalah salah satu manusia yang tak ku anggap sama dengan sikap dunia. Ku harap saat kami tak lagi disatukan oleh selamanya, maka jadilah dia seaman-amannya kawan yang pernah mampir dalam perasaanku.

Entah berapa kali pikiranku selalu ditelan kecemasan, dikalahkan perasaan rendah diri, dan direbut rasa takut tak menentu. Sampai-sampai perasaan tidak layak yang menjauhkanku untuk memilikinya. Aku akan mencintai dengan diam-diam.

Sejak merenungkan semuanya satu malam tanpa tidur, saat pagi ku rasakan pandanganku mulai kabur, kepalaku terasa berat sampai mendapati diriku kembali opname. Kondisiku membaik tepat sehari sebelum hari ulang tahunku. Sepulang ke rumah dan menyadari koleksi bukuku sudah habis, maka kuputuskan besok aku akan mengunjungi toko buku.

Sesampai di dalam, alih-alih mengingat daftar buku yang ingin ku beli, ingatanku justru tertegun pada lagu yang diputar di sana. Koleksi favorit ayah, Celline Dion, yang sering diputarnya di mobil saat kami sedang berjalan bersama.

Bicara tentang bapak, hingga kini aku masih ingat saat kami berbincang tentang masa depanku. Aku yang dulu jelas terlalu kecil merasa tak ingin kalah berlomba menjadi orang dewasa sewaktu melihatnya mengantar kakakku yang mulai berkuliah. Jauh berotasi hingga arus pikiranku berujung kepada bapak yang tidur di Jumat malam yang biasa dan tak pernah lagi membuka mata. Tentang bagaimana orang-orang berdatangan keesokan harinya, berbicara seraya mengenangnya padahal sudah bertahun lama tak saling sua.

Menjelaskan bagaimana kadang suatu hal lekat untuk selamanya, juga manusia yang kadang lebih menghargai sesuatu yang terlanjur tiada. Akankah nanti aku juga akan tidur di suatu Jumat malam yang biasa dan tak lagi membuka mata? Yang jelas ini tentang bagaimana kelak waktu membawa pengertian bahwa hidup adalah serangkaian peristiwa yang entah dan kapanpun bisa diingat, lalu kematianlah yang terbesar diantaranya.

Usai membeli buku dan menuju perjalanan rumah, pemikiran tadi masih terbawa hingga tak kusadari mobil besar menghantamku sewaktu menyebrang.



Gelap.

Di hari aku kembali membuka mata, dia yang ku cintai dalam diam benar-benar hadir di depan mataku. Akankah halusinasiku yang saat ini menjengukku? Tetapi tepat di sebelahnya ada ibuku yang dengan antusias diiringi tangis haru menyambut kesadaranku.

“Kamu dari semalam selalu menyebutkan namanya”, ujar ibu sembari mengusap air matanya.

Kurang lebih 1 jam ibu meninggalkan kami berdua untuk saling bercakap-cakap. Di antara basa-basi dan beberapa pertukaran informasi yang saling kami lontarkan, akhirnya aku memberanikan diri menyatakan perasaanku. Di saat yang sama aku juga mengakui bahwa aku seorang pembohong yang dulu dengan sengaja membalas pesannya dengan kalimat: “Hai, selamat pagi, Maaf baru balas karena semalam aku sudah ketiduran. Tuhan berkati untuk hari ini!” karena pada malam itu aku memilih untuk merindu dan menutupinya dengan alasan ketiduran.

Lalu soal di mana kami berbicara empat mata untuk memutuskan menjalani kehidupan kami masing-masing karena aku telah kalah cepat dalam menyatakan. Saat itu berpura-pura antusias mendengarnya telah memiliki pendamping yang ku rasa jauh lebih baik dariku, berpura baik-baik saja seolah tidak ada hal-hal yang aku pikirkan. Padahal, hal-hal yang ingin ku utarakan terus berlomba untuk diucapkan lebih dulu dalam kerongkongan, dan ku endapkan menjadi pilu.

Lalu, kebohongan terakhir yang aku lakukan di detik ini dan tak tahu kapan ku ungkap lagi ialah, setelah kita kembali bertemu sebagai teman dan kembali berpisah, aku dengan tanpa beban seolah ringan hati melihat kepulangannya. Padahal, aku hampir saja menariknya dalam pelukan saat kami sedang berjabat tangan untuk yang terakhir kali.

Kalau bisa, aku ingin dia memiliki perasaan yang sama. Lantas, lewat perasaan yang tak terbalas aku mulai belajar bahwa tak semua bisa ku raih sekeras apa aku berusaha. Lewat patah hati, aku belajar bagaimana cara dan rasanya mengampuni. Lewat kehilangan, aku belajar takkan lagi penderitaan yang terlalu sepele atas apa yang orang lain rasakan. Hal-hal yang tidak sesuai harapanku sekuat apa aku mengaminkan akan mengajarkanku pengampunan.

Detak jantungku melemah, separuh badanku rasanya melayang. Benar saja. Perebut paling hebat itu datang. Semua orang enggan menyambut, tetapi tak pernah gagal membuat orang-orang kalut: maut.

Bu, seumpama benar adanya aku mati hari ini. Hitung dan rekam hal-hal kecil lagi sepele yang pernah kita lakukan. Biarkan aku hidup pada sekat-sekat kecil dari hal yang sederhana yang telah dilalui. Sebab saat aku hendak menutup mata, segala yang biasalah yang paling ku ingini untuk aku hidupi selamanya.

Komentar Facebook Anda

Rachel Caroline L. Toruan

Penulis adalah Mahasiswa Psikologi USU Stambuk 2021. Saat ini Rachel menjabat sebagai Koordinator Multimedia BOPM Wacana.