BOPM Wacana

Masalah Toilet, Masih Masalah Klasik

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Fredick BE Ginting

Masalah klasik masih menghantui kebersihan toilet di USU. Fasilitas ada upaya ditingkatkan, sayangnya tak diikuti kesadaran untuk menjaganya. Pun dalam anggaran, masih terkesan enggan untuk serius.

Coretan Dinding | Seorang mahasiswa FIB saat ngin memakai toilet di Gedung I, Rabu (5/10). Kondisi pintu toilet yang rusak masih tetap digunakan mahasiswa. | Wenty Tambunan
Coretan Dinding | Seorang mahasiswa FIB saat ngin memakai toilet di Gedung I, Rabu (5/10). Kondisi pintu toilet yang rusak masih tetap digunakan mahasiswa. | Wenty Tambunan

Lantai bangunan seluas dua kali satu setengah meter itu bermarmer kuning. Di dalamnya ada sebuah kloset jongkok, bak plastik, dan sebuah gayung plastik tanpa tangkai. Pintunya terbuat dari plastik tanpa engsel pengunci. Untuk menjaga agar tertutup ketika orang berada di dalam, ada kayu kecil yang dipakukan di atas pintu.

Inilah salah satu toilet yang berada di Fakultas Ilmu Budaya (FIB), di Gedung A lantai satu. Ada dua toilet di gedung itu. Yang satu lagi, toilet khusus untuk dosen dan terkunci bagi mahasiswa.

Mahasiswa mengeluhkan kondisi toilet tersebut. “Pintunya jebol-jebol. Kalau pagi aja bersih, udah siang kotor lagi,” ujar Liza Amelia, mahasiswa FIB 2013 sambil mengernyit.

Sebenarnya, FIB punya toilet lebih baik di Gedung D. Gayung, bak, dan kloset di toilet ini lebih baik dari toilet yang kerap digunakan Liza. Sayang, mahasiswa tak bisa akses karena hanya dikhususkan untuk dosen.

Kondisi ini juga dirasa Muhammad Fahruza, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) 2012. Selama berada di kampus ia kerap gunakan toilet laki-laki yang ada di seberang Gedung A. Aroma kelat amoniak khas air seni menyambutnya ketika berkunjung. “Bau kali,” keluhnya.

Suasana berbeda terlihat di toilet Pusat Bahasa (Pusba). Lima toilet di Pusba bersih dan tak bermasalah dengan ketersediaan air, sabun cair, tisu, dan keset kaki.

Di dinding-dinding toilet terpajang kartu kontrol berukuran setengah kertas A4. Di kartu itu tertera tanggal, waktu, dan kondisi toilet setelah dibersihkan. Andri Nasution, staf keuangan dan umum Pusba cerita memang ada perlakuan khusus yang diterapkan untuk toilet di Pusba.

Dulu kondisi toilet di Pusba sama dengan toilet-toilet yang ada di fakultas-fakultas. Mulai 2013, Pusba mengalami perbaikan gedung dan fasilitas. Tak ketinggalan, Pusba juga meminta rektorat keluarkan anggaran khusus perbaikan toilet.

Andri cerita, awalnya Pusba meniru perawatan toilet dari PT ISS, jasa pelayanan kebersihan yang dipakai Fakultas Kedokteran (FK). “Kita tiru FK, mereka punya pegawai khusus. Kita tiru (Fakultas—red) Farmasi, mereka punya toilet yang bagus.”

Perlahan sistem perawatan toilet dibuat. Toilet dibersihkan pagi, siang, dan sore setiap hari. Setelah jam lima sore toilet dikunci. “Biar besok mau dipakai enggak jorok lagi,” jelas Andri. Hanya satu toilet dibiarkan untuk dipakai satpam yang berjaga.

Toilet di FK memang mirip toilet di Pusba. FK memang memperkerjakan petugas khusus dalam perawatan toilet. Lisa Kusuma Rahayu contohnya. Katanya, ia memeriksa kebersihan di toilet dua sampai tiga kali dalam sejam. Selain Lisa, ada lima petugas lain yang bertanggung jawab dalam perawatan toilet lantai 1, 2, 3, gedung Abdul Hakim, dan gedung-gedung lain.

Pembersihan toilet dimulai dengan memeriksa ada sarang laba-laba atau tidak, wastafel, kloset, dan urinoir, serta membersihkan dinding kamar mandi. Juga mengisi sabun cuci tangan apabila kosong.

Namun, bukan tak berarti toilet di FK selalu dalam kondisi baik. Kata Lisa, mahasiswa kerap buang sampah sembarangan, tak bersihkan kloset dengan benar, membiarkan air tergenang di wastafel, bahkan buang air di lantai. Masalah ini umumnya terjadi di fakultas lain.

Anwar, Kepala Subbagian Perlengkapan (Kasubag) FISIP bilang toilet tidak bersih di FISIP akibat ulah mahasiswa. Ia dan kawan-kawan kerap menempelkan selebaran tentang menjaga kebersihan toilet dan keberadaan benda-benda yang ada. Namun tak digubris mahasiswa. “Tapi bukan berarti berhenti sampai di sini. Tetap dikerjain semua perbaikan dan pemeliharaan, sambil mahasiswanya diimbau juga,” tegasnya.

Hal sama terjadi di FKM, FKep, dan Fasilkom-TI. Kesadaran pengguna toilet untuk membersihkan setelah memakai belum terbangun.

Pihak dekanat mengaku telah berusaha menjaga kebersihan toilet. Di FIB setiap pagi toilet dibersihkan oleh cleaning service. Namun, mereka bukan petugas khusus toilet. “Makanya kalau siang sudah kotor lagi, jadi pakainya juga enggak nyaman,” sahut Rasmadi, Kasubag Perlengkapan FIB. Pengadaan peralatan juga sudah diupayakan. Mulai pintu, gayung, bak. Namun, penjagaan yang kurang maksimal.

Air menjadi salah satu hal paling penting untuk toilet. Ini menjadi salah satu perhatian khusus di fakultas-fakultas, termasuk FIB. Tahun lalu sudah dibangun dua tabung besar untuk menampung air.

Kala itu, ini menjadi solusi agar air di toilet-toilet FIB selalu tersedia. Air dalam tabung dibagi pada empat tabung lebih kecil yang tersebar di Gedung K, dua di Gedung M, dan satu di dekat musala. “Kalau air di bak besar kosong, ya kosonglah air di toilet,” ujar Rasmadi.

Berbeda dengan FISIP yang tak punya tabung besar penampung air. “Nanti rencana akan dibangun, dua di dekat kantin itu,” sebut Anwar. Di Fasilkom-TI, tersedia tiga buah bak penampung air untuk menjamin ketersediaan air.

Mengenai air, Ketua Tim Pelaksana USU ASRI Devin Defriza Harisdani mengatakan tengah rencanakan menambah reservoir besar—sebutan untuk tempat air di dua titik. Satu rencananya diletakkan di tempat publik, yaitu perpustakaan. “Dia akan suplai apakah ke (Fakultas—red) Ekonomi atau Pertanian,” ujarnya. Sementara satu lagi mungkin akan ditempatkan di dekat auditorium. “Sehingga FKG (Fakultas Kedokteran Gigi—red) kebagian,” lanjutnya. Menurut Devin, reservoir merupakan hal penting untuk menjaga ketersediaan air tetap lancar di toilet-toilet se-USU.

Pentingnya ketersediaan air juga dituturkan Taufik Azhar, dosen bidang kesehatan lingkungan FKM. Disebutnya air bersih yang terus mengalir menjadi syarat mutlak dalam sebuah toilet. Ia menilai USU  cukup baik dalam hal ini.

Wakil Rektor V Yusuf Husni menuturkan fasilitas toilet di fakultas menjadi tanggung jawab masing-masing dalam hal pemeliharaan dan perawatan. Tugas rektorat menerima laporan berkala setiap enam bulan mengenai kondisi setiap sarana prasarana, termasuk toilet. Dari situ rektorat mengontrol fasilitas-fasilitas yang ada di seluruh USU. Dari laporan itu pula ia biasanya pertimbangkan lakukan perbaikan atau peningkatan perawatan.

***

Taufik jelaskan masalah penganggaran merupakan salah satu hal penting dalam perawatan toilet. Sayang belum semua fakultas punya anggaran khusus toilet, misalnya untuk petugas khusus. Padahal fakultas punya hak tentukan anggaran pemeliharaan dan perawatan toilet dengan menganggarkannya di Rencana Kerja Anggaran Tahunan.

FKep, FKM, Fakultas Teknik, Fasilkom-TI, dan FIB contohnya. Anggaran hanya disediakan untuk petugas kebersihan secara umum dan pengadaan alat.

Bersih Mengilap | Toilet di FK, Selasa (11/11). Toilet FK memiliki fasilias lengkap dengan menggunakan Jasa PT ISS. | Yulien Lovenny Ester G
Bersih Mengilap | Toilet di FK, Selasa (11/11). Toilet FK memiliki fasilias lengkap dengan menggunakan Jasa PT ISS. | Yulien Lovenny Ester G

Di FKM, Razali, Kasubag Perlengkapan mengatakan pemeliharaan toilet dianggarkan di awal tahun dan pembelian perlengkapannya dilakukan dua kali setahun. FKM anggarkan lima juta per enam bulan untuk perlengkapan toilet.

Sedangkan di Pusba, anggaran Rp 500 ribu disediakan setiap bulan untuk perawatan toilet seperti sabun cair, tisu, dan perlengkapan lain. Untuk honor petugas khusus dikeluarkan Rp 1,35 juta masing-masing untuk tiga pegawai.

Keterbatasan penganggaran mengakibatkan toilet-toilet di USU masih belum  dikatakan memenuhi beberapa standar toilet sebagai fasilitas publik.

Taufik menyebut selain air ada beberapa hal yang harus terpenuhi dalam sebuah toilet, yaitu sabun cair, ventilasi yang sesuai, tempat sampah tertutup, dan alat lain seperti gayung dan pintu dalam kondisi baik.

“Sabun cair yang sangat kurang bahkan enggak ada di beberapa fakultas,” ujar Taufik. Sabun cair harus tersedia untuk menghindarkan pengguna toilet dari bakteri penyakit. Sementara ventilasi berfungsi sebagai media sirkulasi udara. Jika toilet terletak di tengah-tengah bangunan sangat riskan tidak punya ventilasi yang memadai.

Untuk menjaga kebersihan dan perawatan toilet memang butuh anggaran lebih besar. Contoh, FK yang gunakan jasa PT ISS dalam mengelola empat puluh toilet di fakultasnya. Enni Susianti, Kasubbag Perlengkapan FK bilang standar kamar mandi FK mengikuti standar kamar mandi yang digunakan PT ISS.

“Mereka kan yang mengurusi Hermes, JW Marriot, jadi kita juga mau kamar mandi di sini seperti itu. Toh kita bayar juga dengan besaran yang sama,” ujarnya. Enni tak tahu pasti berapa jumlah anggaran untuk penyediaan jasa kebersihan tapi menurutnya tiap tahun memang dana tersebut diajukan dalam Rencana Bisnis dan Anggaran FK.

Devin bilang untuk mengatasi masalah ini kedepannya sudah disiapkan sistem yang lebih baik, ialah bengkel universitas (university workshop) yang nanti berada pada level eksekutor sebagai pengelola pemeliharaan. Rencananya dibagi dalam enam divisi: gedung dan bangunan, jalan dan drainase, lingkungan dan lansekap, kelistrikan dan mobil dinas, sistem teknologi informasi, dan tempat pembuangan sampah.

Pemeliharaan toilet berada dibawah divisi gedung dan bangunan. “Jadi ketika ada toilet yang rusak, tim dari bengkel universitas ini akan langsung bergerak,” terangnya.

Bengkel universitas nantinya akan menyusun sistem pemeliharaan rutin, berkala, dan aksidental. Caranya dengan menerapkan kartu kontrol di toilet.

“Di dinding toilet harusnya ada kartu kontrol yang isinya sudah dibersihkan atau belum, bagaimana wastafelnya, sampai tong sampahnya pun ada,” ungkapnya. Kebijakan ini sejalan dengan salah satu poin program kerja USU ke depan yang tercantum dalam Rencana Strategis dan Rencana Jangka Panjang yang memastikan bahwa toilet harus bersih dan terawat.

Menurut Taufik lembar atau kartu kontrol menjadi salah satu solusi dalam penigkatan perawatan toilet. Namun harus dibarengi penyediaan petugas khusus untuk membersihkan toilet.

Mengenai pihak yang paling bertanggung jawab menjaga kebersihan toilet, Taufik menegaskan pihak tersebut adalah pengguna, baik mahasiswa, pegawai, atau dosen. “Siapa pun yang menggunakan, setelah selesai harus membersihkan. Mereka harus sadar dan punya kepedulian” tegas Taufik.

Koordinator Liputan: Fredick BE Ginting

Reporter: Ferdiansyah, Sri Wahyuni Fatmawati P, Yulien Ester Lovenny G dan Fredick BE Ginting

 

Laporan ini pernah dimuat dalam Tabloid SUARA USU Edisi 100 yang terbit November 2014.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).