BOPM Wacana

Gedung Semu di Tanah Kwala Bekala

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh: Tantry Ika Adriati

Tahun 2020 jumlah mahasiswa diprediksi meningkat dua kali lipat. Tak ada pilihan lain, kampus kedua USU solusi paling memungkinkan.

Gapura | Pintu masuk utama ke dua USU di Kwala Bekala, Kamis (15/5). Kurangnya dana untuk perawatan hingga terlihat tampak tak terurus.| Yulien Lovenny Ester G
Gapura | Pintu masuk utama ke dua USU di Kwala Bekala, Kamis (15/5). Kurangnya dana untuk perawatan hingga terlihat tampak tak terurus.| Yulien Lovenny Ester G

Di Kwala Bekala, Deli Serdang awal 1997 silam terdapat tanah kosong seluas enam  ratus hektare. Masih ditumbuhi pohon-pohon dan rumput liar. Ada  juga perkebunan sawit milik PT Perkebunan Negara (PTPN) II. Tak ada perumahan penduduk maupun bangunan yang berdiri di sekitar lahan.

Melihat hal itu, Prof  Chairuddin Panusunan Lubis (CPL), rektor kala itu memutuskan untuk meminta kepemilikan  atas tanah kosong  untuk lokasi kampus kedua USU. Permintaan lahan bukan tanpa alasan. Di akhir 1996, Prof CPL membayangkan akan sebanyak apa mahasiswa USU dua puluh tahun mendatang. Ia memprediksi jumlahnya akan mencapai angka 64 ribu. Jumlah ini bertambah dua kali lipat dari jumlah Mahasiswa USU saat itu.

Dengan luas kampus USU yang tidak mencapai seratus hektare rasanya tidak mungkin menampung segitu banyak mahasiswa di kampus ini. Akhirnya Prof CPL berpikiran untuk membangun kampus kedua USU.

Bukan tanpa alasan mencetuskan ingin membuat kampus kedua saat itu. Dengan kebutuhan USU yang mendesak terkait penggunaan lahan pada 2020 nanti, tidak mungkin proyek ini baru akan dilaksanakan di tahun 2020. “Mau di mana dapat tanah nanti?” ucapnya.

Setelah disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumatera Utara (Sumut), Prof CPL mendapatkan Surat Keputusan (SK) atas kepemilikan tanah Kwala Bekala dari Gubernur Raja Inal Siregar.

Proses pemindahan kepemilikan berakhir di tangan Menteri Keuangan pada 27  Februari 1997. Beruntung bagi Prof CPL, Menteri Keuangan segera mengeluarkan surat persetujuan pukul 5 sore di hari itu juga.

Untuk mengeluarkan sertifikatnya, Prof CPL menghubungi Ketua Badan Pertanahan Nasional, Prof Murphy.

“Harganya nol rupiah, kita dapat tanahnya secara gratis,” ujarnya sambil tertawa.

USU akhirnya memiliki hak kepemilikan atas tanah Kwala Bekala, namun sertifikat resmi yang dikeluarkan oleh gubernur baru didapat pada 2003.

Tak banyak kendala yang dirasakan Prof CPL untuk mendapatkan lahan Kwala Bekala. Pun dengan proses birokrasinya. Ia mengatakan yang diperlukan hanyalah kerja keras.

Prof CPL lalu membentuk tim kerja yang dipimpin oleh Any Hotma Pangabean. Pembentukan tim ini bertujuan untuk menyukseskan dan mempercepat pembangunan Kampus II USU Kwala Bekala. Tim yang resmi dibentuk pada tahun 2005 itu berjumlah kurang lebih lima belas orang.

Wilayah kerja tim dibagi berdasarkan keahlian masing-masing. Tim ini adalah tim teknis yang terbagi atas arsitektur, sipil, lingkungan, informasi teknologi, dan mekanik listrik.

Kepala Tim Pengembangan Kwala Bekala Achmad Delianur Nasution, membenarkan hal tersebut. Sistematika kerja tim ini standar. Delianur menjelaskan bahwa ada beberapa langkah yang dilakukan dalam pengerjaan proyek ini.

Pertama, studi literatur dengan mempelajari segala aspek budaya, kebiasaan, dan fenomena yang berkaitan dengan masyarakat atau pun alam. Kemudian, penelitian lapangan berupa pengamatan langsung ke lokasi target pembangunan untuk mengetahui apakah tempat tersebut bisa memenuhi kebutuhan. Lalu, menganalisis berdasarkan bukti dan fakta yang terdapat di lapangan.

Selanjutnya diaplikasikan dalam bentuk gambar berupa spesifik yang ada di lapangan setelah dilakukan analisis. Setelahnya, menyusun konsep dan mendiskusikannya dengan pemilik yaitu USU sendiri. Terakhir persetujuan pemilik, setelah disetujui maka tim bisa mulai bekerja dan memberikan laporan kerja dengan dokumen kepada pemilik setelah tugas terselesaikan.

SK pertama turun di tahun 2005. Sejak saat itu pula Delianur dan timnya diperintahkan untuk membuat master plan. Master plan Ialah perencanaan makro sebuah proyek pembangunan. Akan menjadi apa nantinya dan akan dibagaimanakan selanjutnya pembangunan tersebut. Semuanya berpedoman kepada master plan tersebut.

Tak hanya itu, master plan digunakan agar arah pembangunan dan kerjanya jelas. Master plan ini dibuat berdasarkan studi kelayakan. Tentang tipologi tanah, kondisi iklim, cuaca, air, dan masyarakat. Setelah melakukan analisis barulah dibuat masterplan.

Master plan Kwala Bekala dirancang untuk 25 tahun ke depan, jadi target pencapaian kerjanya sekitar tahun 2020-an. Tercapai tidaknya nanti tergantung kelancaran anggaran pembangunannya sendiri juga,” terang Delianur.

Setelah master plan selesai langsung diserahkan kepada rektor dan disahkan oleh senat pada tahun 2006.

Master plan yang telah siap bisa dilihat dalam bentuk peta tematik yang terpajang di ruang Azwar Helmy, Sekretaris Program kerja (Progja) Pengembangan Kampus USU Kwala Bekala. Ia jelaskan di sana akan dibangun waduk-waduk yang alirannya dari air sungai sejenis water form. Lalu akan ada juga pembangunan jembatan penghubung antara zona-zona yang ada di sana.

Prof  CPL menerima kucuran dana dari Pemerintah Provinsi Sumut tahun 2009. Dimulailah hiruk-pikuk pembangunan di Kwala Bekala. Pagar pembatas adalah bangunan yang pertama kali berdiri.

Setelah selesai, Prof CPL menemui Bupati Deli Serdang. Ia berusaha menghubungkan satu daerah dengan lainnya. Tujuannya untuk memudahkan mahasiswa dan masyarakat mengakses jalan dengan mudah dan cepat. Ia buatlah jalan lingkar.

Lalu, jalan masuk kedua seluas 60 ribu meter persegi didapatkan USU dari pemilik jalan di dekat Kebun Binatang Medan. Hingga kini bentuknya masih tanah merah yang ditimbun batu.

Kemudian, lahan seluas lima puluh hektare dijadikan lahan arboretum USU oleh Menteri Kehutanan. Arboretum merupakan kebun botani yang mengoleksi berbagai jenis pepohonan didalamnya. Nantinya, arboretum akan digunakan untuk penelitian dan praktik oleh mahasiswa.

Prof CPL mengaku tak banyak uang yang dikeluarkan untuk pemeliharaan lahan tersebut. Untuk biaya jaga malam Kepala Desa setempat dengan beberapa  pemuda hanya menghabiskan Rp 2 juta per bulan. Itu juga termasuk biaya lelah tukang pasang arboretum.

Tepat tanggal 31 Maret 2010, Prof CPL menyelesaikan jabatannya sebagai orang nomor satu di USU. Pembangunan Kampus II USU Kwala Bekala pun beralih ke masa Rektor Prof Syahril Pasaribu.

***

Lahan arboretum di Kampus II USU Kwala Bekala  sudah mulai digunakan mahasiswa Fakultas Pertanian (FP) tahun 2012 lalu. Praktik dan penelitian mahasiswa dikerjakan di Kampus II USU Kwala Bekala.

Saddam, Gubernur Fakultas Pertanian (FP) tahun 2011 turut merasakan penggunaan lahan arboretum tersebut. Menurutnya mahasiswa FP memang butuh lahan yang lebih untuk praktikum. Selain kebutuhan praktikum, jumlah mahasiswa yang bertambah juga menjadi salah satu pendorongnya. “Kwala Bekala memang cocok untuk lahan FP,” ujarnya.

Namun ia menyayangkan belum adanya pembangunan gedung untuk FP di sana. Berat bagi mahasiswa harus pulang balik ke Kwala Bekala untuk praktikum. Sementara kampusnya masih berdiri di Padang Bulan. Ditambah lagi jalan akses ke Kwala  Bekala yang terbilang sulit. “Jalanannya rusak, jadi susah untuk ke sana,” ujar Saddam

Sementara Gubernur FP kini Anry Tulus Sianturi masih belum merasakan penggunaan lahan arboretum tersebut. “Beberapa mahasiswa memang ada yang praktikum di sana,” ujarnya. Namun karena jalan akses yang sulit ia lebih memilih praktik di lahan kampus USU Padang Bulan.

Menurutnya pihak rektorat belum serius betul untuk melakukan pembangunan di Kwala Bekala. Apalagi jalan akses ke Kwala Bekala belum diperbaiki. Waktu mahasiswa FP dipindahkan ke Kampus II USU Kwala Bekala masih simpang siur. “Kita belum dikasih tahu kapan akan pindahnya,” ujarnya.

Mengetahui sampai sekarang masih belum ada pembangunan di Kwala Bekala, Tulus pun lebih setuju jika pihak rektorat merenovasi gedung di FP. “Kan lebih jelas untungnya bagi mahasiswa.” Padahal wacana pemindahan mahasiswa FP ke Kwala Bekala sudah sejak 2011 ia dengar.

Delianur akui memang jalan ke Kwala Bekala yang masih rusak menjadi kendala. Itu jugalah salah satu hambatan pembangunan di Kwala Bekala. Pun tak  ada arus listrik. Lagi-lagi dana jadi kendalanya.

Sejak tahun 2011 Prof Syahril sudah mencoba meminta anggaran untuk pembangunan gedung di Kampus II USU Kwala Bekala melalui dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Tetapi jawaban dari pemerintah tidak ada anggaran untuk pembangunan gedung baru di Kwala Bekala.

Sambil menunggu kucuran dana, Prof Syahril menurunkan SK kepada Delianur beserta timnya di tahun 2012. Tak ada perubahan pada tim, karena sistem kerjanya sendiri bersifat berkelanjutan. Tim ini disebut sebagai tim pengembangan Kwala Bekala.

Satu per satu bangunan didirikan walaupun belum maksimal. Mulai dari pendopo, asrama mahasiswa, pos-pos jaga, gudang, beberapa kantor administrasi, pagar pembatas, bengkel dan gapura.

Resmi | Tugu peresmian Kwala Bekala, Kamis (15/5). | Yulien Lovenny Ester G
Resmi | Tugu peresmian Kwala Bekala, Kamis (15/5). | Yulien Lovenny Ester G

“Sesuai perintah, kami bangun beberapa bangunan fisik. Pun itu dari sisa (danared) pembangunan rumah sakit USU,”  tambah Azwar.

Kini keadaan Kampus II USU Kwala Bekala terlihat memprihatinkan. Lima belas kilometer dari Kampus USU Padang Bulan, gapura sederhana menjadi pemandangan awal yang dilihat di daerah itu.

Memasuki gapura, ada bangunan satu lantai yang dijadikan tempat pertemuan, berhadapan dengan pendopo. Di seberang ruang pertemuan, terdapat delapan rumah penjaga kampus, asrama mahasiswa, dan bengkel.

Rumput liar, cat kusam, dan lobang terlihat di setiap bangunan. Seperti bengkel bus kampus, temboknya hanya ada di sebagian sisi dan kondisinya rusak. Asrama mahasiswanya kosong, toiletnya rusak dan tidak ada keran yang berfungsi. Gagang pintu pun tak bisa digunakan.

Pembantu Rektor V Yusuf Husni bercerita. Ia bilang memang tidak memberikan pemeliharaan yang lebih untuk bangunan sementara tersebut. Katanya, bangunan seperti asrama mahasiswa dan ruang pertemuan yang masih terdiri dari kerangkanya tidak perlu mendapat pemeliharaan lebih. “Kalau dicat, diperbaiki jendelanya, nanti rusak lagi oleh orang-orang tak bertanggung jawab,” kata Yusuf.

Pun bangunannya belum digunakan sepenuhnya oleh mahasiswa. “Pemeliharaannya lebih untuk lahan-lahan yang dipakai itu, seperti arboretum,” ujarnya.

Ia memang fokus untuk mempertahankan lahan Kampus II USU Kwala Bekala. “Bukannya tidak luas lahan 300 hektare itu,” ungkap Yusuf.

Seiring berjalannya tahun 2014, tenggat waktu pembangunan Kampus II USU Kwala Bekala semakin dekat. Saat disinggung tentang pembangunan Kwala Bekala seusai kepemimpinannya, Prof CPL berkometar singkat sambil tersenyum. “Saya tidak tahu. Tapi pemetaan  yang sudah ada seyogianya sudah terealisasi di tahun 2015,” tambahnya.

Menurut Prof CPL yang paling dibutuhkan untuk pembangunan Kampus II USU Kwala Bekala adalah bagaimana mencari koneksi dengan pihak lain untuk pengadaan dana. “Saya membangun ini dari nol, tidak ada dana. Kalau kita memang niat, semuanya pasti bisa.,” sambungnya.

Kerja tim ahli pembangunan Kampus II USU Kwala Bekala belum ada tahun ini. Pun SK-nya belum diturunkan rektor Prof Syahril. Namun Delianur katakan tim ahli sudah selesai membuat pemetaan Fakultas Kehutanan yang rencananya akan dibangun tahun 2015. “Tinggal pembangunannya saja lagi,” ujar Delianur.

Prof Syahril pun memaparkan kerja tim ahli sudah selesai, pemetaan dan  perencanaan sudah dibuat. “Jadi kita fokus untuk pembangunannya saja,” kata Prof Syahril.

Prof Syahril kini sedang mengusahakan bekerjasama dengan pihak ketiga untuk pembangunan gedung di Kwala Bekala.

Koordinator Liputan: Tantry Ika Adriati

Reporter: Sri Wahyuni Fatmawati P, Yayu Yohana, Ika Putri A Saragih, dan Tantry Ika Adriati

 

Laporan ini dimuat dalam Tabloid SUARA USU Edisi 98 yang terbit Juni 2014.

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).