BOPM Wacana

Kepada yang Terhormat

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Franky Febryanto Banfatin

Mantan Pemimpin Bangsa
Sering saya dengar di kedai-kedai tuak, di kendaraan umum, di keramaian pasar hingga panti jompo kalian bercerita tentang krisis multidimensi Indonesia. Negara yang dulu kalian perjuangkan ini menangis, marah, dan menjerit serupa batin kalian. Mengeluh karena anak cucu kalian belum mampu secara maksimal mengisi kemerdekaan. Sekira 82 tahun lalu kalian ikrarkan sumpah pemuda, lebih dari 65 tahun kalian memberi Indonesia makna merdeka.

Semangat juang kalian masih berkobar menyala. Namun kini kalian sering terabaikan. Ingin memarahi anak cucu, energi tak cukup. Ingin menasehati, sering dihiraukan. Ingin bertindak, tak punya kuasa dan penghargaan. Hanya sanggup berdoa dan bercerita sepi di sisa penantian terakhir mengisi kemerdekaan. Namun dibalik keluh kesah kalian ada seonggok harapan dan secercah optimisme yang kurang kami miliki.

Yang terhormat mantan pemimpin bangsa. Ketika kita duduk bersama mengangkat topik tentang Indonesia, pandangan-pandangan negatiflah yang lebih jadi sorotan. Coba lihat pencapaian target tujuan pembangunan milenium Indonesia yang sangat kalian harapkan.

Masih banyak penduduk Indonesia yang miskin. Berpendapatan 1 dollar AS (kurang dari Rp. 9000) per hari walaupun secara statistik angka penurunan angka kemiskinan dan kelaparan mencapai sasaran. Tinggal sekitar 13,2 persen penduduk miskin Indonesia. Tingkat pengangguran bangsa pun tinggal 7,9 persen. Bagi kami kaum muda, ini masih masalah. Namun bagi kalian ini adalah pencapaian luar biasa. Walaupun kalian mengetahui masih banyaknya kerusuhan etnis, korupsi, ketidakadilan dan berbagai permasalahan sosial lainnya.

Sambil menyeruput segelas kopi pahit, suatu kali di sebuah panti jompo seorang kakek yang mengaku veteran perang, menepuk bahu saya yang sedang berkunjung sambil bercerita. Negara ini sesungguhnya masih belum merdeka. Pernyataan itu begitu menyentak saya. Kemiskinan, pendidikan, hak asasi manusia yang masih terinjak-injak, angka kematian anak dan ibu, penyakit menular global, pemanasan global, wabah korupsi serta konspirasi negatif bangsa asing masih menjajah bangsa kita secara perlahan.

Kita tidak hanya mengalami krisis ekonomi namun juga krisis moral, sosial, budaya, hingga politik. Sebenarnya penyakit paling parah bangsa kita yang paling parah adalah krisis moral dan mental. Ditambahkannya sambil menatap langit jingga sore itu, moral dan mental bangsalah yang membedakan pemimpin dahulu dan kini. Kemerosotan begitu tinggi, lubang hitam begitu dalam sehingga makna kemerdekaan pun memudar. Optimisme yang hilang adalah penyakit yang malang. Itulah yang dipertanyakan.

Kepada para mantan pemimpin bangsa, opung (nenek) saya pun ikut berbicara mewakili kalian. Sebagai saksi sejarah pra dan pasca kemerdekaan yang hidup di masa penjajahan, beliau selalu menekankan semangat optimisme. Semangat berjuang. Semangat pantang mundur. Semangat rela berkorban. Semangat mempunyai mimpi yang besar untuk bangsa ini. Beliau meyakini bahwa tanpa optimisme juang yang besar oleh para pahlwan serta rekan-rekannya dulu, Indonesia tidak akan pernah merdeka. Rumusnya sederhana namun mengolah untuk mencapai hasil cukup berat: maju terus pantang mundur, berjuanglah dan raih kemerdekaan! Itu yang selalu beliau bilang setiap saya menjelang tidur tatkala berlibur ke rumahnya. “Kau masih muda, jadilah kepala dan bukan ekor. Optimislah!”
Senada dengan ucapan kakek di panti jompo yang saya yakin teman seperjuangan kalian. Dia bilang, perjuangan untuk bangsa ini tidak hanya sekali namun berkali-kali hingga mati. Setiap anak muda harus mampu menjadi sesuatu yang besar bukan kecil. Jangan mau jadi pemimpin-pemimpin boneka seperti kebanyakan pemimpin sekarang. Saat itu jujur saya meresponi dengan guratan kening dan reaksi menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Sekarang saya paham. Saya menyunggingkan sebuah senyum di bawah tatapan mata tajam ke depan sambil mengepalkan tangan kanan ke atas sebagai wujud asa jiwa yang berkobar. Merdeka! Tetaplah optimis mantan pemimpin bangsa. Berilah kepercayaan masa tua dan semangat muda kalian pada kami, kaum muda.

Pemimpin Bangsa
Selamat karena kalian berhasil menduduki posisi-posisi kunci yang dipercayakan rakyat. Saya percaya pada kalian. Kita punya mimpi besar untuk bangsa ini. Ingat, mimpi bersama. Bukan mimpi pribadi! Tidak salah memang bermimpi personal namun mimpi pemimpin adalah mimpi seluruh anggotanya juga. Tidak mudah memang menjadi pemimpin karena beban suara nusantara ada pada kalian. Kalian bukan hanya sekumpulan orang yang haus akan jabatan, populeritas, gengsi, serta harta. Namun sesungguhnya kalian adalah pelayan bangsa. Melayani dengan setulus hati untuk kesejahteraan bangsa, kedamaian negara, keadilan sosial, dan keamanan nasional. Saya yakin kalian mengerti hal-hal tersebut bukan?

Siapalah saya yang sebenarnya ingin berbincang secara langsung dengan kalian semua para pemimpin bangsa. Ingin belajar tentang hal-hal yang sudah kalian lakukan selama ini. Mungkinkah? Saya takut kalian masih menganggap saya anak kecil atau kalian takut karena saya mahasiswa yang bisa saja menjatuhkan kalian dengan suatu gerakan masal. Saya berharap suatu saat nanti dapat berbincang. Untuk sekarang, cukuplah dengan surat ini bila tulisan ini memang bisa disebut sebagai surat.

Yang terhormat para pemimpin bangsa. Setujukah bila mayoritas kalian dicap sebagai pemimpin-pemimpin boneka yang masih dikuasai oleh lemahnya ego pribadi dan kepentingan bangsa asing? Mata optimis melihat ke atas namun mata kemudian tertahan pada bagian tengah perut dan hati kalian. Sementara mata tak sempat melihat ke bawah dimana jutaan rakyat merengek meminta tolong dan tanpa kalian sadari kalian injak. Benarkah begitu? Ralat saya bila saya salah. Namun sepertinya saya benar. Kasus korupsi mulai terkuak hebat, pelakunya notabene para pemimpin bangsa. Yang terekspos memang para petinggi-petingginya saja, namun sesuai istilah what you see is what you do atau like father like son saya takut tindakan kurang terpuji kalian diam-diam ditiru oleh anak buah kalian. Bisa saja mereka adalah orang tua, paman, bibi, saudara, atau kerabat saya dan teman-teman saya. Mereka merasa tidak salah karena hal ilegal secara ilegal dilegalkan. Kesalahan yang dianggap benar dan dilakukan secara besar-besaran. Bahaya.

Makelar serta mafia kasus pun banyak menjangkiti kalian para pemimpin bangsa yang seharusnya melindungi rakyatnya. Terseretlah para petinggi yustisia, legislatif, hingga eksekutif. Kalian yang harusnya menjadi teladan kini seakan menjadi contoh buruk. Hilanglah kepercayaan mayoritas bangsa walaupun kami percaya tidak semua seperti itu. Yang benar tentu saja masih banyak. Namun yang benar biasanya terasingkan atau sengaja diasingkan.

Wahai om dan tante pemimpin bangsa, mari belajar menatap Indonesia secara keseluruhan dan mendalam. Apakah Indonesia sudah benar-benar merdeka? Siapa sebenarnya perampok bangsa? Kalian tidak sakit hati kan kalau saya bilang ada di antara kalian yang menjadi penjajah bangsanya sendiri? Atau mungkin perampok negerinya yang kaya ini? Sudah menjadi rahasia umum, bila Indonesia adalah negara yang sangat kaya. Lumbung beras, tambang emas, surga tembaga, uranium, minyak bumi, gas alam, nirwana samudera, hayati, dan agraris, serta pesona alam paling eksotik di dunia dengan berjuta keberagaman budaya yang hanya satu-satunya di dunia. Tapi sayang sumber daya manusia tingkat tingginya lemah. Manajerial harta negaranya kurang bagus. Bangsa asing yang lebih pintar dan asing kalian ajak kerjasama untuk kepentingan kalian sendiri. Begitu kurang percayakah kalian dengan bangsanya sendiri untuk mengolah hartanya? Sehingga kalian harus meminta bantuan pihak asing yang sesungguhnya adalah suatu pencurian terbuka dengan kedok kerjasama individu yang mengatasnamakan kepentingan bangsa? Ironis.

Berbeda dari itu semua, saya berterima kasih karena kalian sudah membuat banyak perubahan positif bagi bangsa ini. Perjuangan kalian kami hargai karena sesuai sensus penduduk 2010, kalian berhasil meningkatkan angka partisipasi murni pendidikan dasar dari 91,23 persen pada tahun 2003 menjadi 95,14 persen pada tahun 2008 (Kompas, 20 September 2010). Di tengah himpitan krisis dunia, Indonesia terbilang negara yang cukup stabil dalam ruang lingkup internasional. Indonesia memiliki pertumbuhan ekonomi yang positif karena mampu bangkit dari badai krisis keuangan 1997-1998 dan mampu mengatasi krisis 2007-2008.

Para pemimpin bangsa, sesuatu yang luar biasa karena kalian sudah mampu berjuang membawa Indonesia masuk ke dalam kelompok kekuatan baru dunia: BRIIC (Brasil, Rusia, India, Indonesia, China). Ini membuktikan bahwa para ekonom kita berkualitas. Prestasi mengagumkan lainnya adalah masuknya Indonesia dalam G-20 dan diramalkan akan masuk 10 kekuatan ekonomi dunia pada tahun 2030. Belum lagi Laporan Perkembangan Daya Saing Dunia menunjukkan Indonesia naik 10 tingkat dari posisi ke-54 menjadi ke-44 pada periode 2010-2011 ini. Luar biasa.

Namun mengapa banyak rekan-rekan kalian yang saya sangat yakin seusia kalian sangat pesimis dengan keadaan yang ada. Memang, mereka tidak duduk bersama-sama dengan kalian semua di kursi-kursi panas tersebut. Namun mereka memperhatikan kinerja kalian dan mengatakan keberhasilan-keberhasilan ini belum sepenuhnya berdampak dan bersifat sementara. Mereka kurang percaya dengan kinerja kalian karena hanya prestasi permukaan. Dampak mendalam belum mereka rasakan. Inilah salah satu indikasi kurangnya kedekatan kalian dengan rakyat, kurangnya komunikasi sehingga menimbulkan banyak penafsiran serta kesalahpahaman dan ketidakmengertian arti keberhasilan dan perjuangan kalian. Mereka juga saudara kalian, kunjungilah mereka dan juga saya. Layani dengan rendah hati. Itulah sebenarnya pemimpin yang baik.

Para pemimpin bangsa yang saya cintai, kalian sudah melihat banyak anak berotak emas di Indonesia bukan. Banyak medali emas, perak, dan perunggu yang telah mereka sumbangkan pada negara selagi muda. Merekalah asset bangsa sesungguhnya. Berikan perhatian dan penghargaan lebih bagi mereka, buatlah mereka menyadari bahwa rumah sesungguhnya adalah Indonesia bukan negeri asing yang realitanya memang lebih menyejahterakan mereka dari banyak segi terlebih financial. Sebuah kemalangan yang nyata bila mereka lebih memilih membangun bangsa asing dibandingkan bangsanya sendiri. Wahai para pemimpin bangsa, mari kita bergerak. Saya sadari ini tugas kita bersama.

Calon Pemimpin Bangsa
Kawan-kawan, sudahkah kalian bermimpi hebat? Bukan hanya untuk diri kalian sendiri namun untuk bangsa ini, negeri ini, Republik Indonesia. Kita calon pemimpin bangsa, kita pasti bisa membawa bangsa ini menjadi lebih baik. Dari negara berkembang menjadi negara maju. Optimislah!

Ada satu hal yang harus kita benahi selaku calon pemimpin bangsa. Itulah mental dan moral bangsa. Kita tahu, bahwa Indonesia masih membawa budaya terjajah. Kurangnya percepatan menghapus budaya perusak itu. Selama tiga abad, masih tertinggal perasaan inferior yang sangat mendalam. Seperti yang dituliskan David Landes dalam The Wealth and Poverty of Nations bahwa bangsa kita masih menderita ketergantungan akut yang berasal dari relasi inferioritas dan eksploitasi superioritas.
Sepertinya benar Indonesia mengalami inferiority complex yakni sejenis sindrom dalam psikologi Adlerian dimana kita selalu merasa memiliki kelemahan, rasa tidak percaya diri, putus asa serta masih belum benar-benar terputus dari mental terjajah bangsa asing. Kita masih menganggap bangsa ini kurang lebih hebat dibandingkan bangsa asing. Relasi tuan hamba masih terpatri dalam pemikiran bangsa.

Kawan-kawanku sesama calon pemimpin bangsa. Sesungguhnya moral dan bangsa kita sudah rusak terjangkiti virus pesimisme. Kita dan generasi pemimpin bangsa sekarang selalu berpikir negatif tentang arah haluan bangsa ini nantinya. Sudah carut marut. Nah, bagaimana kita bisa maju kalau pemikiran kita negatif terus. Seperti tulisan saya pada para pemimpin bangsa tentang keburukan-keburukan. Di balik segala kelemahan-kelemahannya ada kelebihan-kelebihan yang sudah didapat buah perjuangkan. Tugas kita adalah meneruskan perjuangan dengan mencari peluang-peluang bangsa untuk maju, dari hal yang terkecil saja. Buatlah budaya serta panorama kita sebagai aset. Jepang, Cina, India berhasil menggunakan cara ini untuk menggebrak kesuksesan awal yang akan diikuti oleh kesuksesan lainnya. Kalau mereka bisa kita pun pasti bisa.

Kawan-kawan, opung saya pernah bercerita sesungguhnya sifat optimismelah yang membuat negara kita merdeka. Terlebih lagi sifat optimis itu berasal dari kaum muda. Di masa sulit kala itu, optimisme menjadi satu tenaga super di tengah sejuta kelemahan bangsa. Sekarang optimisme itu sedang merosot, tugas kita untuk membangkitkannya kembali. Berpikir positiflah dahulu sebagai langkah awal. Berpikirlah bangsa kita akan besar. Seperti ditulis Barbara A Lewis dalam bukunya What Do You Stand For yang mencatat sejumlah keuntungan dari pola pikir positif yaitu optimisme, sportivitas, dan kepekaan. Berpikir positif menimbulkan rasa syukur dan pengharapan akan keadaan bangsa dan harapan pencapaian futuristik.

Pricewaterhousecooper Internasional pernah memperkirakan bahwa Indonesia akan menjadi lima negara besar pada tahun 2050. Saya yakin kita bisa, apalagi bila dari sekarang kita mulai berjuang untuk itu. Jangan takut karena kita masih muda, justru karena masih mudalah justru kita punya banyak waktu untuk bergerak maju. Lihat saja kesuksesan John Tyler Hammons, yang pada usia 19 tahun di 2008 lalu berhasil memenangkan pemilihan Walikota Muskogee, Oklahoma, Amerika Serikat. Pemuda kelahiran 4 September 1988 itu tidak gentar untuk membawa perubahan bagi kotanya. Dia punya mimpi besar untuk kotanya, dia optimis bisa menjadi cahaya di tengah kegelapan bagi daerahnya. Dan lihat, dia berhasil.

Yang perlu kita lakukan sekarang adalah menciptakan pendidikan positif, belajar melepas sindrom mental terjajah dan membentuk mental positif. Asupan utamanya adalah bangunan integritas moral setiap individu. Emosi harus dibentuk positif dengan penuh optimisme, kebahagiaan, dan kasih saying. Perasaan saling berbagi, saling peduli, empati, kebaikan, kreativitas, keadilan, kedisiplinan, serta keberanian dan cinta harus dipupuk sedari dini.

Para calon pemimpin bangsa, Indonesia diliputi ketakutan masal karena krisis kepemimpinan sekarang. Namun kita harus tetap berjuang. Mungkin tidak semua di antara kita akan menjadi pemimpin negara, minimal menjadi pemimpin bagi diri sendiri dan orang lain di sekitar kita atau dalam tiap pekerjaan kita itu saja sudah cukup. Seperti yang pernah dikatakan salah satu pebisnis sosial Jepang, Yohei Sasakawa, kalau ada satu saja pemimpin bagus, negeri yang dipimpinnya akan bagus juga. Orang miskin tak ada lagi, tak ada lagi kesenjangan, kesejahteraan dan semuanya tertata baik. Salah satu di antara kita akan menjadi pemimpin itu. Pemimpin yang positif akan bangsanya. Pemimpin di bidangnya masing-masing yang berkorelasi positif untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Penulis adalah Koordinator Riset, Penelitian dan Pengembangan SUARA USU 2011

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).