BOPM Wacana

Achmad Hambali Nasution, Memulai Petualangan dari Puntung Rokok

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Ridho Nopriansyah

Baginya, berani memulai sesuatu merupakan awal dari prestasi. Terutama berani bermimpi.

Foto: Andika Syahputra
Foto: Andika Syahputra

“Semua berawal dari puntung rokok,” ungkapnya.

Waktu itu, acapkali ia dibuat kesal oleh saudaranya yang buang puntung rokok sembarangan. Di rumah, dengan mudah ia temui puntung rokok berserakan. Ia yang pada dasarnya tidak suka rokok, bertambah-tambah murkanya. Apalagi jika ingat puntung rokok juga mudah ditemui di lingkungan, di halte, kampus, maupun tempat sampah.

Ialah Achmad Hambali Nasution, mahasiswa Agroekoteknologi Fakultas Pertanian 2009. Hambali bilang ragam kandungan kimia semisal nikotin sangat sulit diurai dalam tanah. Hal ini bisa merusak lingkungan. Sepengetahuannya, butuh waktu puluhan tahun agar tanah mampu ‘melumat’ puntung rokok. Kekhawatiran akan pencemaran tanah membulatkan niatnya untuk mencoba serangkaian penelitian.

Setelah melakukan studi kepustakaan secara singkat, ia memulai penelitian sederhananya untuk mengungkap sisi lain puntung rokok. Ia rendam puntung rokok selama tiga minggu untuk mengekstrak zat kimia yang terkandung di dalamnya. Lalu ia coba menyemprotkan larutan rendaman puntung rokok itu ke beberapa tanaman dan melihat apakah berpengaruh dalam memberantas ulat.

Ternyata berhasil, larutan puntung rokok dapat dijadikan pestisida yang lebih efektif dibanding dengan cara tradisional seperti larutan daun nimba yang lazim digunakan.

Kemudian, berkat saran seniornya, ia mengikuti ajang mahasiswa berprestasi (mawapres) FP. Syukur, ia berhasil didaulat sebagai Mawapres FP 2012. Bulan Aprilnya, ia mempresentasikan penelitiannya di hadapan juri panel mawapres tingkat universitas. Hambali hanya mendapat peringkat dua, setelah dikalahkan oleh Lenny, mawapres dari Fakultas Farmasi.

Masih membawa hasil penelitian tentang puntung rokoknya, ia berhasil dapatkan posisi lima pada Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Oktober 2012.

Di tahun yang sama, Hambali meraih medali perunggu sebagaipresentator terbaik dalam ajang persahabatan tiga negara, Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) di Malaysia. Dengan menjadi bagian dari tim USU, ia merasa kala itu adalah satu dari puncak prestasinya.

Tahun 2013 lalu, penelitiannya juga masuk dalam jajaran lima belas besar karya ilmiah terbaik dalam ajang Satu Indonesia Award, penghargaan untuk kontribusi positif generasi muda.

***

Dalam pergaulan sehari-hari, Hambali dikenal sebagai sosok yang fokus. Ini diakui oleh temannya sesama asisten laboratorium, Adrian, mahasiswa Agroekoteknologi 2009. Ia berujar Hambali tidak akan bisa dihentikan untuk meraih keinginannya. Orang yang tidak kenal, akan menganggap Hambali orang yang sombong. Selagi merasa benar, Hambali tidak akan peduli dengan omongan orang lain.

Adrian cerita, saat berjalan Hambali suka sekali mendendangkan lagu. Ketika diperingatkan teman-temannya untuk menurunkan volume suaranya, Hambali justru semakin menguatkan suaranya. “Hambali ituorang yang keras kepala,” tutur Adrian.

Hambali mengakui dirinya memang keras kepala. Tak hanya itu, ia juga mengaku individualis.

Tidak terlalu bergantung pada orang lain. Baik dalam akademis, pun di luar itu. Namun, ia bisa berkerja secara kelompok. Meskipun dalam kelompok ia tetap ingin menonjol. Tidak menampik, ia sering mendapat cibiran temannya yang bilang ia sombong. “Itu salah satu kelemahanku,” tandasnya.

Sikapnya itu juga yang membuatnya fokus. Termasuk mengikuti aneka lomba yang kebanyakan ia cari sendiri. Menurutnya, ia lebih leluasa bergerak dan mengambil keputusan.

Misalnya, beberapa waktu lalu, saat sedang browsing, Hambali secara tak sengaja membaca pengumuman program Democratic and Economic Youth Summit (DEYS) di Istanbul, Turki, 26-27 Oktober tahun lalu. Ia coba ikut dan menulis esai tentang USU yang bisa menjadi universitas kelas dunia, terutama di kawasan Asia Tenggara.

Ia beranggapan Mahasiswa USU tidak kalah dalam bersaing. Jika dibukakan kesempatan, ia yakin Mahasiswa USU juga akan menunjukkan taringnya. Dan itu mungkin untuk diwujudkan. Begitulah inti esai tersebut. Menurutnya, jika USU sudah dikenal dunia, bisa jadi akan semakin banyak beasiswa yang bisa dinikmati mahasiswa USU.

Keikutsertaannya dalam DEYS diumumkan 4 Oktober tahun lalu. Ia satu dari tiga puluh mahasiswa yang berasal dari seluruh dunia yang akan mempresentasikan tulisannya. Masalah klasik pun muncul: dana. Hambali terancam tidak jadi berangkat karena kurangnya dana.

Benar saja, proposal yang ia ajukan ke pihak universitas dan sejumlah instansi lain tidak dapat menerbangkan ia ke Turki. Waktu sekitar dua puluh hari sejak pengumuman keikutsertaanya tak cukup untuk mengumpulkan biaya. Hambali kecewa, padahal ia yakin sudah bekerja keras.

Tapi hal tersebut tak membuatnya takut bermimpi.

Hambali kerap menuliskan mimpinya di kertas. Kemudian ditempel di pintu kamar. Setiap hari ia perhatikan. Seiring waktu, ada dua ratus mimpi di kertasnya. Tanpa sadar, setengahnya tercoret. Artinya sudah terwujud. Baginya kertas berisi mimpi-mimpinya itu adalah motivator tak bergerak.

Hambali mengatakan tak perlu takut bermimipi. Berani adalah kunci dari keberhasilan. Kemampuan berbahasa, komunikasi, sains hanya akan didapatkan apabila berani untuk memulai.

“Mimpi besarku mendapat beasiswa S2 di Jerman dan S3 di Inggris,” ungkap Hambali yang juga tengah menyusun skripsi.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).