BOPM Wacana

Hipmi Sediakan Psikolog untuk Pengungsi Anak Korban Sinabung

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh Renti Rosmalis

BOPM WACANA — Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi)sediakan empat psikolog untuk pengungsi anak korban letusan Gunung Sinabung dalam aksi Hipmi Peduli. Ketua Hipmi Perguruan Tinggi Sumatera Utara, Syahrul Akbar Jumat (31/1) mengatakan empat psikolog dari Biro Psikologi Ekspresi ini diharapkan dapat menghibur dan membantu mengurangi ketidaknyamanan anak-anak di pengungsian.

Penyediaan psikolog ini dimulai 29 Januari lalu dan berlanjut satu bulan ke depan. Anggota Hipmi dan psikolog akan datang ke pengungsiansekali seminggu agar konseling berlanjut. “Kita lihat warga butuh konseling yang berkelanjutan, bukan sekadar sekali saja,” ungkapnya.

Syahrul mengatakan saat ini Hipmi fokus perhatikan anak-anak di pengungsian. Sebab khawatir dengan kenyamanan mereka. “Suasana baru. Biasanya satu tempat hanya tinggal sama keluarga. Sekarang justru harus tinggal bersama ratusan orang dalam satu tempat,”tambahnya.

Siti Hawa Lubis, psikolog untuk anak pengungsian Sinabung menjelaskan psikolog ini dibutuhkan untuk hindari stres ringan padaanak-anak . Sebab mereka akan banyak melihat dan berhubungan dengan bermacam orang dewasa yang dapat mengubah sikapnya. “Bisa jadi tambah diam atau ganas,” katanya, Minggu (2/2).

Psikolog akan bermain bersama anak-anak di pengungsian dan akan dipilih anak yang butuh diajak konseling. Setelahnya mereka diberi semangat dan diyakinkan musibah ini hanya sementara. “Kita bakal memotivasi anak-anak dan memberitahu hal positif dari pengungsian, misal mereka akan menemukan banyak teman baru di sini,” pungkas Hawa.

Selain psikolog, Hipmi telah sumbangkan dua ribu tas sekolah dan alat tulis. Selain itu juga akan sumbangkan mainan anak dan buku yang diangkut dengan satu pesawat Hercules guna menambah semangat anak bersekolah.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).