BOPM Wacana

Syaiful Burhan: Pengusaha Butuh Modal Mental

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Mutia Aisa Rahmi

Foto: SUARA USU
Foto: SUARA USU

Dari kecil tinggal jauh dari orang tua membentuknya menjadi pribadi yang mandiri. Kini, ia sudah jadi pengusaha muda.

Usahanya tengah menanjak. Padahal ini baru minggu kedua ia memproduksi molen buatannya sendiri. Ia sudah mulai rutin memasarkannya. Proses produksi yang ia tangani sendiri membuatnya kewalahan, apalagi jumlah molen yang diinginkan pasar semakin tinggi.

Ia mulai berpikir untuk menyerah, pikiran dan waktu istirahatnya cukup terkuras belakangan. Tapi ia kembali berpikir, ia tak bisa langsung menyerah, energi yang ia habiskan belakangan cukup menghasilkan banyak hal. “Akhirnya saya putuskan untuk mempekerjakan tiga orang karyawan,” ungkap Syaiful Burhan, mahasiswa Fakultas Pertanian (FP) 2010. Ia adalah sosok di balik nama Molen Arab. Saat itu masih awal 2013, saat ia mulai merintisnya.

Perjalanan cukup berat ia lalui hingga pencapaiannya saat ini. Produksi molen yang awalnya hanya lima puluh, telah menembus angka ribuan setiap harinya.

Niat awalnya hanya ingin meringankan beban biaya hidup, yang dulu ditanggung oleh orang tuanya. Niat itu juga yang membuat ia akhirnya memutuskan untuk mencari usaha yang bisa ia kembangkan dan membuatnya tak lagi bergantung pada orang tua.

Setelah berbagai usaha yang ia coba geluti, mulai dari penyedia jasa reparasi printer, les private untuk siswa, hingga usaha sablon baju, ia putuskan untuk fokus mengelola usaha camilan yang ia beri nama Molen Arab.

Ceritanya, ia baru saja menerima kiriman dari orang tuanya. Uang itu harus dibayarkan untuk biaya sewa rumah kontrakan yang ia tempati bersama kawan-kawannya. Namun saat itu ia berpikir, kondisi keluarganya saat itu tak mudah, ditambah dengan kondisi adiknya yang harus menjalani operasi dan tentu membutuhkan biaya yang tak sedikit, akhirnya ia putuskan menggunakan uang tersebut untuk memulai usaha.

Memang hanya bermodal nekat dengan niat dan harapan uang itu bisa bertambah nominalnya, tidak langsung habis untuk uang kontrakan sehingga ia tidak memiliki uang sama sekali.

Mulailah ia merencanakan membuat usaha di bidang kuliner. Beberapa bentuk camilan sempat terlintas di kepalanya, namun akhirnya ia memilih molen. Menurutnya ini adalah makanan yang proses pembuatannya cukup mudah dan banyak digemari orang. “Selain karna saya juga suka molen,” ujarnya.

Mulailah ia mencari resep untuk molennya. Mulai dari internet hingga bertanya pada salah satu penjual gorengan langgananannya. “Pertama kali saya produksi lima puluh buah, 49 yang dijual, satu saya makan sendiri,” kenangnya.

Penjualan di awal ia lakukan sendiri, pasarnya tentu saja kawan-kawannya sendiri di FP. Semakin lama permintaan semakin meningkat, kawan-kawannya mulai menawarkan diri untuk menjajakan jualannya di fakultas lain. Hingga semakin lama, Molen Arab mulai menyentuh seluruh fakultas.

Setelah akhirnya menambah karyawan, yang saat ini telah mempekerjakan sepuluh orang, jumlah produksinya semakin meningkat dan mulai dipasarkan keluar kampus. “Alhamdulillah, sekarang kalau ada yang datang dari luar kota Medan, sudah banyak yang nanya di mana tempat penjualan Molen Arab,” jelasnya.

Menurut Burhan, lingkungan pertemanan yang ia jalani selama ini memberi pengaruh besar bagi jalan yang ia lalui saat ini. Ia yang sejak tahun pertama kuliahnya telah tinggal bersama senior yang juga memiliki usaha sendiri, membuatnya juga terpacu untuk berusaha untuk membuka usaha. “Selain sering bertukar pendapat, kita juga saling dukung untuk usaha masing-masing,” jelas Burhan.

Adalah Syahid Ismail senior sekaligus teman satu kamarnya. Ia ingat, saat itu dirinya tengah di masa keraguan antara tetap melanjutkan usahanya atau berhenti. Ia kemudian bertukar pendapat dengan Syahid, dan akhirnya memutuskan untuk tetap melanjutkan usahanya.

Syahid, yang merupakan alumni USU ini mengatakan, adik juniornya adalah orang yang cukup bersemangat. Ia adalah sosok yang memiliki perencanaan matang mengenai usaha apa yang akan ia jalankan.

Gigih juga tak lepas dari sosok Burhan, “dulu dia jual sendiri molennya, jalan kaki sambil tenteng keranjang, setelah itu dia mulai beli sepeda motor hingga sekarang sudah cicil mobil,” ungkap Syahid.

Ketika Burhan tengah berada di masa keraguannya tentang usaha Molen Arab, ia akhirnya tak menyerah dan mengambil keputusan yang tepat untuk usahanya. “Waktu itu saya sarankan dia untuk tak berhenti, karena usaha yang ia jalankan masih cukup baru,” kenang Syahid.

Burhan sepakat dengan Syahid, ia terus lanjutkan usahanya, meskipun tantangan yang ia lalui cukup sulit, “mental adalah modal utama pengusaha, bukan modal uang ataupun pekerja. Tapi mental, karena pengusaha akan melewati fase jatuh bangun,” jelasnya.

Kini, Molen Arab telah menginjak usia tiga tahun. Setelah menyewa ruko di kawasan Amaliun, Medan, Burhan telah memimpin lebih dari 15 karyawan. omzet penjualan juga telah mencapai angka ratusan juta setiap bulannya.

Tak banyak yang diharapkan Burhan dekat-dekat ini, tapi Burhan menargetkan usahanya dapat kuasai pasar di Medan dan menjadi salah satu oleh-oleh khas Medan.

Tulisan ini pernah dimuat pada Rubrik Profil Tabloid SUARA USU Edisi 104, September 2015.

 

BIODATA

Nama: Syaiful Burhan

Tempat Tanggal Lahir: Pemalang, 30 Meret 1993

Riwayat Pendidikan:

  • SD Muhammadiyah, Abipura, Jayapura (2005)
  • SMP SMART Ekselensia, Bogor (2005-2008)
  • SMA SMART Ekselensia, Bogor (2008-2010)
  • Jurusan Agroeknologi, Fakultas Pertanian USU (2010-sekarang)

Prestasi:

  • Juara III Blogger Kemanusiaan 2011
  • Juara II VOA Indonesia Blog Competition 2012
  • Juara I Artikel Kepahlawanan 2012
  • Peneria Dana Hibah Big Idea Competition SEC-USU 2013
  • Juara I Wirausaha Muda Mandiri Wilayah I 2013
  • Finalis Nasional Wirausaha Muda Mandiri 2013
  • Juara I Business Plan Menko Perekonomian 2014
Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).