BOPM Wacana

Hindari Konflik dengan Sportif Berpolitik

Dark Mode | Moda Gelap

Pemilu niscaya sebuah kompetisi dan pertandingan yang tentunya menghasilkan winner dan loser team. Pemenang dan yang kalah harus memegang tinggi sportivitas dalam artian siap menerima kemenangan dan siap pula menerima kekalahan.

Ilustrasi: Aulia Adam
Ilustrasi: Aulia Adam

2014 - SaskiaBerbicara masalah politik, tentu ada intrik dan manuver – manuver yang licin dan penuh muslihat dari partai politik. Terkadang kecurangan pun kerap kita jumpai.  Apapun alasannya kecurangan tersebut bukanlah budaya politik Indonesia.

Budaya perpolitikan Indonesia sangat menjunjung tinggi kedewasaan dan sportivitas baik dalam proses maupun pelaksanaan atau perhelatan politik tersebut (pemilu). Implementasi terpenting dalam budaya politik Indonesia adalah sportif dalam menyikapi hasil pemilu baik pemilu legislatif maupunpemilu presiden yang akan digelar Juli mendatang.

Hal tersebutlah yang telah disampaikan presiden melalui akun twitter-nya agar peserta pemilu bersikap sportif. Peserta pemilu legislatif danpemilu presiden harus ‘siap menang, siap kalah’. Yang menang cukup mensyukuri, yang kalah tidak perlu ngamuk. *SBY*.’  Menurut SBY, ada beberapa pemilihan kepala daerah (pilkada) yang awalnya berjalan damai tiba-tiba berubah anarkis. Dia tidak ingin hal ini tidak terjadi pada pemilu 2014. “Kita harus mencegahnya,” ajak SBY.

Selain SBY, politisi lainnya seperti Abu Rizal Bakri juga menghimbau hal serupa dengan menyatakan DPP Golkar netral dan mendukung seluruh calon presiden yang maju. Ical mengimbau siapa pun yang menang dan kalah dapat bersikap sportif dan menerima apa pun hasilnya.

Begitu juga dalam pemilu nanti, Ical mengimbau seluruh kader Partai Golkar agar melakukan langkah-langkah politik secara elegan. “Semua partai pasti ingin menang saat pemilu, tapi Golkar harus menang dengan cara yang elegan dan sportif,” kata Ical.

Berbicara kedewasaan dan sportivitas berpolitik, Indonesia mengalami berbagai konflik yang terjadi akibat kurangnya kedewasaan dan sportivitas dalam menerima suatu kekalahan. Dilihat dari skala kecil, konflik pilkada di beberapa daerah di Indonesia marak terjadi.

Salah satu peristiwa tragis dari konflik pilkada di Indonesia terjadi akhir Juli 2011 di Kabupaten Puncak, Papua, yang dikenal dengan Peristiwa Ilaga. Ini adalah pilkada pertama di kabupaten baru hasil pemekaran Kabupaten Puncak Jaya yang diresmikan Mendagri Mardiyanto 21 Juni 2008 lalu itu.

Massa pendukung dari Distrik Ilaga dan Distrik Dome saling serang. Peristiwa itu terjadi 30 Juli 2011 ketika Simon Alom tengah mendaftar ke KPUD setempat sebagai bakal calon Bupati Kabupaten Puncak. Namun, berkasnya ditolak karena Gerindra, partai pendukungnya,ternyata telah mencabut dukungan. Pengurus Gerindra KabupatenPuncak yang dipimpin Ketua DPC Thomas Tabuni ternyata telah mendukung Elvis Tabuni.

Karena pencabutan dukungan itu, masa pendukung  Simon Alom dari Distrik Ilaga marah dan menyerang masa pendukung Thomas dan Elvis Tabuni di Distrik Dome. Keesokan harinya pun terjadi serangan balasan.

Selain di Papua, konflik pilkada juga terjadi di Sumba Barat Daya (SBD). Mahkamah Konstitusi menolak gugatan pasangan Konco Ale Ate yang kalah dalam Pilkada SBD. Akibatnya terjadi bentrokan antarapendukung pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati SBD, Provinsi Nusa Tenggara Timur .

Kejadian itu membuat tiga orang meninggal dunia dan sembilan belasrumah penduduk terbakar serta ratusan warga Desa Bakumbero, Kecamatan Kodi Barat mengungsi ke Waetabula, Ibu Kota Kabupaten Sumba Barat Daya.

Masih banyak lagi konflik yang pilkada yang disebabkan rendahnya kedewasaan berpolitik dan sportif menerima hasil apa pun. Sama sepertipilkada, pemilu tanpa sportivitas yang tinggi juga rawan konflik.

Dalam teori politik partisipan, sportivitas sangat dijunjung tinggi khususnya dalam penerapan politik partisipan itu sendiri.  Penerapan budaya politik partisipatif, menurut S. Yudohusodo dapat terwujud salah satunya dengan mengembangkan budaya pengambilan keputusan secara terbuka dan demokratis, serta mengembangkan sportivitas dalam berpolitik.

Untuk itu sikap sportivitas ini perlu dijunjung tinggi oleh seluruh masyarakat Indonesia dan seluruh peserta pemilu. Sehinggakekhawatiran-kehawatiran akan terjadinya konflik dapat dicegah. Selain menanamkan dan menjunjung tinggi sportivitas, pemahaman akan tujuanpemilu juga penting. Mengingat pemilu hanya sebuah proses menghasilkan pemimpin yang berkualitas demi Indonesia yang lebih baik ke depannya.

Harapannya massa pendukung calon dan partai politik tertentu tidak mudah terprovokasi oleh oknum yang ingin mengambil keuntungan daripemilu tersebut, agar konflik dapat dihindari.

Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia dan aktif sebagai peneliti di Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia.

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).