BOPM Wacana

Film Barbie: Menyuarakan Isi Hati Para Perempuan sebagai Korban Patriarki

Dark Mode | Moda Gelap
Sumber Istimewa
Sumber Istimewa

Oleh: Michelle Simangunsong

Judul Barbie
Pemain

Margot Robbie, Ryan Gosling,

America Ferrera,Kate Mckinnon,

Issa Rae,Rea Periman, Will Ferrell,

John Cena, Michael Cera,

Ariana Greenblatt, Ana Cruz Kayne,

Emma Mackey, Hari Neff,

Alexandra Shipp, Kingsley Benadir,

Simu Liu, Ncuti Gatwa, Scott Evans,

Jamie Demetriou, Sharon Rooney,

Ritu Arya Dua Lipa.

Sutradara/

Penulis

Greta Gerwig dan Noah Baumbach
Rilis 19 Juli 2023
Durasi 114 menit
Genre American Fantasy Comedy
Tersedia di Cinema 21, XXI, Cinepolis, CGV,

Platinum Cineplex, NSC,

Kota Cinema, dan lainnya.

Tak hanya dimanjakan dengan kualitas sinematogafi dan visual effect yang menyenangkan dan penuh warna, film ini berhasil menyajikan konflik yang realistis tentang perempuan.

Sudahkah kamu menonton Film Barbie ini? Kalau belum, izinkan saya untuk bercerita sedikit. Ini sudah pasti spoiler, jadi kalau kamu tidak menyukai spoiler, silakan tonton terlebih dahulu. Pasti kalian bertanya-tanya mengenai isi dari film ini. Pada umumnya kita tahu bahwa barbie merupakan boneka yang disukai oleh anak-anak perempuan. Belum lagi saat melihat film animasi barbie dari televisi yang pasti sudah di gandrungi oleh anak perempuan.

Sangat tidak disangka film ini dikemas dengan begitu baik, menampilkan kesan berbeda ketika menontonnya. Ini menambahkan pengalaman baru ketika menonton Film Barbie, yang dimana kamu tidak hanya merasa senang dan bahagia saat menontonnya, namun ada juga perasaan lain. Perasaanmu akan jadi campur aduk, mulai dari rasa senang, kecewa, tsayat, sedih, bahkan puas dengan ending yang ditayangkan.

Kamu akan dibawa berimajinasi ke tempat bernama Barbie Land, yang dimana semua perempuan dipanggil Barbie dan semua laki-laki dipanggil Ken.

Bagi pecinta barbie, pasti film ini sangat kalian nantikan. Pada akhirnya tayang perdana di bioskop pada tanggal 19 Juli 2023 sampai saat ini. Bukan hanya perempuan, film ini juga sukses menggaet laki-laki untuk menontonnya. Saya jamin, kalian tidak akan menyesal setelah menanti beberapa waktu dan akhirnya menonton film ini!

Bagaimana tidak terkejut? Film yang awalnya dikira hanya untuk hiburan belaka, mampu membuatmu meneteskan air mata karena sangatlah relate dengan kehidupan yang kamu jalankan.

Cerita ini bermula saat anak-anak perempuan bermain dengan memainkan peran sebagai ibu yang mengasuh boneka sebagai anaknya. Namun, semua itu berubah sejak munculnya Margot Robbie sebagai stereotype barbie yang menginspirasi segala impian didalam kehidupan perempuan. Kemudian, diciptakanlah para Barbie lain yang menjalankan perannya masing-masing.

Film yang berkisah mengenai kehidupan imajinatif penuh dengan warna serta makna ini banyak menceritakan mengenai kehidupan yang relatif dijalani oleh sebagian perempuan. Perempuan berlomba-lomba menjadi yang terbaik demi apa yang dunia inginkan.

Pada awalnya, film ini hanya menceritakan tentang bagaimana para barbie menjalankan kehidupan indahnya. Dan para Ken menjadi pemeran pendamping untuk para barbie. Mereka menjalankan kehidupan yang menyenangkan yang dapat kita lihat saat mereka bermain di pantai dan berpesta di rumah milik barbie.

Kita dapat melihat konflik dalam film ini, saat barbie tiba-tiba menanyakan soal kematian ketika mereka semua sedang menari bersama. Keesokan harinya, tiba-tiba saja barbie menjadi berbeda tidak seperti streotype barbie yang lainnya. Dia bahkan bisa menyentuh lantai dengan kakinya dan dia mempunyai selulit.

Akhirnya barbie mendatangi weird barbie atas saran dari para Barbie lain untuk mendapatkan solusi dari permasalahan yang dialaminya (dulunya weird barbie adalah barbie yang sangat cantik tetapi kemudian karena pemiliknya, barbie tersebut menjadi barbie yang jelek tidak seperti barbie lainnya).

Setelah mendapat bantuan dan saran dari weird barbie, barbie pun akhirnya pergi ke ke dunia manusia. Ternyata, ken menyelinap ke dalam mobil milik barbie, akhirnya mereka menjelajahi kehidupan manusia bersama. Setelah sampai ke dunia manusia, barbie dan ken di kejutkan dengan perbedaan yang sangat kontras antara kehidupan mereka di Barbie Land dengan kehidupan manusia. Jika kamu mengamati filmnya, kamu bisa merasakan perbedaan kontras kedua kehidupan tersebut. Ketika kehidupan di Barbie Land cenderung matriarkis, kehidupan manusia justru cenderung patriarkis.

Tak butuh waktu lama bagi barbie untuk menemui pemilik lamanya. Bergegaslah ia menemui pemilik yang dulunya pernah memainkannya. Tanpa disangka, akhirnya barbie kembali dengan perempuan yang dulunya pernah memainkannya (Gloria) beserta dengan anak perempuannya (Shasa), dan mereka pergi ke Barbie Land untuk mengembalikan keadaan seperti diawal.

Namun, mereka dikejutkan dengan Barbie Land yang sekarang, karena terlihat lebih maskulinitas tidak seperti awalnya yang cenderung feminitas. Semuanya di dominasi oleh laki-laki yang dalam hal ini merupakan para ken. Keadaannya sungguh berbalik, katika dulunya para barbie memiliki kebebasan serta kedudukan, namun sekarang semuanya telah digantikan oleh para ken yang mendominasi. Para barbie tidak lagi mempunyai tempat tinggal, dan mereka menjadi sangat bergantung dengan para ken.

Sumber Istimewa
Sumber Istimewa

 

Melihat hal itu, Gloria merasa ini tidak benar, karena seharusnya itu menjadi Barbie Land bukan Ken Land! Barbie mulai putus asa dengan hal ini karena para temannya, Barbie lain tidak merasa hal ini salah dan malah mendukung ken (Ryan Gosling) dengan pikiran patriarki yang di bawanya dari dunia manusia.

Kemudian Gloria membangkitkan motivasi barbie untuk membalikkan keadaan. Disusun lah rencana pencucian otak untuk para barbie dalam melawan konsep patriarki itu sendiri dan mengembalikan Barbie Land yang dulu.

Sumber Istimewa
Sumber Istimewa

Pada saat pencucian otak itu sendiri, banyak sekali pesan yang sangat dalam maknanya. Mengenai perempuan yang selalu harus tampil sempurna, namun tidak boleh merendahkan status laki-laki. Peran perempuan yang beragam, perempuan yang harus bisa menjadi istri serta ibu yang baik. Perempuan harus tampil cantik, tapi tidak boleh terlalu cantik sampai menggoda pria, tidak boleh merendahkan sesama perempuan tapi di sisi lain juga harus selalu menonjol, perempuan harus menolak godaan pria tanpa menghina ego mereka, perempuan tidak boleh tumbuh tua, bersikap kasar, pamer, menjadi egois, gagal, tsayat, dan tidak boleh melewati batas. Setelah melsayakan semuanya, bahkan tidak ada penghargaan ataupun kata terimakasih kepada perempuan, yang ada perempuan tetap saja salah dan harus terus-menerus harus memperbaiki dirinya.

Pada akhirnya, para barbie lain pun ikut tersadar dan mulai merencanakan untuk menghancurkan ego para ken. Dan ternyata mereka berhasil! Usaha mereka tidak sia-sia dan benar saja, para ken kemudian berkelahi satu sama lain. Sementara itu, para barbie sibuk untuk mengembalikan barbie sebagai presiden mereka.

Di akhir film ini, terlihat Margot Robbie (barbie), yang terlihat kebingungan menentukan pilihannya atas dirinya sendiri. Ruth sebagai pembuat barbie tersebut membukakan jalan pikiran untuk barbie. Ada kalimat yang Ruth sampaikan yang sangat membekas di hati saya yaitu, ”Do you understand that humans only have one ending? Ideas live forever, humans not so much.” Jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia artinya, “Apakah kamu tahu bahwa manusia hanya memiliki satu akhir saja? Ide hidup selamanya, manusia tidak begitu.”

Tidak ada salahnya untuk menyempatkan waktu menonton Film Barbie ini. Sebagai perempuan, jujur saja diakhir film, saya meneteskan air mata sangking terharunya dengan semua isi cerita yang ditayangkan di film ini. Perempuan yang sampai hari ini masih saja berjuang untuk melawan budaya patriarki serta mencari hak dan kebebasannya sebagai manusia.

 

Pernahkan kamu membayangkan sebelumnya, akan seperti apa hidup perempuan yang penuh dengan kebebasan, baik dalam hal berekspresi, berpendapat, maupun berprestasi? Tidak semua perempuan punya kesempatan yang sama dengan perempuan lainnya. Tetapi kalau menurut saya, perempuan tidak akan terlalu membutuhkan peran laki-laki lagi dalam hidupnya. Karena sejak dari kecil sudah dibentuk sedemikian rupa untuk menjadi perempuan yang kuat, tangguh, mandiri, dan serba bisa.

Pada akhirnya film ini membawa kita kepada satu ending, yaitu kebebasan. Sebagai manusia, kita bebas dan berhak menentukan pilihan kita. Kendati demikian, ada tanggung jawab yang kita tanggung demi pilihan yang kita tentukan. Menjadi manusia itu tidak menyenangkan, apalagi ketika kamu tidak punya tujuan serta jalan hidup yang tak terarah.

 

Komentar Facebook Anda

Michelle Simangunsong

Penulis adalah Mahasiswa Kesejahteraan Sosial FISIP USU Stambuk 2022. Saat ini Michelle menjabat sebagai Staf Reporter BOPM Wacana.

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4