BOPM Wacana

Hindari Gashlighting!

Dark Mode | Moda Gelap
Illustrasi: Chalista Putri Nadila

 

Awas, kalian berkemungkinan menjadi korban gaslighting!

Pernah tidak kamu sering merasa bersalah dan kerap meminta maaf untuk hal-hal kecil yang sebenarnya bukan menjadi tanggung jawabmu? Lebihnya lagi, malah muncul perasaan rela melakukan apa pun yang bertujuan untuk menebus perasaan bersalah tersebut. Kalau pernah atau jangan-jangan malah sedang berada di fase tersebut, wah, kalian perlu hati-hati ya!

Sudah pernah dengar istilah gaslighting? Gaslighting merupakan sebuah istilah kesehatan, menurut halodoc gaslighting adalah perilaku dimana pelaku memanipulasi pikiran korban yang membuat korban tidak yakin dengan dirinya sendiri. 



Gaslighting merupakan sebuah bentuk kekerasan emosional yang bisa merusak psikologis korban. Dimana di sini korban akan diarahkan oleh pelaku untuk merasa bersalah secara terus-terusan sehingga timbul rasa ingin bertanggung jawab oleh korban terhadap hal tertentu yang dipermasalahkan oleh pelaku. Tingkatan paling buruknya, perilaku gaslighting bisa membuat korban mempertanyakan eksistensi dirinya sendiri yang bisa berakibat kerusakan secara mental dan pikiran. Hal ini merupakan salah satu sebab yang nantinya bisa menimbulkan gangguan mental.

Di dunia psikologis, gaslighting sering disebut sebagai kepribadian narsistik atau narcisstic personality disorder. Orang-orang dengan kepribadian narsistik ini memiliki tingkat rasa cinta diri yang amat tinggi. Mereka merasa selalu benar dan lebih baik dari orang-orang lain di sekitarnya. Perilaku gaslighting menjadi tameng mereka untuk membuat orang lain tunduk dan meyakini dirinya yang paling benar.

Dalam praktiknya, perilaku gaslighting biasa terjadi dalam hubungan intrapersonal yang sudah tidak sehat. Bisa dalam hubungan kekasih, pertemanan, bisnis, keluarga dan lain-lain. Semuanya berkemungkinan terjadi perilaku gaslighting.

Seperti contoh, dalam hubungan asmara jika salah satu pihak merasa paling mendominasi maka perlu berhati-hati untuk meneruskan hubungan tersebut, karena sifat dominasi merupakan salah satu tanda-tanda gaslighting. Menurut Psychology Today, ada beberapa tanda-tanda gaslighting dalam berhubungan yang bisa kamu catat.

Pertama, pelaku gaslighting tidak segan-segan berbohong. Dalam praktiknya pelaku merasa nyaman berbohong secara kasual. Kedua, mereka sering memutarbalikkan fakta. Meskipun kamu membawa bukti, pelaku tetap memaksakan argumennya yang berkebalikan denganmu, hal ini bisa terjadi terus-terusan dan membuatmu selalu menerima apa pun yang dibicarakan pelaku. 



Selain itu, pelaku gaslighting selalu berusaha untuk membuatmu tidak percaya diri. Mereka menentang dan menyanggah apa yang korban katakan seakan-akan adalah kesalahan, hingga di fase korban sudah tidak percaya diri dengan apa yang dia pikirkan. Mereka memanfaatkan orang-orang terdekatmu. Mereka mengetahui sepenting apa orang-orang terdekatmu dan menggunakan mereka untuk membuatmu mengikuti arahannya. 

Menurut YouGovAmerica 33% perempuan pernah disebut “gila” oleh pasangannya. Hal tersebut terjadi agar korban mempertanyakan dan meragukan logika dan diri mereka sendiri. Tidak hanya perempuan, sebanyak 24% laki-laki juga pernah disebut “gila” oleh pasangan mereka ketika marah, beradu argumen dan alasan-alasan lainnya. Dalam sumber yang sama, juga disebutkan sebanyak 46% perempuan dan 32% laki-laki di US pernah mendapat kekerasan secara pikiran, termasuk di dalamnya menjadi korban gaslighting.

Lalu, bagaimana cara menghindari perilaku gashlighting?

Lebih kenali cara berpikir diri. Andalkan intuisi diri, sehingga nantinya pelaku gaslighting kesusahan untuk memanipulasi isi pikiran kita, karena mereka memanfaatkan ketidakpercayaan diri korban untuk mengambil alih isi pikiran kita. Selain itu, tanamkan kepercayaan bahwa tidak memenangkan argumen dengan pelaku gaslighting bukanlah kesalahan. Meski pun intuisi kita tidak selamanya benar dan yang dikatakan pelaku adalah kebenaran, cukup sampai disitu, jangan biarkan pelaku memanfaatkan kesalahan kita untuk keuntungan mereka dan membuat korban menjadi bergantung dengan pelaku. 

Yuk, bersama-sama membentuk lingkungan berhubungan yang sehat!

Komentar Facebook Anda

Chalista Putri Nadila

Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP USU Stambuk 2018. Saat ini Chalista menjabat sebagai Pemimpin Redaksi BOPM Wacana.