BOPM Wacana

Merayakan Kehilangan

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Nurmazaya Hardika Putri

Ilustrasi: Retno Andriani
Ilustrasi: Retno Andriani

foto umaPemuda bertubuh jangkung itu masih sibuk meracik ramuan daun temuan terbaru. Ia menggiling daun tersebut setelah dipetik dari belakang kebun rumah barunya. Daun tersebut kemudian ia giling menjadi potongan halus. Kemudian dengan hati-hati diletakkannya dalam beberapa cetakan berbentuk kerucut lalu dilinting. Katanya lintingan seperti itu lebih memudahkan para pelanggan terutama pelanggan baru untuk mengonsumsinya.

Di sudut ruangan berukuran 4×6 meter itu ada beberapa tumpuk paketan setinggi satu setengah meter siap antar. Sementara di sudut ruang lain, pemuda sebaya tengah asik menikmati fantasinya lewat beberapa jarum suntik yang disuntikkan sendiri ke tubuhnya. Setiap orang mempunyai cara sendiri untuk mendapatkan fantasi haram seperti itu.

Pemuda jangkung itu masih sibuk mengepak paketan yang belum selesai ditemani seorang pria paruh baya berkulit putih kemerahan yang terbakar akibat sinar matahari. Pria itu terlihat puas dengan hasil kerja pemuda yang direkrutnya saat tengah mencari ikan di laut seminggu lalu. Khaidir nama pemuda jangkung itu. Baru seminggu bekerja dengannya, Khaidir sudah menyumbang ide untuk mengemas daun ganja kering itu ke dalam plastik obat herbal.

“Saya yakin dengan kemasan seperti itu polisi tidak akan curiga,bos,” kata Khaidir. Pria paruh baya itu terdiam sesaat. Dihisapnya puntung rokok yang tersisa lalu asap yang dikeluarkan dari mulutnya mengepul di udara.

“Ide bagus. Kita akan semakin cepat kaya,” katanya. Lalu tawanya membahana seisi markas disusul Khaidir yang tersenyum bangga. Pria itu menepuk pundak Khaidir beberapa kali dan berlalu meninggalkan Khaidir yang mulai busung dada. Khaidir sudah membayangkan akan mendapatkan uang banyak hari itu. Ia ingin segera pulang membelikan makanan enak dan beberapa perabotan rumah baru untuk ibu dan adiknya.

Paketan terakhir telah selesai dikemas. Disusun di tumpukan paling bawah, sejajar rapi dengan paketan lain yang akan dikirim esok pagi. Matahari sudah tidak terlihat lagi bersembunyi di balik pohon-pohon hutan tak berpenghuni itu. Malam menjemput entah sejak kapan. Deburan ombak yang memecah karang tidak begitu terdengar karena dikalahkan oleh hentakan musik yang dinyalakan pria berkulit putih kemerahan tadi. Oh, sekarang kulitnya tidak terlihat merah lagi. Jaket kulit berwarna gelap itu menutupinya. Sepertinya ia sedang bermimpi memeriahkan natal di negeri orang.

Beberapa orang tengah menikmati pesta di dalam markas tempat barang-barang menuju neraka itu diciptakan. Pemuda yang meninggalkan rumah tanpa restu sang ibu itu belum terbiasa dengan pesta. Maklumlah biasanya ia hanya menghadiri acara perwiridan atau acara di mesjid dengan lantunan musik islami. Ia memperhatikan sekeliling, berjalan menuju arah deburan pantai itu berasal, bercerita pada langit, dan sepertinya mulai merasa merindukan rumah.

Berjam-jam sampai tertidur di bibir pantai hingga bertemu pagi kembali. Memang dasar hari itu bukan hari keberuntungannya. Baru saja membuka mata, dari arah tenggara terdengar beberapa suara tembakan dan ledakan. Gerakan Aceh Merdeka muncul kembali? Atau markas ganja itu tengah di kepung polisi? Pemuda itu berusaha lari, mencari tempat bersembunyi berharap ia tidak ditemukan dan mendapat hukuman mati.

Khaidir bergegas lari tapi juga jatuh berkali-kali. Ia yakin tadi malam sebelum ketiduran di bibir pantai tidak sedang mabuk. Angin berhembus kencang. Pohon kelapa di sekitar pantai dan beberapa gubuk tak berpenghuni mulai bertumbangan. Ia masih berusaha menjaga keseimbangan agar dapat berlari dan bersembunyi. Jangan sampai tubuh kurus itu juga terbawa oleh angin.

Pemandangan tak biasa terjadi saat itu. Air di pantai terlihat seperti ditarik oleh bumi. Mendadak pasang surut terjadi. Ikan-ikan yang biasa ditangkap nelayan mati bergelimpangan. Ia berlutut di atas pasir putih. Sulit menemukan keseimbangannya lagi. Saat itu ia baru menyadari kotanya tengah dilanda gempa bumi. Mendadak secuil pasrah muncul di benaknya. Biarlah jikalau ia harus mati ditembak para polisi. Pandangannya lurus menatap ke arah pantai dan beberapa menit setelahnya ia merasa tenggelam. Air bah baru saja menghantamnya. Ia mati. Pemuda kurus itu merasa telah menyusul sang ayah.

***

Aku pikir aku akan mati kala itu. Nyatanya aku ditemukan oleh para tim penyelamat dalam keadaan memprihatinkan. Kedua kaki tertimpa batu dan batu itu tertimpa oleh batang pohon yang besar. Tiga hari setelah aku ditemukan, aku malah bertemu ibu. Ibu yang tubuhnya dibalut mukenah berlumur lumpur dalam keadaan tak bernyawa. Sementara Marwah, adikku, ia barangkali sudah dikubur massal atau bahkan.. Ah, entahlah aku tidak mengetahui keberadaannya.

Langit malam ini terlihat berwarna. Pohon cemara hias terlihat di beberapa sudut jalan. Tentu aku tidak sedang ada di kota kelahiran. Beberapa orang masih diliputi atmosfer suka cita natal. Aku sengaja meminta seorang teman mengantarku ke lantai paling atas rumah susun ini dan duduk di berandanya. Kuletakkan pemantik api dan sebatang kembang api di atas pangkuan yang akan kunyalakan tepat di tanggal dua puluh enam. Tsunami yang meratakan kotaku sudah sebelas tahun berlalu. Namun luka ini masih mencari jalan untuk sembuh.

Arlojiku terus berdetak seiring hembusan angin malam yang mencubiti dasar kulitku. Aku menarik nafas dan mulai menghitung mundur. Tiga.. Dua.. Satu.. Kembang api itu kuledakkan. Ia meledak bersama segala rindu dan kehilangan di langit malam tepat di atas kepalaku. Ah, kehilangan pun harus dirayakan seperti halnya kehilangan Ibu, Marwah, dan sepasang kaki untuk melangkah.

 

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).