BOPM Wacana

Lintang Kartika

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Tantry Ika Adriati

Ilustrasi: Alfat Putra Ibrahim
Ilustrasi: Alfat Putra Ibrahim

IntanTak terasa hampir setiap hari hujan turun. Kau tahu, ini musim penghujan. Angin Muson Barat bertiup dari Benua Asia ke Benua Australia. Ia membawa banyak uap air, sehingga kristalnya mencair dan menjadi hujan di benua Asia.

Seperti yang terjadi hari ini, air-air hujan jatuh membasahi kulit Bumi. Tanah kering yang berhari-hari memanas, kedinginan disentuh rintik hujan dari langit. Lalu kau akan mencium petrikor, bau khas hujan yang bersentuhan dengan tanah. Baunya akan membekas di hatimu dan akan mengingatkanmu pada hari ini, pada musim penghujan.

Aku suka bau itu. Apalagi malam ini, saat pertengahan musim penghujan Oktober. Bau ini berasal dari minyak yang dihasilkan tumbuh-tumbuhan. Ia diserap bebatuan dan tanah, sehingga kita bisa menciumnya saat hujan turun.

Petrikor mengingatkanku pada Electra, wanita yang selama ini kucari-cari. Ia telah hilang. Tepatnya di bulan Oktober, saat musim penghujan, saat aku juga mencium bau-bau petrikor di kediaman malam.

Entahlah, aku merindukan Electra. Seandainya ia ada di sini hari ini, pasti malam ini akan lebih indah. Pasti bintang akan bersinar lebih terang lagi. Pasti kau akan lebih bahagia, karena ada Electra yang akan membuatmu tertawa saat waktu-waktu sendu seperti hari ini.

Kau tahu, aku sudah mencari Electra selama lima ratus tahun. Ia hilang begitu saja, terpisah dari rombongan saat kami hampir tertangkap oleh para pemburu. Ya, pemburu-pemburu jahat. Mereka adalah temannya Orion, bintang yang terkenal paling terang sejagat raya.

Aku benci Orion, karena dia berlagak paling hebat di antara bintang lainnya. Meskipun kuakui ia memang begitu; tangguh tapi angkuh. Ia begitu kejam padaku, juga Electra. Ia selalu menjadikanku objek buruan. Aku tak tahu mengapa, beberapa orang yang kukenal mengatakan alasannya karena Orion menyukai kami.

Jelasnya, tak ada di antara kami yang benar-benar jatuh cinta pada Orion. Tapi bukan Orion namanya jika tak mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia tak ubahnya seperti pemburu dan tak pernah menyerah mengejar mangsanya. Mangsanya adalah aku. Ke mana pun kami pergi, ia selalu berusaha menemukan kami.

Lantaran risih dengan sikap Orion, aku dan Electra memutuskan pergi jauh. Atlas, ayahku marah, tentu saja.

Tapi Zeus tahu alasan kami pergi karena ulah Orion. Suatu hari, saat aku bertemu dengan Zeus, aku meminta Zeus melindungi kami dari kejaran Orion. Zeus yang bijaksana mengabulkan permintaan kami.

Ia bilang akan mengubah kami menjadi merpati, sehingga Orion tak akan menemukan kami. Aku setuju, tapi Electra tak setuju. Menurutnya pertolongan itu tak adil, karena baginya Orionlah yang seharusnya dihukum, Orion yang harus diubah jadi merpati.

Orion terlalu kuat. Daripada melawannya, Zeus lebih memilih melindungi kami, dengan mengubah kami menjadi merpati.

Electra tetap tak mau, karena ia benci langit. Ia tak mau menjadi merpati, terbang di langit, dan harus singgah ke Bumi jika sedang lelah. Electra lebih suka di Surga, tempat kami dilahirkan.

Aku berusaha membujuknya, tapi Electra terlalu keras kepala. Ia bersikeras akan membalas perbuatan Orion. Sampai pada akhirnya, kami terpisah. Kuyakin sekali saat itu sebenarnya Electra tak mau berpisah dengan kami,  tapi takdir malah berkata lain. Ia hilang bersama angin muson Barat yang membawanya ke ujung dunia yang lain.

Akhirnya, Zeus tetap memutuskan mengubah kami menjadi Merpati.

*****

Setelah waktu berlalu dan hari ini tiba, aku baru mengetahui bahwa Orion telah mati karena dibunuh kalajengking (orang-orang menyebutnya Scorpio). Zeus merasa sedih karena kematian Orion disebabkan ulah istrinya. Maka, sebagai wujud penyesalan, Zeus mengubah Orion sebagai bintang paling terang di langit. Orion menjadi rasi Bintang paling terang sepanjang masa. Ia mengalahkan rasi bintang lainnya yang bersemayam di langit.

Untungnya, aku tak pernah lagi bertemu dengan Orion. Seperti halnya aku dan Electra, kami dipisahkan oleh waktu.

Aku tinggal dalam sebuah gugus bersama keenam bagian diriku. Setiap aku terbangun di bulan Oktober, aku selalu merindukan Electra. Kadang juga merindukan Atlas, ayahku, yang juga kehilangan Hyades. Aku bahkan telah mencari Electra setiap pergantian gugus bintang di langit. Namun, aku tak menemukannya.

Electra adalah bagian yang hilang dalam diriku. Ia adalah bagian ketujuh dari gugusku. Tanpanya, langit tak akan pernah gembira. Sebab hanya Electra yang punya kepribadian menghibur manusia. Bukan Tygeta, Maia, Alycone, atau pun Celaeano. Hanya Electra yang punya keistimewaan itu.

Kehilangan Electra adalah kesedihan paling besar dalam hidupku. Aku tak pernah berhenti memikirkannya, sedikit pun. Bahkan saat Zeus menjadwalkan diriku untuk menerangi Bumi, aku tak bisa menghiburmu.

Tapi kau tak usah gundah. Aku akan bersinar paling terang menemani malammu, meski sangat sulit untuk berdamai dengan hujan. Seperti yang kubilang tadi, aku hanya akan muncul saat musim penghujan saja. Menghabiskan malam yang gelap bersama rintik hujan dan bau petrikor.

Ah, ya. Kau belum tahu namaku, ya?

Namaku Lintang Kartika. Orang-orang biasa memanggilku Pleiades. Aku salah satu rasi bintang yang sering kau temukan dengan mata telanjang pada malam hari. Aku adalah gugus bintang paling muda, dan cukup diminati banyak orang. Aku melahirkan rasi bintang Taurus, tandingan Orion. Kami bersama-sama akan muncul di depan matamu saat Oktober menjemput. Lalu, aku, Lintang Kartika akan selalu menemanimu saat musim hujan tiba.

 

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).