BOPM Wacana

Negara Paling Bahagia di Dunia

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Amanda Hidayat

Banyak penobatan untuk negara-negara dengan kategori tertentu, seperti pendidikan terbaik, kesehatan terbaik, dan banyak lagi penghargaan-penghargaan lain yang sering kita dengar atupun kita baca. Tapi tahukah Anda, ada penobatan untuk negara paling bahagia?

Sumber istimewa.
Sumber istimewa.

Kita pasti sering dengar, Finlandia adalah negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia atau Swiss yang mendapat predikat sebagai negara dengan kesehatan terbaik. Dan banyak negara yang mendapat predikat terbaik dalam bidang tertentu. Biasanya negara-negara maju. Ini berbeda dengan negara yang dinobatkan sebagai negara terbaik, adalah negara sedang berkembang yang dinobatkan. Lalu, negara apa itu?

Sebuah survei menjawab pertanyaan tersebut. Adalah survei yang bertajuk Happy Planet Index (HPI), suatu indeks dampak kesejahteraan manusia dan lingkungan yang diperkenalkan oleh New Economics Foundation (NEF) pada Juli 2006. NEF adalah lembaga yang pernah lakukan penelitian tentang kesenjangan ekonomi akibat kapitalisme, yang menunjukkan bahwa pada dekade 1980-an, dari setiap kenaikkan pendapatan per kapita seratus dollar AS, kaum miskin hanya menikmati 2,2 dolar AS atau hanya 2,2 persen.

Kembali lagi pada HPI, dalam survei tersebut, diketahui bahwa negara yang paling bahagia di dunia adalah Kosta Rika, negara terkecil kedua di Amerika Tengah yang berbatasan dengan Nikaragua di sebelah utara, Panama di selatan-tenggara, Samudra Pasifik di barat dan selatan, dan Laut Karibia di timur.

Negara pengonsumsi gula terbanyak di dunia itu berada di puncak Happy Planet Index untuk kedua kalinya. Dengan ekspektasi kehidupan yang tinggi (lebih tinggi dari di Amerika Serikat), dan tujuan menjadi negara netral karbon pada 2021, serta mendapat predikat kesejahteraan mengungguli banyak negara kaya lain, Kosta Rika menawarkan kombinasi penduduk yang bahagia dan negara yang menyenangkan.

Sementara peringkat kedua diduduki Vietnam dan Meksiko berada di posisi ketiga. Adapun peringkat keempat hingga 10 ditempati Belize, El Savador, Jamaika, Panama, Nicaragua, Venezuela dan Guatemala.

Survei yang dirilis pada minggu ketiga November 2014 tersebut, menilai 151 negara di seluruh dunia, menggunakan parameter kesejahteraan yang tidak biasa. Bukan soal kekayaan dan rata-rata pendapatan nasional masyarakatnya, melainkan harapan hidup, kenyamanan hidup, serta jejak ekologi.

Dilansir Daily Mail, masyarakat di setiap negara disurvei menggunakan analogi. Misalnya mengenai harapan hidup, responden diminta membayangkan harapan hidup di negara tersebut seperti meniti 10 anak tangga, dimana 0 berarti tidak ada harapan hidup dan 10 berarti harapan hidup tinggi.

Sementara, tingkat kenyamanan hidup dianalogikan dengan ketersediaan fasilitas pendukung kenyamanan dan aksesibilitas masyarakat dalam menggunakannya. Dan terakhir, jejak ekologi dinilai dari keseluruhan konsumsi sumber daya alam per kapita. Jejak ekologi ini dijadikan parameter karena berkaitan dengan kebahagiaan berkelanjutan di sebuah negara.

Hasil penilaian tersebut kemudian diterjemahkan dalam bentuk peta dunia yang dibagi berdasarkan warna. Merah untuk tidak bahagia, jingga untuk sedang, dan hijau untuk bahagia.

Grafik peta kebahagiaan dunia versi HPI 2014. | Sumber istimewa
Grafik peta kebahagiaan dunia versi HPI 2014. | Sumber istimewa

Dari grafis tersebut bisa dilihat bahwa negara-negara yang paling bahagia versi HPI adalah yang berlokasi di Amerika Selatan, Eropa Barat, Timur Tengah, serta Asia. Kendati tidak termasuk dalam peringkat 10 besar, secara garis besar, Indonesia termasuk negara yang berbahagia karena berada dalam grafis warna hijau.

Sementara, negara yang dianggap paling tidak bahagia adalah Rusia serta negara-negara di Benua Afrika, kecuali Aljazair dan Madagaskar. Adapun Amerika Serikat, Kanada, Tiongkok, serta Australia menempati posisi sedang dalam penilaian kebahagiaan.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).