
Oleh: Susy Simanungkalit
| Judul | Michael |
| Sutradara | Antoine Fuqua |
| Tanggal Rilis | 24 April 2026 |
| Durasi | 127 Menit |
| Genre | Biopik, Epik |
| Tersedia di | Prime Video, Apple TV, Cinepolis, IMAX |
“Aku harus memancarkan cahayaku, menyebarkan cinta dan kebahagiaan, serta menyembuhkan. Itulah takdirku. Aku sungguh-sungguh meyakini hal itu.”
Kejayaan musik aliran pop tidak terlepas dari kehadiran seorang musisi legendaris asal Gary yaitu Michael Jackson. Melalui kreativitas yang memadukan musik, tari, dan video, Michael berhasil menciptakan karya-karya yang mencetak penjualan album terbanyak sepanjang masa.
Hal itu yang menjadi alasan musisi berkulit hitam ini dikenal hingga akhirnya menerima julukan Raja Pop ini. Setelah wafat sejak Tahun 2009 silam, generasi sekarang ini mungkin tidak akan tahu bagaimana sosok Michael itu sebenarnya. Setidaknya, lewat film ini kita diberi kesempatan bisa mengenal lebih jauh Michael Jackson.
Pada awal film, mengisahkan lima laki-laki bersaudara dari sebuah keluarga Jackson di Indiana, terdiri dari Jackie, Tito, Jermaine, Marlon, dan terakhir Michael sendiri. Mereka merupakan anak-anak yang berbakat dengan didikan seorang ayah yang sangat keras.
Joseph, ayah mereka adalah pria yang sangat berambisi dengan harapan bisa mengangkat derajat keluarga Jackson. Didikan yang cukup strict itu mungkin menjadi alasan mengapa Michael bisa konsisten menghasilkan karya-karya yang spektakuler.
Penampilan Televisi yang Menjadi Batu Loncatan

Setelah dibekali pembelajaran yang ketat, kelima bersaudara ini kemudian mengikuti audisi atas arahan ayahnya. Melalui penampilan televisi pertama, The Jackson 5 yang berlangsung di New York Tahun 1969 menjadi batu loncatan yang membawa mereka ke panggung. Grup musik bersaudara ini telah memiliki banyak karya lagu lewat suara indah mereka. Ketenaran akhirnya mengubah taraf hidup serta meningkatkan status sosial mereka.
Seiring berjalannya waktu, Michael menyadari, ia telah kehilangan waktu dan kebebasan atas dirinya sendiri karena ayahnya. Michael ingin merekam musik untuk dirinya sendiri dengan gaya sesuai kreativitasnya. Ayahnya menyetujui keinginan tersebut dengan syarat ia tetap aktif sebagai vokalis utama grup keluarganya. Produser musik pun melirik kemampuan Michael dalam berkarir solo lewat lagu dan tarian khas yang ia ciptakan.
Michael Kecil Telah Menciptakan Sejarah
Michael yang masih tergolong muda saat itu telah menghasilkan berbagai karya yaitu Got to Be There sebagai lagu debutnya, lagu Thriller yang albumnya terjual 25 juta kopi, hingga lagunya yang paling populer Billie Jean Tahun 1983 yang memadukan gerakan khas Moonwalk menjadi tarian fenomenalnya. Ia telah menghidupkan kembali bisnis industri musik dengan penjualan album-albumnya yang laris saat itu.
Michael juga dikenal aktif berdonasi kepada orang-orang yang sakit serta menunjukkan kepedulian tinggi terhadap korban bencana alam dan berbagai bentuk ketidakadilan. Ia kerap menghibur anak-anak yang menderita penyakit serius dengan memberikan boneka. Kebiasaan itu berkaitan dengan kegemarannya sejak kecil mengoleksi boneka binatang dan cenderamata tokoh kartun.
Selain itu, ia memelihara beragam hewan, mulai dari simpanse, unta, gajah, ular, hingga berbagai satwa eksotis lainnya. Berbagai koleksi dan kegemaran tersebut menjadi pelipur kesepian yang telah dirasakannya sejak kecil. Sejak usia dini, sebagian besar waktunya dihabiskan untuk berlatih bernyanyi bersama ayahnya sehingga ia hampir tidak memiliki kesempatan bermain dengan teman-teman sebayanya.
Dibalik kejayaan itu ada beberapa hal yang secara langsung menjadi sorotan publik mengenai kontrovesi tentang kondisi fisik akibat penyakit dan kecelakaan yang menimpanya, ketidakharmonisan hubungan dengan keluarganya, serta berjuang untuk kondisi psikisnya. Michael telah lama mengidap penyakit vitiligo yang membuat pigmen kulitnya berbelang, adanya keinginan untuk melakukan operasi plastik hingga merubah seluruh bentuk tubuhnya menjadi perbincangan yang ramai dibahas.
Film ini menyajikan perjalanan hidup dan karier Michael Jackson secara kronologis, mulai dari masa kecil hingga mencapai puncak ketenarannya. Alur cerita yang dibangun mampu membawa penonton mengikuti berbagai fase penting dalam kehidupan sang musisi.
Kehadiran Jaafar Jackson, keponakan kandung Michael Jackson, sebagai pemeran utama turut memperkuat kesan autentik berkat kemiripan fisik dan gesturnya dengan sang legenda. Penampilan tersebut membantu penonton memperoleh gambaran yang lebih dekat mengenai sosok Michael Jackson di atas maupun di luar panggung.
Namun, film ini juga menuai kritik karena belum merangkum seluruh perjalanan hidup Michael Jackson, terutama sisi kehidupan pribadinya setelah masa kejayaannya. Alur cerita lebih berfokus pada perjalanan karier sehingga sejumlah peristiwa penting yang banyak dinantikan penonton belum ditampilkan. Di akhir film, muncul informasi bahwa kisah Michael akan berlanjut pada bagian berikutnya, hal ini membuat alurnya terasa menggantung bagi sebagian penonton.
Film ditutup ketika Michael masih berada di puncak kejayaannya, bertepatan dengan berakhirnya era The Jackson 5. Penonton pun harus menantikan sekuel untuk menyaksikan fase-fase penting berikutnya, termasuk berbagai peristiwa yang membentuk akhir perjalanan hidup sang legenda.



