BOPM Wacana

Nazril Tanjung: Setiap Kayuhan untuk Keluarga

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Santi Herlina

Foto: Santi Herlina
Foto: Santi Herlina

“Niat saja tidak cukup untuk memenuhi kewajiban menafkahi, harus ada pengorbanan.” – Nazril Tanjung.

Pagi hari di tahun 1979, Nazril kecil harus pulang lebih cepat dari biasanya. Nazril yang saat itu masih duduk di kelas lima Sekolah Dasar (SD) merasa tak enak badan. Di dalam kelas, tubuhnya sesekali menggigil. Dalam beberapa menit saja, ia sudah tak kuat. Detik demi detik, ia semakin menggigil. Awalnya hanya tiga kali dalam selang waktu lima detik, lalu berubah menjadi tiga kali dalam satu detik.

Teman sebangkunya panik. Seketika muka Nazril berubah menjadi putih kekuningan. Tubuhnya tak berdaya jatuh ke lantai beberapa detik kemudian. Bola matanya naik, pupil matanya tak tampak lagi. Guru yang sedang mengajar di depan kelas pun terkejut melihat kondisinya. Ia tergeletak dengan tubuh kejang-kejang.

Sebenarnya, hari itu bukan kali pertama ia kejang-kejang. Sejak Nazril berumur lima tahun, dokter memvonis dirinya terkena penyakit polio. Penyakit ini disebabkan oleh virus yang masuk dan berkembang di dalam tenggorokan dan saluran pencernaan. Virus tersebut memasuki aliran darah dan mengalir ke sistem saraf pusat yang melemahkan otot.

Setahun setelah itu, ia harus menerima kenyataan bahwa penyakit yang menggerogoti sarafnya berujung pada kelumpuhan.Tak membunuh semangat Nazril, dengan kondisi itu ia masih berniat untuk sekolah walau hanya sampai jenjang pedidikan Sekolah Menengah Atas (SMA).

***

Saat berumur 23 tahun, Nazril bertemu gadis asal Padang Sidempuan yang merantau ke Bukittinggi untuk belajar menjahit. Emi Hayati Siregar namanya. Gadis rantau ini kemudian menjadi ibu dari ketiga anaknya; Abdul Rahman, Yusuf Hermanto, dan Widya Lestari. Ketiga anaknya sudah bersekolah. Anak sulungnya duduk di bangku SMA, sedangkan anak kedua dan ketiga masih duduk di bangku SD.

Tak berapa lama setelah menikah, rumah pusaka yang ia tinggali dengan istrinya dijual oleh saudara-saudaranya. Ini membuat ia dan istri terpaksa harus mengontrak. Pun, rumah yang sanggup mereka sewa hanya terbuat dari tepas.

Namun, Nazril tak pernah patah semangat untuk menafkahi keluarganya. Menjual pakaian di Pasar Aur Kuning menjadi mata pencaharian keluarganya sehari-hari. Hampir lima belas tahun sudah Nazril dan istrinya mengandalkan payung tenda sebagai tempat menjual kain dagangan mereka. Penghasilannya saat ini hanya sekadar cukup untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari dan sekolah anak-anaknya saat ini.

Sebenarnya, keadaannya sekarang masih lebih lumayan daripada tahun-tahun awal Nazril membuka usaha. Dahulu, meskipun sudah buka lebih awal, mengumpulkan uang seratus ribu rupiah bukanlah hal yang mudah. Namun, beberapa tahun belakangan, pendapatan mereka mencapai Rp200.000 per hari. Meski begitu, melihat kondisi Pasar Aur Kuning yang merupakan pusat penjualan pakaian atau sering disebut ‘Tanah Abang’-nya Bukittinggi, sebenarnya dua ratus ribu tetap tidak bisa dibilang pendapatan yang banyak.

“Pembeli selalu melewati tenda dagangan saya begitu saja, tak beli. Mungkin takut melihat saya seperti ini,” ceritanya.

Saat ada pembeli yang datang, Nazril malah heran. Hanya sedikit yang mau datang membeli dagangan mereka, namun saat ada yang datang, jarang ada pembeli yang menawar harga. “Mungkin kasihan melihat saya,” tuturnya.

Untunglah, beberapa minggu setelahnya sudah ada beberapa pembeli yang mau menjadi langganan Nazril. Hasil yang didapat pun kemudian dikumpulkan.

Sejak dua tahun lalu, Nazril dan keluarga sudah punya rumah sendiri berkat mengumpulkan hasil jualan. Rumah sederhana dengan dua kamar tidur, satu ruang tengah, dan satu dapur. “Dulu susahnya minta ampun, pernah sampai tak pegang uang sama sekali karena dagangan tak laku. Sampai untuk makan pun pernah pinjam beras seliter ke tetangga,” kisah Nazril.

Menilai sosok Nazril, Emi bercerita bahwa ia merupakan kepala keluarga yang sangat bertaggung jawab dan gigih dalam mencari nafkah meski dalam kondisi yang tidak seperti ayah pada umumnya. Emi mengaku Nazril tak pernah membandingkan dirinya dengan orang-orang di sekitarnya. ”Kadang-kadang dipancing tetangga, pasti marah,” ujar Emi. Emi tak pernah menyesal memilih hidup dengan Nazril, sebab ia adalah sosok suami yang sabar dan sayang keluarga.

Namun, ada cita-cita Nazril yang sampai sekarang belum tercapai. Selama lima belas tahun berjualan pakaian yang notabenenya pedagang kaki lima, ia ingin memiliki sebuah ruko untuk berjualan. Tapi, ia harus mengumpulkan banyak uang untuk dapat menyewa ruko yang ia idamkan. Jelas saja, harga sewa ruko per tahunnya mencapai ratusan juta rupiah. Tak muluk-muluk untuk membelinya, Nazril katakan meski hanya menyewa pun tak apa.

Di Pasar Aur Kuning ini, rata-rata pedagang pakaian seperti Nazril sudah memiliki ruko sendiri. Sebab kalau menjadi pedagang kaki lima seperti ini, saat matahari terik ia kesulitan untuk berpindah-pindah karena harus mengayuh sepeda duduknya dengan tangan. “Keram kalau mengayuh terus,” tutupnya.

Biodata

Nama: Nazril Tanjung

Alamat: Belakang Balok, Pasar Aur Kuning, Bukittinggi.

Tempat, tanggal lahir : Pasar Inpres, 12 Desember 1968

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4