BOPM Wacana

Sejarah Lagu “Darah Juang”

Dark Mode | Moda Gelap
Ilustrasi: Tantry Ika Adriati

 

Oleh: Fredick Broven Ekayanta Ginting

Setiap gerakan perjuangan revolusioner punya original theme song masing-masing. Ia mewakili perasaan, isi hati, hingga tujuan dari para penggerak gerakan tersebut. Tak terkecuali perjuangan revolusioner para mahasiswa terhadap rezim Soeharto tahun 90-an lalu.

Budiman Sudjatmiko, dalam autobiografinya Anak-Anak Revolusi 1, menulis bahwa original theme song tersebut ibarat sebuah film yang selalu dibuat mengharu biru, di antaranya melalui komposisi musik yang menangkap ruh film tersebut. Kita bisa memahami maksud tersebut. Film Titanic (1997) tak bisa dilepaskan dari lagu “My Heart Will Go On”, begitu pula The Twilight Saga punya “A Thousand Years”-nya Christina Perri. Mereka adalah satu kesatuan yang saling melengkapi dan tak terpisahkan.

Demikian juga sebuah pergerakan, terutama pergerakan rakyat melawan pemerintah yang korup. Lagu “Darah Juang” termasuk salah satu lagu yang mewakili perjuangan mahasiswa, saat berupaya meruntuhkan rezim Presiden Soeharto yang dianggap represif. Bagi mahasiswa-mahasiswa di berbagai perguruan tinggi lagu ini sudah familiar. Biasa dikenalkan para senior pada masa orientasi atau penyambutan mahasiswa baru. Lagu ini pun kerap dinyanyikan mahasiswa ketika melakukan demonstrasi.

Di negeri permai ini

Berjuta rakyat bersimbah luka

Anak kurus tak sekolah,

Pemuda desa tak kerja

Mereka dirampas hak-nya

Tergusur dan lapar

Bunda, relakan darah juang kami

Membebaskan rakya/Padamu kami berjanji

Lagu tersebut merupakan karangan beberapa mahasiswa Universitas Gadjah Mada, saat menggencarkan aksi mogok makan menuntut demokratisasi lembaga pemerintahan mahasiswa di kampus tersebut. Aksi tersebut dilaksanakan di suatu malam November 1991. Budiman Sudjatmiko, saat ini menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Repulik Indonesia dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, merupakan salah seorang dari kelompok tersebut. Dalam Anak-Anak Revolusi 1 ia menyebut perjuangan itu harus dinyatakan dengan indah, dalam lirik dan nada.

Ceritanya, saat itu mereka tengah berkumpul di sekretariat organisasi. Kondisi mereka dalam keadaan lelah setelah melakukan aksi sebelumnya. Johnsony Tobing, salah satu rekan Budiman, memainkan sebuah nada. Nada tersebutlah yang kelak menjadi nada dalam lagu ini. John meminta teman-temannya saat itu untuk menyusun liriknya.

Dadang Juliantara, mahasiswa lainnya, lantas menuliskan lirik yang mereka susun di sebuah papan tulis yang terdapat di ruangan itu. Berkali-kali ia menulis dan menghapus lirik di papan tersebut untuk mendapatkan lirik paling pas. Budiman sendiri menambahkan kata bunda dalam lirik tersebut.

Darah Juang akhirnya selesai jelang tengah malam pada hari yang sama. Saat itu juga, Budiman dan kawan-kawan beramai-ramai menyanyikannya. Di kemudian hari Budiman sering menyanyikan lagu ini bersama kawan-kawannya ketika melakukan aksi atau demonstrasi. Lagu tersebut kemudian tak hanya ditujukan untuk pihak kampus saja, namun diperluas untuk negara apalagi rezim yang berkuasa cenderung otoriter dan melarang segala jenis bentuk pengekspresian.

Budiman mengatakan lagu tersebut adalah untuk perjuangan demokrasi di Indonesia, menurunkan rezim korup dan otoriter, dan perjuangan-perjuangan rakyat lainnya. Darah Juang adalah kredo untuk mengorbankan apa yang dimiliki, untuk mimpi-mimpi besar Budiman dkk sebagai seorang individu maupun generasi.

Lagu tersebut akhirnya meluas ke berbagai mahasiswa di universitas-universitas lain. Awalnya lagu tersebut untuk menyemangati diri Budiman dkk sendiri setelah kelelahan berdemonstrasi. Tapi kemudian disebarkan kepada mahasiswa yang bergulat melawan birokrat kampus, kaum muda yang menyebarkan pamflet atau mencoretkan grafiti perlawanan di dinding kota, anak muda yang keluar masuk pabrik, pematang sawah, perkampungan tengah kota dan tepi laut, hingga anak muda yang sedang mogok makan atau sedang berada dalam genggaman penyiksa-penyiksa mereka di ruang interogasi.

Tak hanya Indonesia yang punya sejarah perjuangan dengan theme song yang menyertainya. Di Amerika Serikat pernah tercipta lagu We Shall Overcame atau We Shall Not Be Moved untuk perjuangan hak-hak sipil. Atau lagu March on Washington untuk perjuangan persamaan ras yang saat itu dipimpin Martin Luther King Jr. Cile pun tercatat punya lagu El Pueblo Jamas Sera Vencido sebagai pengiring perjuangan rakyat Cile mewujudkan sosialisme melalui reforma agraria, nasionalisasi perusahaan asing, dan melawan oposisi fasis.

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4