BOPM Wacana

Masjid Raya Pematangsiantar, Kuno yang Tak Lagi Kuno

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Lazuardi Pratama

Ia masjid tertua di seantero Kabupaten Simalungun sampai pinggiran Danau Toba. Di kota asalnya, Pematangsiantar, sejak berdiri dan kemudian direnovasi ia tak pakai arsitektur jaman baheula lagi.

Masjid Raya Pematangsiantar tampak dari depan. Masjid ini dibangun tahun 1911 dan menjadi warisan Raja Siantar Tuan Sangnawaluh Damanik. | Lazuardi Pratama
Masjid Raya Pematangsiantar tampak dari depan. Masjid ini dibangun tahun 1911 dan menjadi warisan Raja Siantar Tuan Sangnawaluh Damanik. | Lazuardi Pratama

Masjid Raya Pematangsiantar bolehlah berumur paling tua. Ia dibangun lebih seratus tahun yang lalu melalui warisan raja. Tapi, Masjid Raya—panggilan akrabnya—tidaklah seperti Masjid Al-Osmani, masjid tertua se-Kota Medan yang kubahnya dari kuningan dan punya makam raja di sebelahnya.

Tidak juga seperti Masjid Raya Medan yang satu komplek dengan Istana Raja Kesultanan Deli, Istana Maimun. Ia tak kelihatan kuno karena masjid ini memiliki arsitektur yang sama dengan kebanyakan masjidlainnya. Ia juga tak kental dengan kesukuan ketimbang masjid-masjid tersebut.

Kubah induknya berdiameter dua belas meter, berwarna perak, dibentuk dari lempengan-lempengan baja tahan karat. Ada kubah-kubah berukuran lebih kecil dipasang di keempat sudut bangunan masjid dengan bahan sama.

Kedua pintu gerbang juga dipasang kubah kecil, masing-masing di kedua tiang gerbangnya. Kubah-kubah seperti ini umum dipakai masjid-masjid di Kota Pematangsiantar maupun di Kota Medan.

Pada pintu gerbang ditemui tulisan yang terukir berwarna kuning dipaving block-nya: AHLAN WA SAHLAN. Ungkapan selamat datang yang di dalamnya tersirat makna tamu yang berkunjung akan dianggap keluarga sendiri.

Masjid ini juga punya kolam ikan berisi ikan lele jumbo. Tepat di atas kolam, ada joglo yang dipakai pengunjung masjid untuk berkumpul dan rekreasi seperti makan bersama.

Masjid Raya ini umum berwarna putih, luar dan dalamnya. Pada interior masjid terdapat dua pilar besar penopang masjid yang dibalut dengan motif batik cokelat. Motif batik cokelat itu bercorak susunan belah ketupat. Pilar-pilar kecil di teras masjid juga dibalut dengan motif dan corak sama.

Lalu ada menara masjid yang menjulang jangkung setinggi empat puluh meter. Dibangun pertama kali tahun 1978, waktu itu ketinggiannya 24 meter, direnovasi dan kemudian dirobohkan karena tak laik pakai lagi. Baru tahun 2003 dibangun lagi menara yang sekarang dan diresmikan tahun 2011, bertepatan dengan perayaan seratus tahun Masjid Raya.

Menara masjid ini pula yang kontruksinya berbeda dengan kontruksi Masjid Raya sendiri. Bagian paling bawah ada bangunan dua lantai bercat putih, dengan gaya persis seperti masjid pada umumnya.

Di bagian lebih atas, salah satu bagian menaranya berbentuk mirip buah nanas terbalik, berwarna hijau, berpadu dengan dinding warna krem. Gayanya berkiblat pada kebudayaan Hindu.

Warisan Raja

Menara Masjid Raya Pematangsiantar setinggi empat puluh meter. Dibangun tahun 2003 dengan arsitektur bergaya kebudayaan Hindu. | Lazuardi Pratama
Menara Masjid Raya Pematangsiantar setinggi empat puluh meter. Dibangun tahun 2003 dengan arsitektur bergaya kebudayaan Hindu. | Lazuardi Pratama

Lewat seratus tahun yang lalu, Tuan Sangnawaluh Damanik sebelum menjadi eksil Belanda pada 24 April 1906 sempat mengotak-ngotakkan warga ke dalam beberapa tanah kekuasaannya.

Di antaranya Kampung Kristen untuk warganya yang beragama Nasrani dan Timbang Galung—sekarang Kelurahan Timbang Galung—untuk warganya yang Islam. Tiap wilayah diserahkannya kepada seorang penghulu untuk dikelola.

Tuan Sangnawaluh Damanik, raja yang menguasai wilayah Pematangsiantar waktu itu menggelar perlawanan kepada Belanda. Ia melawan karena menilai Belanda sewenang-wenang kepada pribumi. Sangnawaluh kalah, ia dibuang ke Pulau Bengkalis, Riau.

Dari salah satu warisannya berupa pengotak-ngotakan tanah, Timbang Galung ternyata belum punya masjid sebagai pemersatu warga. Jadilah saat itu Hamzah Daulay, si penghulu menghibahkan sebidang tanah dengan harapan suatu saat dibangun masjid. Tahun depannya, tahun 1911,harapan itu terkabul.

Warga setempat yang dipelopori oleh Tuan Abdul Jabbar Nasution, M. Hamzah Harahap, Dja Aminuddin dan si penghulu sendiri membangun masjid sederhana. Masjid pertama di Kota Pematangsiantar dan Kabupaten Simalungun.

Awal kontruksi masjid tersebut tidak permanen. Tiang penyangganya dari kayu dengan dinding berlapiskan papan, serta atapnya dari daun nipah. Sementara tak punya pintu dan jendela. Ini yang membuat mengapa Masjid Raya tak punya gaya berdasarkan kesukuan: karena sedari awal dibentuk ala kadarnya.

Maskut Harahap adalah penulis buku Sejarah Masjid Raya Pematangsiantar terbitan 1993 sekaligus pengurus masjid pada tahun yang sama. Ia jelaskan sejarah awal masjid berdiri sampai sekarang.

Karena merupakan masjid pertama yang berdiri di Kota Pematangsiantar dan Kabupaten Simalungun, masjid ini ramai disambangi jamaah, khususnya saat salat jumat. Jamaah yang hadir tidak hanya dari Timbang Galung atau daerah sekitaran Kota Pematangsiantar saja namun hingga luar kota.

Hal itu berdasarkan pernyataan Adnan Daulay, anak Penghulu Hamzah Daulay yang kemudian disadur Maskut dalam bukunya.

Ramainya jemaah menyebabkan Masjid Raya selalu ramai dan membeludak pada ibadah-ibadah tertentu. Sehingga pada tahun 1927 masjid direnovasi. Ini merupakan kali pertama renovasi dari total empat kali renovasi. Renovasi masjid waktu itu bergantung pada dana dari donatur.

Setelah dana cukup, maka dibangun fasilitas air, listrik, perluasan masjid dan penyediaan pengeras suara untuk azan. “Namun alat yang dipakai (pengeras suara) merupakan pelat seng yang dibentuk sedemikian rupa hingga berbentuk kerucut dengan ukuran lebih enam puluh sentimeter,” ujar Maskut dalam bukunya.

Setelah renovasi pertama tersebut, Masjid Raya terus menerus dipoles dan dipugar. Namun, renovasi yang dilakukan hanya bersifat memperindah. Contohnya, tahun 1975, dibangun pagar dari batu bata dipadu dengan besi yang dirangkai. Kemudian pada bagian atap masjid, ditambahi empat kubah kecil, tujuannya untuk melengkapi kubah induk.

Barulah pada tahun 1993, melalui peletakan batu pertama oleh Walikota Pematangsiantar Zulkifli Harahap, Masjid Raya dirombak total: Bangunan lama dibongkar, dan dibangun bangunan baru. Maskut bilang, pertimbangannya adalah kapasitas masjid yang sudah tak memadai lagi. Bahkan jemaah salat di tangga ketika masjid sedang ramai-ramainya.

Renovasi inilah yang menciptakan kontruksi bangunan masjid seperti sekarang. Namun, Maskut mengatakan, renovasi-renovasi yang dilakukan masjid ini membawa dampak buruk pada masjid. Ia merasa, koleksi barang-barang peninggalan masjid, seperti arsip banyak yang hilang dalam prosesrenovasi. Renovasi itu juga yang menyebabkan arsitektur masjid ini kehilangan sisi kekunoaannya.

“Kalau peninggalan saya rasa sudah enggak ada lagi,” pungkas Maskut.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).