BOPM Wacana

Insiden Freedom Flotilla: Sebuah Serangan Terhadap Kemanusiaan

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh : Eka Prasetya

Keheningan malam menjelang subuh di tengah laut Mediterania. Sebuah kapal yang mengangkut para aktivis dari berbagai negara itu tiba-tiba menghilang dengan seketika, tatkala bunyi suara helikopter dan kapal perang komando Israel menggema di perairan internasional itu.

Seketika, komando Israel mendaratkan puluhan personel yang memakai penutup wajah dan kepala berwarna hitam dari helikopter ke kapal Mavi Marmara, setelah sebelumnya memberikan isyarat peringatan kepada nahkoda kapal untuk mengalihkan destinasi kapal itu.

Komando militer Israel pun dalam sekejap telah menguasai kapal itu setelah mendapatkan sedikit “perlawanan” dari para penumpangnya. Israel pun memaksa untuk membawa seluruh penumpang kapal beserta muatan yang hanya berisi obat-obatan dan logistik bantuan. Mereka dibawa ke arah Ashdod, kota pelabuhan Israel. Insiden pembajakan yang terang-terangan telah melanggar ketentuan karena dilakukan di atas perairan internasional itu kemudian menimbulkan gejolak protes dan kutukan dari masyarakat internasional.

Sedangkan warga Gaza telah menanti bantuan bahan makanan, obat-obatan, dan bantuan kemanusiaan lainnya di lepas pantai kota itu, yang jaraknya hanya beberapa kilometer dari tempat insiden. Mereka merasa semakin geram dengan kelakuan Israel.
Semula, Perdana Menteri Palestina, Ismail Haniyah menekankan bahwa kehancuran blokade Gaza semakin dekat dengan adanya upaya dunia internasional untuk memberikan bantuan kemanusian di wilayah ini. Namun, harapan itu seakan pupus di tengah jalan setelah bahtera yang membawa misi kemanusian dihalangi oleh negeri penjajah.

Mavi Marmara sendiri adalah nama salah satu dari sembilan kapal yang membawa konvoi para aktivis kemanusian dari Turki, Irlandia, Inggris, Yunani, dan negara-negara lainnya di bawah payung misi kemanusiaan Freedom Flotilla.

Sebelumnya, Pemerintah Israel telah bersumpah untuk memblokir sejumlah kapal yang mengangkut bantuan kemanusiaan bagi rakyat Gaza. Mereka akan menangkap para aktivis dan menyita seluruh bahan bantuan yang akan dikirimkan ke Gaza. “Kapal-kapal yang membuat jalan sendiri ke Gaza tidak akan melakukan apa-apa untuk membantu orang orang di Gaza,” seperti diungkapkan Yigal Palm, juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel.

Israel menginginkan agar seluruh bantuan kemanusiaan yang mengalir dari berbagai negara diberikan kepadanya untuk kemudian disalurkan kepada warga Gaza. Hal tersebut jelas merupakan bentuk penipuan belaka, karena sesungguhnya Israel tak akan sudi untuk membiarkan rakyat Gaza untuk memperoleh bahan-bahan kebutuhan hidup yang cukup. Israel hanya mengulur waktu hingga rakyat Palestina mati karena kelaparan dan penyakit.

Penduduk Gaza yang hampir tiga tahun mengalami blokade darat, laut, dan udara oleh Zionis Israel harus bersusah payah untuk  mencukupi kebutuhan hidupnya. Israel merampas bahan makanan, bahan bakar, pakaian, sampai obat-obatan, dan keperluan lainnya bagi 1,5 juta penduduk Palestina sejak tahun 2007. Israel bahkan menjaga ketat perbatasan Palestina – Mesir — dan melakukan pemeriksaan terhadap barang-barang bawaan warga yang melintas, memastikan tak ada satu pun logistik bantuan bagi rakyat Gaza.

Untuk mendapatkan logistik terkadang warga Palestina sengaja membuat terowongan-terowongan kecil di sepanjang garis perabatasan Palestina – Mesir di Rafah. Dari terowongan-terowongan inilah kemudian warga Palestina dapat menyeberang ke Mesir untuk memperoleh logistik.

Saudara mereka di Mesir yang bersimpati terhadap perjuangan bangsa Palestina juga terkadang menghibahkan makanan atau apapun yang mereka miliki secara cuma-cuma. Hal ini seperti secercah harapan di tengah krisis kemanusiaan yang terjadi di negeri sejuta syuhada, meski tak jarang militer Israel juga menghancurkan terowongan-terowongan ini apabila mereka mengetahuinya. Tentu saja Israel akan menghancurkannya dengan sebuah dalih yang akan menjutifikasi aksinya tersebut, “terowongan akan menjadi sarana menyelundupkan senjata bagi teroris Palestina.”

Menilai insiden Freedom Flotilla yang memiliki misi menyalurkan bantuan, serta kenyataan bahwa Israel telah memblokade rakyat Palestina bertahun-tahun lamanya, menunjukkan bahwa Israel patut disebut sebagai musuh bagi kemanusiaan. Ini bukan sentimen agama, bukan pula sentimen atas ras tertentu, akan tetapi setiap manusia yang sadar dengan jujur akan menyadari bahwa ini adalah kejahatan bagi manusia.

Amerika Serikat, Eropa, dan PBB yang sering  berkoar-koar tentang Hak Asasi Manusia (HAM) harus mengambil langkah untuk segera menghentikan blokade Israel, sebagaimana mereka selalu mencampuri urusan suatu negara hanya karena menilai rezimnya tidak menjunjung HAM. Malah akan terdengar sangat lucu apabila dunia hanya diam, sedangkan Israel terus melenggang dengan predikat yang dimilikinya, yakni “pelanggar HAM nomor wahid.”

*Penulis adalah mahasiswa Ilmu Politik angkatan 2007 dan Koordinator Riset dan Kepustakaan Pers Mahasiswa SUARA USU

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).