BOPM Wacana

From Up On Poppy Hill, Warisan Rezim Miyazaki

Dark Mode | Moda Gelap

Oleh Lazuardi Pratama

Sumber: Istimewa
Sumber: Istimewa

Judul: From Up On Poppy Hill

Sutradara: Goro Miyazaki

Naskah: Hayao Miyazaki dan Keiko Niwa

Pengisi Suara: Masami Nagasawa, Junichi Okada, Keiko Takeshita, Yuriko Ishida

Durasi: 92 menit

Tahun Rilis: 2011

Shun mewarisi kebaikan ayahnya, Umi mewarisi kegigihan ibunya, walaupun rasa saling suka keduanya hampir karam karena berayah sama, harapan tak kunjung pupus. Tidak beda halnya dengan Goro Miyazaki yang mewarisi kehebatan ayahnya, sempat dihujat akibat debutnya buruknya, harapannya sekaligus harapan masa depan Studio Ghibli masih ada lewat karya keduanya: From Up On Poppy Hill

Goro Miyazaki pasti belajar dari debut buruknya, Tales from Earthsea (2006) dengan karya terbarunya kali ini. Tales from Earthsea menerima kritik pedas lantaran Studio Ghibli tidak pernah sebelumnya membuat karya seburuk itu. Kritik pedas tersebut juga terlontar karena Goro Miyazaki tidak mampu menyamai prestasi dan karya ayahnya, Hayao Miyazaki, salah satu pembuat film animasi terbaik sepanjang masa.“Kalau aku tidak menyandang nama Miyazaki, mungkin kritiknya bakal sedikit lebih halus,” kata Goro seperti dilansir The Daily Best 15 Maret lalu.

Goro dengan Tales from Earthsea-nya sempat membuat para penggemar kecewa dan pesimis. Studio Ghibli sudah berumur 28 tahun dengan sutradara yang juga sudah tua, sebut saja sang maestro Hayao Miyazaki dan Isao Takahata. Penggemar khawatir karena rumah produksi film animasi jepang itu terancam tidak mempunyai penerus sutradara yang mumpuni seperti Hayao serta Isao. Lima tahun menunggu dalam cemas, Studio Ghibli menemukan masa depannya.

From Up On Poppy Hill, berlatar kota Yokohama pada tahun 1963 dan Tokyo yang saat itu sedang mempersiapkan perayaan Olimpiade 1964. Pada waktu itu Jepang baru pulih dari serangan nuklir pada Perang Dunia II dan Perang Korea. Film ini mengisahkan seorang remaja putri bernama Umi (Masami Nagasawa) yang menjalankan sebuah rumah tempat indekos.

Setiap hari Umi bangun pagi, memasak sarapan dan menggerek bendera maritim yang merupakan sinyal “I pray for safe voyages”, lalu pergi sekolah. Suatu hari, di tengah rutinitasnya, ia dikirimi puisi oleh seseorang melalui koran sekolah mengenai bendera yang ia kibarkan setiap hari. Belakangan Umi tahu puisi tersebut adalah kiriman Shun Kazama (Junichi Okada), seorang wartawan sekolah.Pelan-pelan, Shun—yang lebih dulu mengagumi Umi—dan Umi memendam rasa suka.

Umi kemudian terlibat dalam pergulatan para siswa setingkat SMA untuk mempertahankan Latin Quarter, sebuah rumah bertingkat tempat semua organisasi sekolah berada.Latin Quarter terancam diratakan dengan tanah. Shun dibantu Umi menerbitkan selebaran kampanye tolak pembongkaran Latin Quarter.

Selagi dalam masa kampanye, Shun, saat berkunjung ke rumah Umi melihat betapa familiarnya foto dari ayah Umi yang meninggal saat Perang Korea. Betapa terkejutnya Shun begitu ia tahu ia juga mempunyai foto yang sama, Ragu-ragu Shun mengecek data kependudukan kota dan menemukan bahwa ayahnya yang sebenarnya adalah sama dengan ayah Umi. Padahal mereka berdua sudah saling memendam rasa suka.

Drama sabun penuh romansa remaja muda ini tidak sepicisan drama sabun lainnya. Rasa suka antara Shun dan Umi tidak serta-merta terburu-buru untuk diungkapkan. Goro tidak memaksakan agar Umi menyampaikan kode kalau ia suka pada Shun, begitu juga dengan Shun. Umi tipikal gadis jepang yang pemalu, berhati lembut dan rajin, sedangkan Shun adalah remaja yang berapi-api, dewasa dan penuh pesona. Sehingga, sebuah ungkapan rasa suka yang kemudian mereka utarakan—walau sudah tahu mereka abang beradik—sangat manis, romantis dan menghangatkan hati.

Namun, ketidakpaksaan itu juga merupakan pisau bermata dua, keunggulan maupun kelemahan. Akibatnya, beberapa potongan film yang diisi adegan malu-malu Umi dan Shun menjadi kosong dan mengundang penonton untuk menguap. Padahal bisa diisi oleh beberapa lelucon, tambahan dialog penuh romansa dan intrik para siswa penghuni Latin Quarter.

Drama sabun seperti From Up On Poppy Hill juga bukan sembarangan jika itu keluaran Studio Ghibli. Karakter-karakter para siswa, kehidupan pelabuhan di Jepang dan semrawutnya Kota Tokyo sangat penuh warna. Seperti seorang siswa yang gemar berfilsafat, dia begitu idealis, tapi melempem begitu di dekatnya ada gadis. Lalu ada sang ketua OSIS yang kharismatik dan berjiwa pahlawan. Tanpa Latin Quarter, film ini hanyalah sayur tanpa garam.

Satu hal yang patut menjadi sorotan dari karya Goro ini adalah perbedaanya yang mencolok dari semua film keluaran Ghibli biasanya. Tidak akan ditemukan arwah-arwah orang mati seperti dalam Spirited Away (2001), penyihir seperti dalam Howl’s Moving Castle (2004), dan makhluk-makhluk fantastis lainnya di sini. From Up On Poppy Hill murni film fiksi yang berlatar dunia nyata. Goro menyajikan drama sabun dalam sejarah menarik bangunnya Jepang dari keterpurukan perang.

Tidak bisa dipungkiri, From Up On Poppy Hill adalah catatan gemilang Goro sebagai seorang penerus dan pewaris rumah produksi animasi satu-satunya yang masih menggunakan teknik tradisional seperti menggambar manual dalam produksinya. Tiga penghargaan bergengsi diraih film ini, diantaranya Oscar-nya Jepang. Japan Academy Prize tahun 2012 sebagai Animation of the Year dan Golden Trailer Awards tahun 2013 sebagai Best Foreign Film/Family Trailer menyisihkan Walt Disney. Bagaimanapun juga, Goro memikul di pundaknya keberlangsungan animasi-animasi berkualitas sarat nilai dan pesan moral dari Studio Ghibli untuk dunia.

Komentar Facebook Anda
Redaksi

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).