BOPM Wacana

Esensi Puasa

Dark Mode | Moda Gelap

Tidak terasa Ramadhan kali ini akan telah melewati usia pertengahan. Bangun sahur, beraktifitas sepanjang hari, dan berbuka menjadi skema normal dalam berpuasa. Kita ingin dimanjakan, di hormati dan bermalas-malasan kala sedang berpuasa. Namun, pernahkah kita bertanya tentang esensi dari puasa itu sendiri? Puasa bukan sekedar rutinitas.

Dalam Al-Quran sendiri ada dua nama dalam penyebutan istilah puasa. Pertama, “shiyam“; kutiba alaykumush shiyam. Kedua, “shaum“; inni nazartu lirrahmanish shauma. Shaum dan shiyam berasal dari akar kata yang sama, yaitu: menahan diri. Kata shaum yang kedua ini adalah puasa yang dilkukan Maryam ketika mengandung Nabi Isa. Kala itu banyak penduduk yang menuduh bukan-bukan perihal kehamilannya secara tiba-tiba. Akkhirnya Maryam memilih berpuasa (menahan diri) untuk berbicara kepada siapapun sepanjang hari.

Sedangkan kata pertama yang disebutkan dalam Al-Quran adalah perintah Allah SWT kepada setiap muslim yang beriman untuk menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkannya mulai terbit fajar hingga matahari terbenam. Puasa inilah yang kita lakukan sepanjang Ramadhan.

Orang melakukan puasa dengan beragam alasan. Ada orang yang berpuasa (tidak makan tidak minum) hanya bertujuan untuk menguruskan badan. Ada juga yang sekedar ikut-ikutan karena merasa tidak enak terhadap orang terdekatnya berpuasa. Belum lagi berpuasa dengan alasan untuk menghemat pengeluaran. Bukan puasa seperti ini yang dianjurkan oleh Allah SWT. Melainkan puasa yang dilakukan secara ikhlas dengan semata-mata ingin menambahkan katakwaan kepada Allah SWT. Puasa yang di maksud adalah menahan diri dari segala sesuatu yang tidak baik. Bukan hanya yang membatalkan puasa saja, melainkan menyangkut dengan rutinitas yang tidak bermanfaat. Seperti main catur, main batu, mengunjing, mengupat, berbohong dan sebagainya.

Jauh-jauh hari Nabi Muhammad SAW sudah mengingatkan bahwa “Ramai orang berpuasa namun hanya mendapatkan lapar dan dahaga.” Salah satu sebabnya, karena manusia memang hanya sanggup mempuasakan jasmaninya, perut, mulut, kerongkongan dan organ seks, tapi tidak dengan pikiran, jiwa, dan hatinya. Hasilnya bisa ditebak: lapar dan dahaga yang diperoleh dari puasa tidak berbekas pada perilaku (akhlak) bahkan pada saat ketika puasa itu sedang ditunaikan.

Esensi Puasa

Berbicara tentang esensi, tentunya juga menyangkut dengan kadar ibadah yang kita lakukan. Allah mengajarkan kita dua hal dalam berpuasa. Yaitu untuk mengerti benar tentang bagaimana seharusnya kita berhubungan dengan-Nya Allah dan dengan manusia selaku makhluk sosial.

Allah menjanjikan Ramadhan ini merupakan bulan yang pernuh berkah. Allah akan melipatgandakan nilai dari suatu perbutan yang kita lakukan. Pun demikian, bukan iming-iming pahala berlipat ganda yang menjadi alasan kita melakukan ibadah tersebut. Melainkan rasa cintanya kita kepada Illahi Rabbi sebagai makhluk yang bertakwa.

Dalam ayat yang memerintahkan kita untuk berpuasa, jelas-jelas Allah menyebutkan “la allakum tattaqun” yang artinya, agar kamu bertakwa. Sehingga dapatlah dikatakan, bahwa tujuan puasa itu adalah agar kita bertakwa.

Selain mengajarkan tentang kecintaan untuk terus menjadi hamba yang bertakwa, Allah juga mengajarkan kita berhubungan baik dengan manusias. Karena, seorang hamba yang bertakwa adalah manusia yang hubungan vertikal dan horizontalnya baik. Jika kita tilik, cukup banyak alasan Allah menyuruh kita sebulan penuh ini untuk berpuasa. Pertama, belajar mengasihi antar sesama. Kedua, belajar mensyukuri nikmat Allah. Ketika, belajar untuk melihat ke bawah dalam urusan duniawi dan melihat ke atas dalam urusan ukhrawi.

Cukup banyak kita lihat orang yang sedang berpuasa minta dimanjakan. Minta di hormati. Jelas-jelas mengeluarkan peraturan tidak ada yang boleh makan minum siang hari secara terang-terangan. Jam buka warung makanan juga diatur sedemikian rupa. Oke, kalau masalah ini terjadi di Aceh yang memang lazimnya mayoritas muslim. Hal ini dikhususkan untuk menghindari ummat Islam yang tidak berpuasa. Bukan ingin dimanjakan. Lantas bagaimana dengan yang di luar Aceh? Saya pikir akan sulit jika diberlakukan hal yang sama.

Mengenai masalah ini, saya ingin mengajak pembaca untuk benar-benar memahami esensi dari puasa itu sendiri. Mungkin kita dapat belajar dari contoh kasus berikut. Kita sedang berpuasa, kemudian melihat orang makan minum di depan kita. Kemudian, kita marah-marah karena merasa tidak dihormati. Yang jadi pertanyaannya, bukankah kita berpuasa juga ingin melatih diri? Melatih diri untuk menahan godaan yang tidak baik? Kalau kita hanya berpuasa dengan lingkungan baik saja, kapan kita bisa melatih diri dari cobaan tersebut? Anggap saja orang yang makan minum di depan kita tadi adalah salah satu cobaan.

Puasa juga bukan ajang malas-malasan. “Aku kan lagi puasa, tidak boleh banyak aktifitas.“ Sering kali kali semacam itu keluar dari kita yang sedang puasa. Sadar atau tidak, kita telah menjadikan puasa sebagai kambing hitam atas kemalasan kita. Lupakah kita tentang mereka yang kepalaparan namun harus beraktifitas berat sepanjang tahun?

Melalui tulisan ini saya berharap kita benar-benar menjadikan ibadah puasa di Bulan Ramadhan kali ini sebagai media untuk memperbaiki diri. Sebagai media untuk mengamalkan kata sabar, peka terhadap sesama, ikhlas dalam beribadah dan yang paling penting adalah sebagai refleksi diri kita dari tahun-tahun sebelumnya untuk terus lebik baik.

Penulis adalah Mahasiswa Teknologi Informasi USU 2009. Penulis juga aktif sebagai Redaktur Online di Pers Mahasiswa Kampus.

Komentar Facebook Anda

Redaksi

Badan Otonom Pers Mahasiswa (BOPM) Wacana merupakan pers mahasiswa yang berdiri di luar kampus dan dikelola secara mandiri oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).