
Oleh: Muhammad Hafizh
USU, wacana.org – Dua mahasiswi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara (USU), Nabilah Zulfa Ulya Pulungan dan Clariysa Edelyn Wangsa, berhasil meraih gelar Duta (Sustainable Development Goals) SDGs Fakultas Farmasi USU Tahun 2026 yang diselengarakan pada 15 Juni 2026.
Salah satu Duta SDGs, Nabilah, pada Kamis (25/6/2026), menjelaskan bahwa SDGs merupakan 17 tujuan pembangunan berkelanjutan yang dirancang oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai arah bersama untuk menciptakan dunia yang lebih sehat, adil, dan berkelanjutan. Menurutnya, SDGs memiliki cakupan yang luas karena tidak hanya membahas satu bidang tertentu.
“Bagi saya, inovasi tidak berhenti pada mengambil konsep yang sudah ada. Kita juga harus melihat bagaimana konsep itu bisa disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat di Indonesia,” ujarnya.
Sebagai mahasiswa Farmasi, Nabilah memilih fokus pada isu kesehatan, khususnya SDGs 3 atau Good Health and Well-being. Baginya, kesehatan merupakan isu yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, namun masih memiliki berbagai tantangan yang membutuhkan solusi inovatif dan berkelanjutan.
Duta SDGs lainnya, yakni Clarisya menyebut keikutsertaannya menjadi bagian dari duta SDGs karena ia ingin menunjukkan ilmu farmasi tidak hanya hadir di ruang kelas atau laboratorium, tetapi juga dapat menjadi bagian dari solusi yang relevan dan aplikatif bagi kebutuhan masyarakat. “Salah satu inovasi yang kami usung adalah program USU Wellness Corner, sebuah gagasan untuk meningkatkan kesadaran dan kualitas kesehatan di lingkungan kampus,” tuturnya.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi mereka adalah menentukan sudut pandang inovasi agar tidak hanya berfokus pada satu tujuan SDGs. “Kami menyadari bahwa berbagai isu pembangunan saling berkaitan sehingga diperlukan pendekatan yang lebih luas dalam merancang solusi,” pungkasnya.
Selain itu, Clarisya juga menyebut tantangan lainnya muncul dalam pengembangan USU Wellness Corner yaitu memastikan program tersebut dapat diterapkan, bukan sekadar menjadi konsep di atas proposal. “Untuk mewujudkannya kami mempelajari mekanisme pengelolaan obat kedaluwarsa serta berdiskusi dengan dosen pembimbing dan mempelajari sistem limbah B3 di Fakultas Farmasi USU,” tuturnya.
Clarisya juga turut mengajak mahasiswa untuk lebih aktif mencari dan memanfaatkan peluang yang ada. “Opportunity hunting, jangan menunggu bola datang, tetapi kita yang menjemputnya. Trust the process, keberanian untuk mengubah keresahan menjadi aksi nyata itulah yang akan membawa kita pada prestasi,” tutur Clarisya.
Menanggapi hal ini, mahasiswa Metrologi dan Instrumentasi stambuk 2025, Cindy Fitricia, turut mengapresiasi proses yang dilakukan Duta SDGs terpilih. “Prestasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa tidak perlu takut untuk mencoba. Selama ada kemauan dan usaha, setiap mahasiswa memiliki kesempatan untuk berkembang dan berprestasi,” ujar Cindy.



