BOPM Wacana

Quinn Brenner

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Fredick Broven Ekayanta Ginting

Judul : Insidious Chapter 3
Sutradara : Leigh Whannell
Naskah : Leigh Whannell
Pemain : Dermot Mulroney, Stefanie Scott, Lin Shaye, Michael Reid MacKay
Tahun : 2015
Durasi : 97 menit

Sibuk dengan Fast and Furious 7 membuat James Wan melepaskan lanjutan Insidious ketiga ini. Tiada keluarga Lambert lagi. Leigh Whannell, sutradara baru, mengganti  poros cerita pada sosok Quinn Brenner.

Quinn terima pesan dari hantu. | Sumber Istimewa
Quinn terima pesan dari hantu. | Sumber Istimewa

Quinn Brenner (Stefanie Scott) merelakan datang jauh-jauh dari rumahnya untuk mengunjungi Elise Rainier (Lin Shaye), seorang cenayang. Alasannya: ia selalu gelisah selama setahun terakhir. Ia rindu kehadiran ibunya yang meninggal setahun lalu. Ia merasakan bahwa ibunya ingin menyampaikan sesuatu padanya. “Aku punya lima puluh dolar,” bujuk Quinn agar Elise mau membantunya.

Elise menolak. Bukan karena uang. Ia sudah putuskan berhenti sebagai cenayang, berhenti bermain-main dengan dunia orang mati (dunia gelap, atau the further). Pasalnya semakin ia sering masuk ke gelap tersebut, semakin ia akan sering berinteraksi dengan ‘penghuni’nya. ‘Penghuni’ gelap tersebut berkecenderungan ingin bawa orang yang hidup ke dalam dunianya. Tapi ada ‘penghuni’ yang lebih jahat: mereka yang ingin tetap berada dalam gelap, tetapi bersemayam dalam tubuh orang yang hidup. Elise sudah diikuti sosok bride in black, yang sangat bernafsu untuk membunuhnya. Ia tak mau berurusan dengan itu lagi.

Quinn tidak memaksa. Namun Elise melihat ‘sesuatu’ dalam diri Quinn. Elise tahu Quinn sudah mencoba berkomunikasi dengan ibunya di rumah, tak berhasil.  Elise juga melihat sejarah dirinya dalam diri Quinn. Pertama kali ia belajar masuk ke gelap sebab ia rindu luar biasa pada mendiang suaminya. Ia jadi cenayang agar bisa berkomunikasi dengan orang paling dicintainya tersebut. Ia tahu persis perasaan Quinn.

Elise memanggil ibu Quinn, Lilith Brenner, dari gelap. Tapi yang dia temukan bukan Lilith. Merasa tak mampu banyak membantu, Elise tak menyanggupi permintaan Quinn. Ia minta Quinn pulang dan cari cenayang lain. Ia nasihati Quinn, “Jangan pernah panggil orang yang sudah mati dari dunianya, sebab semua bisa mendengarnya”. Dugaan Elise benar: ia lihat sesosok lelaki yang tak bisa bernapas (Michael Reid MacKay) mengikuti Quinn ketika ia meninggalkan Elise.

Quinn semakin rindu pada ibunya tatkala ia kecewa pada ayahnya, Sean Brenner (Dermot Mulroney), yang tak mendukung impiannya menjadi pemain teater. Ia salahkan ayahnya yang justru membebaninya di rumah, untuk mengurus adiknya yang nakal. “Kau tak pernah menyinggung ibu. Ibu mati karena ingin menjauhimu,” tuduhnya. Sean berkilah, “Aku selalu melihat sosok ibumu setiap kali melihatmu”. Itu tak cukup menenangkan Quinn.

Begitulah gambaran Quinn dengan keluarganya. Film ini merupakan prekuel seri pertama dan kedua, yang mengambil setting delapan tahun sebelum kejadian dalam Insidious pertama. Quinn adalah gadis yang lebih dulu diselamatkan Elise, sebelum menyelamatkan keluarga Lambert. Film ini juga menerangkan bagaimana pertama kali Elise, yang berlatar psikiatri, punya kemampuan menerawang dunia gelap.

Insidious identik dengan ruang gelap berisi roh orang-orang yang sudah mati. Di sinilah Elise menjelaskan bagaimana dunia itu ada. Di sini pula Elise menjelaskan bagaimana ‘penghuni’ gelap tersebut mengambil jiwa orang yang hidup, agar mereka merasa ‘hidup’ kembali.  Kejadian yang dialami Quinn mirip dengan yang dialami Dalton, putra Lambert. Jiwa mereka hendak diambil oleh ‘penghuni’ dunia gelap yang lebih jahat.

Quinn dengan penculiknya dari dunia 'gelap' | Sumber Istimewa
Quinn dengan penculiknya dari dunia ‘gelap’ | Sumber Istimewa

Stefanie Scott yang memerankan Quinn merupakan pilihan sukses yang diambil Leigh. Quinn adalah fokus utama film ini, baiknya Stefanie berhasil menjiwai perannya sebagai gadis yang menunggu ibunya sekaligus dikejar oleh teror lelaki tak bernapas. Ia mampu membangun simpati penonton dan sukses menggantikan Patrick Wilson sebagai pemeran utama. Quinn kemudian terselamatkan oleh kedatangan ibunya yang menguatkannya untuk melanjutkan hidupnya. Quinn memang akhirnya sadar bahwa ibunya takkan pernah kembali. Namun, Quinn juga ‘diyakinkan’ oleh ibunya bahwa ia selalu berada dalam hati dan pikiran Quinn.

Leigh lebih dulu dikenal sebagai sutradara spesialis film slasher, melalui Saw. Maka, Leigh sudah tahu bagaimana menciptakan suasana menegangkan nan horor untuk penonton. Menurutnya, kuncinya adalah dengan mengendalikan emosi penonton secara beruntun bak roller-coaster. Maka ia ciptakan film ini dengan adegan-adegan pendek yang secara bergantian menampilkan sisi horor dan sisi cooling-down. Alur film menjadi kencang, tak sempat membiarkan penonton menarik napas.

Tapi Leigh memulai cerita dengan perlahan. Adrenalin penonton dibiarkan tenang hingga saat Quinn tertabrak mobil sepulang dari teater. Sebelum tertabrak, fokus penonton diarahkan pada sesosok makhluk yang dilihat Quinn di tengah jalan. Penonton diajak Leigh tidak memikirkan kemungkinan ia tertabrak secara mengejutkan. Di akhir, penonton tetap diberi adegan penutup mengejutkan serupa dua seri sebelumnya, hal yang akan menciptkan penasaran penonton atas kelanjutannya.

Meski menerapkan strategi cerdas dengan memainkan emosi penonton, Leigh belum benar-benar mulus dalam mengeksekusinya. “A scare is much like a joke, tell it too many times and it will lose its charm.” Demikian ungkap Theodore Quincy mengomentari film ini di www.imdb.com. Apalagi di dua seri sebelumnya Insidious di tangan James Wan lebih menitikberatkan kehororannya pada alur cerita didukung latar musik yang menakutkan.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).