BOPM Wacana

Minat Baca, PR Besar Indonesia

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Nurmazaya Hardika Putri

Ilustrasi: Alfat Putra Ibrahim
Ilustrasi: Alfat Putra Ibrahim

“Siapapun yang terhibur dengan buku-buku, kebahagiaan tak akan sirna dari dirinya.” – Ali bin Abi Thalib

foto umaSuasana ruang kelas saya siang itu masih terlihat seperti biasa. Beberapa mahasiswa mencoba mengibaskan lembaran kertas ke wajah mereka, ada juga yang menggunakan kipas plastik milik mereka sendiri. Tak lama, perempuan muda, berjilbab jingga, datang tergopoh-gopoh membawa tas kerja yang diisi satu unit laptop dan seperangkat proyektor sebagai penunjang belajar. Dosen mata kuliah Pengkajian Sastra itu membuka percakapan dengan memperkenalkan diri kemudian langsung memasuki materi kuliah.

“Di sini, siapa yang suka membaca buku?” tanyanya. Suaranya memenuhi ruang kelas. Namun tak ada satupun yang mengaku.

“Buku apa saja, mau itu novel percintaan atau novel seperti karya Pram,” katanya lagi. Karena tak ada yang mengaku, dosen itu mencari cara lain. Mengajak mahasiswa dalam kelasnya satu per satu memperkenalkan diri dan menyebutkan buku apa yang pernah dibaca.

Tersebutlah satu-satu. Ada yang selama hidup hanya membaca satu novel percintaan saja, ada yang menyukai komik untuk dibaca, dan ada yang sama sekali tak suka membaca.

“Saya gak suka baca buku, Bu. Makanya gak punya buku sejenis novel ataupun yang lain untuk dibaca,” kata salah seorang mahasiswa sambil nyengir kuda. Seisi kelas tertawa dengan jawaban polosnya. Lalu bagaimana mengkaji sebuah karya sastra jika membaca saja tidak suka? Bukan, bukan pengkajian sastra itu yang akan penulis bahas di sini. Melainkan minat baca masyarakat Indonesia. Jika mahasiswa bisa berkata demikian, semoga pelajar sekolah menengah tak berpengalaman sama.

Data tak mengenakkan terungkap dari lembaga pemeringkatan literasi internasional, The World’s Most Literate Nations (WMLN) 2016, Central Connecticut State University, New Britain. WMLN menyebutkan Indonesia berada pada peringkat 60 dari 61 negara yang dikaji atau peringkat kedua dari bawah. Lebih rendah dari Thailand yang berada satu peringkat di atasnya.

Literasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kesanggupan membaca dan tulis. Sementara pada Literacy for Life, laporan UNESCO tahun 2006 memandang literasi sebagai arti yang lebih luas lagi. Yaitu hak dasar manusia sebagai bagian esensial dari hak pendidikan. Terpenuhinya hak literasi memungkinkan kita mengakses sains, pengetahuan teknologi, dan aturan hukum, serta mampu memanfaatkan kekayaan budaya dan daya guna media. Literasi menjadi poros upaya peningkatan kualitas hidup manusia. Karena itu, ia merupakan sumbu pusaran pendidikan.

Rendahnya tingkat literasi di Indonesia dipengaruhi berbagai faktor. Pola pikir masyarakat Indonesia khususnya pelajar masih banyak menganggap bahwa membaca menjadi hal yang tak menyenangkan. Budaya gemar membaca sejak kecil pun sudah jarang diterapkan oleh orang tua. Padahal di era digital seperti saat ini, seharusnya masyarakat lebih bijak menyikapi pemakaian ponsel pintar untuk mengakses informasi dengan cepat.

Sayang, masyarakat terkhusus pelajar Indonesia masih menggunakan ponsel pintar hanya sebagai media komunikasi. Para pelajar lebih memilih membaca status media sosial ketimbang bacaan yang banyak manfaatnya. Kecenderungan untuk menonton berita TV masih minim. Tayangan sinetron tak bermutu serta infotainment masih menjadi hal yang digemari. Badan Pusat Statistik Tahun 2006 menunjukkan bahwa masyarakat lebih memilih menonton TV sebanyak 85,9%. Tak heran jika Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2012 menempatkan Indonesia di urutan ke 64 dari 65 negara yang siswanya memiliki minat baca rendah.

Data perkembangan perpustakaan di Indonesia mencatat Indonesia memiliki sebanyak 1.495.238 perpustakaan. Namun baru 149.132 atau 9,97 persen yang telah mendapat bantuan pengembangan dalam bentuk sarana prasarana maupun koleksi. Sejatinya, perpustakaan pun harus didukung dengan ketersediaan bacaan yang bervariasi agar pengunjung perpustakaan tak membaca buku yang itu-itu saja.

Gerakan literasi sekolah yang dicanangkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan sejak 2015 lalu belum menunjukkan hasil yang signifikan terhadap budaya membaca siswa.

Indonesia masih perlu meningkatkan kualitas pemerataan pendidikan. Hal tersebut akan mendorong tingkat melek huruf. Pun infrastruktur dan sumber daya manusia juga harus lebih dikembangkan agar para pengajar yang berkompeten bisa menjangkau hingga pelosok Tanah Air.

Pembangunan perpustakaan dan pengelolaan secara merata juga harus dikembangkan. Bukan hanya dari segi pembangunannya saja, melainkan koleksi-koleksi buku yang harus lebih bervariasi. Namun jangan lupakan untuk lakukan pengenalan kepada masyarakat. Tujuan utamanya adalah menciptakan minat baca kepada kaum muda. Agar gerakan literasi tak hanya sekadar seremoni dan pembangunan perpustakaan tiap daerah tak sia-sia.

Jika ada koleksi buku-buku, tentulah pemerintah juga harus mendukung penerbit untuk menerbitkan buku-buku yang berkualitas dan menarik minat baca masyarakat.

Komunitas-komunitas pecinta buku di media sosial dan perpustakaan keliling yang dibuat oleh kalangan aktivis di beberapa daerah juga perlu mendapat rangkulan dari pemerintah. Sebab mereka juga salah satu jalur yang membantu pemerintah untuk menumbuhkan minat baca masyarakat Indonesia.

Minat baca menjadi PR besar bagi bangsa Indonesia. Jika PR ini tak segera diselesaikan akan berdampak pada kemampuan sumber daya manusia bangsa di masa mendatang. PR Indonesia pun akan semakin menumpuk nantinya.

Ada baiknya masyarakat Indonesia khususnya pelajar melirik sedikit pada ucapan seorang sastrawan Indonesia terkemuka, Goenawan Mohammad:  Buku akan mengisi jam-jam kita yang kosong dengan percakapan yang mungkin tak akan pernah selesai, tapi membuat kita tahu: kita hanyalah penafsir tanda-tanda, di mana kebenaran menerakan jejaknya. Itu sebabnya kata pertama yang menakjubkan adalah: “BACALAH”.

Penulis merupakan Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Departemen Sastra Cina 2015. Saat ini aktif sebagai Reporter di Pers Mahasiswa SUARA USU.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).