BOPM Wacana

Film Jangan Buang Ibu: Sebuah Pengingat akan Kehadiran yang Sering Terlupakan

Dark Mode | Moda Gelap
Salah satu adegan dalam film Jangan Buang Ibu. | Sumber Istimewa
Salah satu adegan dalam film Jangan Buang Ibu. | Sumber Istimewa

Oleh: Putri Salwa Assyifa

Judul Jangan Buang Ibu
Sutradara Hadrah Daeng Ratu
Pemeran Nirina Zubir, Refal Hady, Amanda Manopo, Saputra Kori, Basmalah Gralind, Dwi Sasono,

Fadly Faisal, Erika Carlina, Saskia Chadwick Nunung, Ingrid Widjanarko,

Mpok Atiek, Dewi Pakis, Diaz Ardiawan, Mira Desiana

Rilis 25 Juni 2026
Durasi 119 menit
Genre Drama
Tersedia di Cinema XXI, Cinepolis, CGV, Platinum Cineplex

“Keluarga itu artinya keluar dari raga. Jadi, waktu anak kita lahir, yang keluar dari raga ibunya. Waktu anak kita menikah, artinya keluar dari rumah keluarganya. Tapi rumah ibu ini akan selalu terbuka untuk Tria, Tama, dan Dewi.”

Kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa rumah seorang ibu selalu menjadi tempat pulang, seberapa jauh pun anak-anak melangkah. Melalui Jangan Buang Ibu, sutradara Hadrah Daeng Ratu menghadirkan drama keluarga yang tidak hanya menguras emosi, tetapi juga mengajak penonton merefleksikan makna kehadiran, tanggung jawab, dan kasih sayang dalam sebuah keluarga.

Film ini berpusat pada kehidupan seorang ibu yang membesarkan anak-anaknya di tengah absennya sosok ayah. Namun, film ini tidak sekadar bercerita tentang perjuangan seorang ibu, melainkan memperlihatkan bagaimana kehilangan figur ayah dapat meninggalkan luka yang berbeda pada setiap anggota keluarga.

Salah satu adegan dalam film Jangan Buang Ibu. | Sumber Istimewa
Salah satu adegan dalam film Jangan Buang Ibu. | Sumber Istimewa

Tama tumbuh sebagai anak sulung yang dipaksa menjadi sosok ayah bagi adik-adiknya sejak usia muda. Dewi menyimpan luka karena harus menjalani momen penting dalam hidup tanpa kehadiran ayah yang seharusnya bertanggung jawab.

Sementara itu, Tria memperlihatkan bagaimana kurangnya kasih sayang seorang ayah dapat memengaruhi perilaku seorang anak. Ketiga karakter ini menunjukkan bahwa ketidakhadiran orang tua tidak hanya meninggalkan kekosongan, tetapi juga membentuk cara seseorang tumbuh dan memandang kehidupan.

Salah satu dialog yang paling kuat dalam film ini berbunyi, “Lelaki yang baik adalah lelaki yang tidak meninggalkan keluarganya.” Kalimat sederhana tersebut menjadi kritik terhadap sosok ayah yang hadir hanya ketika membutuhkan sesuatu, sekaligus menegaskan bahwa menjadi ayah bukan sekadar memiliki status, melainkan menjalankan tanggung jawab.

Meski mengangkat konflik keluarga yang berat, film ini tidak hanya berbicara tentang rasa sakit. Jangan Buang Ibu juga menunjukkan besarnya hati seorang ibu yang selalu berusaha menjadi tempat pulang bagi anak-anaknya, bahkan ketika dirinya sendiri menyimpan begitu banyak luka.

Kasih Ibu Tidak Mengenal Batas

Salah satu adegan dalam film Jangan Buang Ibu. | Sumber Istimewa
Salah satu adegan dalam film Jangan Buang Ibu. | Sumber Istimewa

Sosok ibu dalam Jangan Buang Ibu digambarkan sebagai pribadi yang selalu berusaha menjadi tempat pulang bagi anak-anaknya. Di tengah berbagai cobaan dan kekecewaan yang harus dihadapi, ia tetap memilih bertahan, mengayomi, dan menjaga keutuhan keluarga semampunya. Film ini memperlihatkan bahwa kasih seorang ibu tidak diukur dari apa yang ia miliki, melainkan dari ketulusan hati untuk terus mencintai dan menerima keluarganya.

Kasih sayang yang ditunjukkan bukan berarti kelemahan, melainkan wujud pengorbanan seorang ibu yang rela mengesampingkan kepentingan dirinya demi orang-orang yang dicintainya. Rumah yang ia bangun bukan hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga menjadi ruang aman yang selalu terbuka bagi anak-anaknya untuk kembali kapan pun mereka membutuhkan.

Melalui penggambaran tersebut, film ini mengajak penonton untuk menyadari bahwa kasih seorang ibu sering kali hadir tanpa mengharapkan balasan. Namun, ketulusan itu bukan alasan untuk terus dianggap biasa. Justru selama ibu masih ada, anak-anak memiliki tanggung jawab untuk menghargai setiap pengorbanannya dengan memberikan perhatian, meluangkan waktu, dan memastikan bahwa ia tidak merasa berjuang sendirian. 

Jangan Menunda untuk Pulang dan Meluangkan Waktu

Pesan yang paling kuat dalam Jangan Buang Ibu adalah pentingnya meluangkan waktu untuk orang tua selagi masih ada kesempatan. Kesibukan pekerjaan, keluarga, atau urusan pribadi sering kali membuat kita menunda untuk pulang atau sekadar menghubungi mereka dengan alasan “nanti”. Padahal, tidak ada yang tahu kapan kesempatan itu akan berakhir.

Film ini mengingatkan bahwa orang tua tidak selalu mengharapkan hadiah atau materi. Kehadiran, perhatian, dan waktu yang dihabiskan bersama sering kali menjadi hal yang paling mereka nantikan. Pesan tersebut semakin terasa melalui harapan sederhana sang ibu, “Ibu berharap kalau ibu nggak ada, kalian tetap bisa ketemu satu sama lain.” 

Pada akhirnya, Jangan Buang Ibu mengajarkan bahwa kesibukan sering kali membuat seseorang menunda bertemu orang tua dengan alasan masih ada hari esok. Padahal, waktu tidak pernah bisa dipastikan. Sebelum penyesalan datang, mungkin yang paling dibutuhkan bukanlah hadiah besar, melainkan waktu dan kehadiran untuk pulang.

Komentar Facebook Anda

Putri Salwa Assyifa

Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Kesehatan Masyarakat FKM USU Stambuk 2023. Saat ini Salwa menjabat sebagai Staf Multimedia BOPM Wacana.

Pentingnya Mempersiapkan CV Bagi Mahasiswa | Podcast Wacana #Eps4

AYO DUKUNG BOPM WACANA!

 

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan media yang dikelola secara mandiri oleh mahasiswa USU.
Mari dukung independensi Pers Mahasiswa dengan berdonasi melalui cara pindai/tekan kode QR di atas!

*Mulai dengan minimal Rp10 ribu, Kamu telah berkontribusi pada gerakan kemandirian Pers Mahasiswa.

*Sekilas tentang BOPM Wacana dapat Kamu lihat pada laman "Tentang Kami" di situs ini.

*Seluruh donasi akan dimanfaatkan guna menunjang kerja-kerja jurnalisme publik BOPM Wacana.

#PersMahasiswaBukanHumasKampus