BOPM Wacana

Lamasi Pakpahan, Daya Juang si Wirausahawan

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Aulia Adam

“Kalau mau besar, bergaulah dengan orang yang lebih besar dari kita.” – Lamasi Pakpahan.

Foto: Aulia Adam
Foto: Aulia Adam

Ia panik. Ibunya terus mengaduh sambil memegang perut.

Asam lambung sang Ibu naik. Buru-buru ia dan ayahnya pergi membawa sang Ibu ke rumah sakit. Ia menyesal. Asam lambung ibu naik karena ia baru saja meledak—melampiaskan amarahnya kepada ayah dan ibu. Padahal mereka baru datang dari kampung, di Tanjung Leidong, Kabupaten Labuhan Batu Utara, ke kos-nya di Binjai. Maklum saja, pendidikan di Tanjung Ledong tak begitu maju, sehingga orangtuanya mengirim ia ke Binjai untuk sekolah.

Ayah dan ibu memang datang karena sebelumnya ia telepon, dan marah-marah pula minta diikutkan bimbingan belajar. Soalnya, ia baru tamat SMA. Pengin sekali masuk Universitas Sam Ratulangi di Manado sana. Tapi, jawaban sang Ayah sangat mengecewakannya. “Untuk sekarang, kamu belum bisa ikut bimbingan dulu ya, Nak. Biaya untuk kakakmu yang masih skripsi cukup berat. Ayah belum bisa penuhi kalau kamu mau bimbingan,” kata ayahnya. Ia diminta untuk belajar sendiri dulu.

Hal itulah yang membuat Lamasi Pakpahan, sang anak, gusar. Emosinya naik. Dan marah besar kepada orang tuanya hari itu.

Ia merasa diperlakukan tak adil oleh orang tuanya. Belakangan, uang kiriman dari orang tuanya memang berkurang, bahkan pernah sesekali ia hanya makan nasi putih dioseng dengan bawang merah dan garam.

Terbiasa dikirimi uang bulanan sebesar Rp 500 ribu-Rp 700 ribu saat masih SMA, Lamasi tentu saja tak terima. Itulah sebabnya, ia menelepon orang tuanya untuk mengadu.

Tapi yang terjadi di luar dugaannya. Ibunya justru sakit setelah Lamasi meledak. Keinginan untuk ikut bimbingan pun makin jelas tak terwujud. Sebab, ia dan saudara-saudaranya harus bahu-membahu biayai ongkos perawatan sang Ibu. Maklum saja, ekonomi keluarganya memang sedang tidak baik. Ayahnya yang seorang petani sedang dilanda gagal panen.

Melihat Ibunya yang terbaring lemas di dipan rumah sakit, Lamasi benar-benar menyesal minta ikut bimbingan. Maka ia bertekad untuk bisa lulus di universitas favoritnya itu dengan belajar sendiri.

Tekadnya tak sembarang. Lamasi mulai cari kerja sampingan. Ia juga ingin membantu biaya perawatan sang ibu. Diajak seorang kawan, Lamasi pergi ke Pajak Tavip Binjai. Di sana ia hilangkan perasaan malu-malunya untuk berjualan kantong plastik. Ia tawarkan kepada semua ibu-ibu yang mungkin butuh plastik tambahan untuk bawa belanjaannya. Dari sana, Lamasi belajar susahnya cari uang dan semakin menyesali perlakuannya terhadap ayah dan ibu.

Hasil dari jual plastik ia gunakan untuk memulai usaha pertamanya: menjual pulsa. Semua pengeluaran dicatatnya. Ia juga mulai menabung untuk daftar Seleksi Masuk Nasional Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Tak cukup jualan pulsa, ia juga jadi buruh jasa cuci kendaraan.

Punya tabungan yang cukup, ia mengembangkan usaha jual pulsanya. Dibantu sang adik, ia buka cabang di kampung. Dari usaha jual pulsa inilah, Lamasi mulai belajar manajemen keuangan yang baik.

Tak dinyana, beberapa bulan setelah itu ia lulus SNMPTN. Mimpi berkuliah di Manado kian dekat, karena ayahnya dulu pernah berjanji setuju dengan mimpinya itu.

Tapi, sandungan ekonomi lagi-lagi membinasakan mimpinya. Hati Lamasi benar-benar hancur waktu itu. Matanya mulai mendidih. Lagi, sang Ayah bilang tak sanggup membiayai kuliahnya karena masih harus bertanggung jawab atas kuliah sang kakak.

Tapi, ia urungkan niat marahnya. Ia tak ingin ibunya sakit lagi. Lamasi memang menangis. Tapi tak di depan orangtuanya.

Ia putar otak untuk tetap bisa berkuliah. “Mungkin Sam Ratulangi bukan jodoh saya,” ujarnya. Pikir Lamasi, kuliah memang sangat penting. Pendidikan bisa membawa seseorang ke kehidupan lebih baik. Tapi keuangan orang tuanya memang tak bisa diharapkan lagi. Maka dari itu, ia kian serius menekuni dunia wirausaha.

***

Ingatan Lamasi masih jelas tentang bagaimana ia menahan rasa malunya, saat berjualan plastik di pasar. Itu terjadi 2010 lalu, saat umurnya masih 18 tahun. Masih empat tahun yang lalu. Masih segar sekali di ingatannya.

Hari ini, saat usianya masih 22 tahun, Lamasi sudah menikmati kerja kerasnya. Ia jadi pegawai swasta sekaligus wirausaha sukses. Kini ia bekerja sebagai sales mobil di sebuah dealer. Pun telah merintis sebuah perusahaan event organizer, Nusantara Satu namanya. Sebelum jadi sales mobil, Lamasi sempat jadi pelayan di sebuah restoran di Sun Plaza. Sambil bekerja di sana, ia akhirnya mewujudkan mimpinya untuk kuliah. Meski tak di universitas favoritnya, Lamasi ambil Teknik Elektro di Politeknik Santo Thomas Medan. Tapi tak selesai. Ia tak benar-benar sreg dengan jurusannya dan akhirnya memilih jurusan manajemen di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Graha Kirana.

Lamasi pikir, jurusannya kini lebih sesuai dengan passion yang ia punya. Ia memang ingin berkembang di dunia wirausaha. Selain punya penghasilan tetap Rp 2,5 juta sebagai sales mobil, Lamasi juga terjun dalam dunia jual mobil bekas yang menghasilkan Rp 19 juta hingga Rp 25 juta per bulan.

Dengan uang itulah, ia membuka Nusantara Satu yang fokus pada event organizer, percetakan, dan rental mobil.

Menurut Agi Pratama, teman satu SMA Lamasi, temannya satu itu memang tipikal pekerja keras. Dari dulu Lamasi dikenalnya sebagai sosok yang aktif di organisasi. Dia juga ramah dalam pergaulan. “Jadi enggak heran kalau jaringan dia luas sekali,” ungkap Agi. “Lagian, wajar saja kalau Lamasi cepat sukses. Dia memang ambisius dan tekun bekerja.”

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).