BOPM Wacana

Penulis dan Pahlawan (Memperingati Hari Pahlawan Nasional)

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Muslim Ramli
Hampir setiap tahun selalu ada perdebatan mengenai pemberian gelar kepahlawanan. Beberapa waktu lalu sekelompok orang sibuk memperjuangkan mantan presiden Gus Dur dan Soeharto sebagai pahlawan. Mereka dianggap salah satu orang berjasa bagi negeri ini. Terlepas dari semua pro kontra mengenai pemberian gelar terhadap kedua orang ini, saya punya penilaian sendiri terhadap kriteria seorang pahlawan.

Selama ini gelar pahlawan identik dengan gerilyawan yang berjuang di medan perang. Mereka yang meninggalkan anak istri demi sebuah tujuan. Rela mati asalkan merdeka dapat diraih. Lantas bagaimana dengan penulis?

Menurut wikipedia, pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Sedangkan kata pahlawan sendiri berasal dari bahasa sangsekerta. Kata pahlawan berarti orang yang dari dirinya menghasilkan buah (phala) yang berkualitas bagi bangsa, negara, dan agama.

Mirip dengan arti sebenarnya, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan pahlawan sebagai orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pahlawan juga diartikan pejuang yang gagah berani.

Kesimpulan dari ketiga pengertian di atas adalah tidak selamanya pahlawan itu orang yang terjun ke medan perang dan gugur sebagai bunga bangsa. Kalau dulunya perang adalah hanya pertikaian senjata, di masa sekarang perang itu  mengalami perluasan makna. Tergantung bagaimana seseorang menjalankan profesinya. Jika dia merasa sudah membela kebenaran dan menolong orang banyak, dialah pahlawan itu.

Seorang penulis juga pahlawan jika memang tujuan tulisannya untuk membela kebenaran. Tidak mudah memang menjadi pahlawan dengan profesi penulis. Seorang penulis haruslah mempunyai wawasan yang tinggi terhadap tulisan, mengandung makna, menimbulkan perubahan dan siap mempertanggungjawabkan semua isi tulisannya jika suatu saat ada pihak yang keberatan dengan tulisannya.

Saya menilai, Indonesia sudah melahirkan penulis-penulis hebat yang layak mendapat penghargaan sebagai pahlawan. Sederetan nama seperti Goenawan Muhammad, Andreas Harsono, Linda Christanti, Pramoedya Ananta Toer, Hasan Tiro dan beberapa penulis lainnya telah membuat karya hebat yang menggugah Indonesia.

Sebagai contoh Price Of Freedom, sebuah buku yang ditulis Hasan Tiro. Buku ini menjawab semua pertanyaan mengapa Aceh menuntut kemerdekaan dari Republik Indonesia. Bukan tanpa alasan dan bukti kongkrit seorang Hasan Tiro berani menulis buku tersebut. Ia menyaksikan langsung bagaimana sikap bangsa ini terhadap tanah bertuah Serambi Mekah ini.

Timbul pergolakan dalam hatinya untuk menuntut perubahan. Melalui buku inilah dia menjelaskan semua alasan mengenai betapa beharganya sebuah kemerdekaan jika rakyat didaerahnya tidak mendapat keadilan. Walaupun tidak mendapatkan kemerdekaan itu, bukankah kita sudah mulai merasakan perubahan? Memang bukan sepenuhnya gara-gara buku tersebut. Setidaknya tulisan Hasan Tiro telah mengubah pandangan kita tentang Aceh. Kalau begitu, Hasan Tiro juga pahlawan. Pahlawan bagi rakyat Aceh.

Penulis Juga Pahlawan

Menjadi seorang pahlawan bukanlah tanpa persiapan. Analoginya, seorang tentara yang terjun ke medan pertempuran. Ia harus mempunyai modal dan persiapan dalam berperang jika tidak mau mati konyol. Lucu saja kalau mau jadi pahlawan tapi tidak punya bekal. Begitu juga dengan penulis, sebelum terjun ke dalam medan pertempuran, harus ada persiapan terlebih dahulu.

Modal utama dari seorang pahlawan adalah berani. Berani untuk menulis. Berani mengungkapkan kebenaran. Berani mempertanggungjawabkan. Dan siap menerima resiko jika tulisannya berdampak negatif terhadap masyarakat selaku pembaca.
Kedua, penulis harus mempunyai kemampuan. Artinya, ia lihai mengolah kata, menganalisis data dan mempunyai struktur yang jelas untuk menjadikan tulisannya menarik dan enak dibaca. Jika poin ini tidak ada, berarti modal keberaniannya tidak berfungsi. Ini adalah syarat penting untuk seseorang yang mengaku dirinya penulis.

Ketiga, seorang penulis harus mengenal Medan. Tulisan sebagus apapun kalau tidak sesuai pangsa pasarnya juga tidak akan memberikan dampak yang berarti. Moment yang digunakan juga harus tepat. Misalnya saja Hasan Tiro menulis bukunya yang berjudul Price Of Freedom setelah Aceh memperoleh kemerdekaan, bukankah  bukunya tidak akan berdampak lebih terhadap rakyat Aceh? Pastinya tidak akan timbul pergolakan lagi, karena moment-nya tidak sesuai.

Jika ketiga poin tersebut telah kita pegang, ada hal lain yang harus kita perhatikan yaitu senjata. Senjata penulis adalah tulisan itu sendiri. Tulisan itu seperti pisau. Jika kita tidak pandai menggunakanannya, ada kemungkinan suatu waktu jadi bumerang.
Bill Kovach dan Tom Rosenstiail dalam bukunya Sembilan Elemen Jurnalisme sangat menekankan mengenai kebenaran dan keakuratan data yang kita tulis. Verifikasi sangat diperlukan. Karena itulah inti dari sebuah tulisan jurnalistik.

Cara menggunakan tulisan sebagai senjata yang baik adalah lihai dan cekatan dalam meramu ide menjadi tulisan yang baik. Hal ini akan menentukan kalah menangnya seorang penulis dalam sebuah peperangan. Kualitas tulisan dipengaruhi kemahiran penulis dalam mengolah ide. Ide yang baik belum tentu menjadi tulisan yang berbobot. Sebaliknya ide yang sederhana bisa saja menjadi tulisan berbobot bila ditangani penulis yang pandai mengolah dan menyajikannya dengan baik.

Tidak mudah menjadi penulis, apalagi bagi kita yang masih pemula. Tidak cukup tahu teori tanpa ada prakteknya. Selama ini di sekolah dan di universitas tempat kita menuntut ilmu sudah banyak teori dan cara menulis yang baik. Namun sayang, tidak ada aplikasi dari ilmu menulis yang kita dapat.

Sebagian orang percaya menulis adalah bakat. Tapi percayalah dengan kalimat enstein yang selalu didengung-dengungkan ketika kita kecil. Bakat itu adalah satu persen, dan 99 persennya lagi adalah  usaha.

Seandainya seorang pembaca mendapat pencerahan dari naskah yang kita tulis, dan selanjutnya ia akan merasa mendapat kebebasan dari kungkungan pertarungan ide selama ini, Saat itulah kita bisa keluar sebagai pahlawan. Pahlawan yang memenangkan pertempuran dengan santun. Pahlawan yang menang karena pemikiran. Sekali lagi, layak tidaknya seorang penulis mendapat gelar pahlawan atau tidak mutlak ditentukan oleh pembaca. Mulai sekarang marilah menulis dan menyuarakan kebenaran, untuk perubahan.
Penulis adalah Mahasiswa Teknik Informatika USU yang tengah bergiat di Pers Mahasiswa SUARA USU

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).