BOPM Wacana

Manisnya The Fault in Ours Stars

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Aulia Adam

Judul : The Fault in Our Stars
Sutradara : Josh Boone
Naskah : Scott Neustadler dan Michael H Weber
Pemain : Shailene Woodley, Ansel Elgor, Natt Wolff, William Dafoe, dan Laura Dern
Tahun Rilis : 2014

Film ini, kita singkat saja jadi TFIOS, hadir sebagai pilihan alternatif diantara film-film bergenre fantasi yang bertaburan di bioskop. Tak perlu efek spesial—yang makan biaya—untuk jadi istimewa sepertinya. Hanya butuh naskah dan lakon cantik.

TFIOS-2
Sumber Istimewa.

Divergent (Neil Burger, 2014), seri Hunger Games dan seri-seri lanjutannya masih berhasil melanjutkan kejayaan film-film bergenre drama-fantasi. Setelah sebelumnya, berhasil tenar dibuat seri Twilight. Hal ini membawa latah sendiri di Hollywood sana. Tak bisa ditampik kalau film-film impor dari sana kebanyakan bergenre fantasi. Kalau tak diangkat dari komik Marvel, ya diangkat dari buku-buku laris berlabel New York Times Best Seller; seperti judul-judul di atas.

Namun, studio sekelas 20th Century Fox berani ambil jalan sendiri dengan mengangkat genre sederhana sebagai saingan film-film tadi; untuk sajian film musim panas tahun ini.

Dari sekian banyaknya pilihan judul lain yang serupa (fiksi fantasi dan berlabel New York Times Best Seller), 20th Century Fox memilih The Fault In Our Stars karya penulis Amerika Serikat, John Greene, untuk digarap kali ini. Jangan berharap ada vampir, serigala jadi-jadian, atau masyarakat madani yang jago teknologi di film ini, karena, sekali lagi: ia bukan fantasi. Hanya drama-komedi romantis biasa.

Tokoh utamanya seorang gadis berusia 16 tahun. Namanya Hazel Grace Lancaster (Shailene Woodley). Penampilannya—sebenarnya—biasa saja, kecuali selang pernapasan yang selalu terpasang di hidungnya. Dan tas jinjing yang selalu diseretnya ke mana saja ia bergerak. Isi tas itu tabung oksigen yang tersambung ke selang di hidungnya.Dia gadis biasa saja yang punya tumor di paru-parunya.

Karena tumor itu, Hazel harus ikut kelompok pendukung yang isinya orang-orang sama dengannya, orang-orang dengan kanker. Ia sebenarnya tak ingin berada di kelompok pendukung itu, karena merasa terlalu menyedihkan. Tapi demi menghormati kemauan sang ibu, ia hadir di sana, berkali-kali. Hingga di suatu pagi, pertemuan itu terasa berbeda karena kehadiran seorang pemuda. Dia berbeda karena tidak terlihat semenyedihkan teman-teman Hazel yang ada di sana. Pemuda itu disebut Hazel sebagai hot boy with deep blue eyes.

Namanya Augustus Waters. Ia mantan penderita osteosarkoma yang berhasil selamat dengan cara mengamputasi kakinya. Jadilah kaki kanannya ditopang kaki palsu.

Setelah hari itu, hidup keduanya berubah lebih menyenangkan.

Ternyata tak hanya Hazel Grace yang jatuh hati pada si pemuda, tapi si pemuda juga punya perasaan yang sama. Inti dasar cerita ini memang sesederhana itu. Kisah cinta sepasang penderita kanker (karena ternyata kanker yang ada di tubuh Augustus masih menggerogoti pinggang hingga jantungnya). Tapi plot unik yang membalutnya menjadikan cerita ini tak biasa dan tak terduga.

Ceritanya, Hazel dan Augustus bertukaran novel favorit. Yang Hazel serahkan ke Augustus bukan sembarang novel favorit. Imperial Affliction adalah novel yang bercerita tentang gadis penderita kanker bernama Anna yang mengakhiri novel itu dengan kalimat yang belum selesai. Karena ia mati dibunuh kankernya.

Dari ujung novel itu Hazel ingin membuktikan bahwa meskipun hidup seorang penderita kanker berakhir, tapi keluarganya pasti masih bertahan, melanjutkan hidup. Hazel ingin si penulis novel memberitahunya bagian tersebut. Ia ingin membuat ibunya siap, jika suatu saat nanti ia harus menyerah dengan tumor ganas di paru-parunya.

Augustus yang sangat menyukai gadis ini, diam-diam mati-matian mewujudkan keinginan sang gadis. Padahal si penulis telah lama hiatus ke Amsterdam.

TFIOS-1
Sumber Istimewa

Jangan pikir karena ini kisah dua orang penderita kanker yang saling jatuh cinta, maka isi film ini akan melulu memutar adegan-adegan yang membuat kita mengiba atau justru muntah. Karena yang ditampilkan Josh Boone adalah sebagian besar dialog-dialog kocak yang membuat suasana bioskop penuh tawa.

Justru bagian menyedihkan hanya diselipkan beberapa menit tanpa terlalu didramatisasi. Misalnya kematian salah satu tokoh utama, antara Hazel atau Augustus yang sebenarnya bisa kita tebak dari awal tapi tak bijak bila dituliskan di sini. Kematian itu hanya dibungkus beberapa menit adegan menangis sang kekasih. Diisi narasi singkat yang menjelaskan keadaan. Tapi, di sanalah penonton dihantam telak hingga tak bisa menahan haru. Drama ini menuntaskan tugasnya di sana.

Menyediakan klimaks yang mungkin terduga secara alur, tapi tak kehilangan esensinya sebagai klimaks.

Apa sebabnya? Tentu saja lakon manis yang disajikan kedua bintang utama. Woodley berhasil tampil memukau. Ia berhasil memanfaatkan raut mukanya yang memang sudah super-protagonis untuk mempermainkan perasaan penonton. Dan kecerdikan Josh Boone memilihnya juga perlu diapresiasi. Kecerdikan Boone lainnya, adalah ia fokus dengan alur ceritanya, tak terlalu bermain-main di sinematografi. Cerdik karena hal ini yang membuat film TFIOS sama sederhana dan manisnya dengan novel ketujuh John Greene itu. Bahkan lebih manis.

Di tengah tegangnya perpolitikan negeri ini, di tengah bertaburnya film-film fantasi yang sama tegangnya, TFIOS hadir dengan kesederhanaannya. Membawa sebuah kisah manis yang meski sedih, tapi tetap membuat senyum kita tersimpul di ujung ceritanya. Sebuah hiburan yang sangat menghibur.

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).